Sore yang begitu indah, hembusan angin yang begitu
bersahabat. Dua cangkir kopi dan beberapa cemilan yang menjadi pelengkap cerita
menuju senja. Senja tak pernah habis dengan cerita di dalamnya. Begitupun sore
ini. Dua insan nampak duduk saling membelakangi satu sama lain. Bersandar pada
sebuah pohon besar yang meneduhkan siapapun yang berada di bawahnya.
B: “Le.. bisakah kamu menceritakan padaku tentang
satu hal?”
A: “Cerita? Tentang apa?”
B: “Tentang hubunganmu dengannya, anggaplah aku
abangmu Le, kamu
boleh menceritakan apapun dan bertanya pendapatku
tentangnya, pendapat seorang abang terhadap seorang lelaki yang akan
mendampingi adik terkasihnya ini.”
A: “Menarik !! Hanya saja aku tidak tau harus
cerita apa jika tidak di tanya”
(Tawa renyah menjadi pelengkap jawaban)
B: “Baiklah, jika begitu maka jawab pertanyaan
abang ya dek.. Apa kamu
mencintainya?”
A: “Ya, aku mencintainya bang.”
B: “Apakah dia juga mencintaimu?”
A: “Ku rasa iya”
B: “Kamu meragukannya?”
A: “Sedikit dan sesekali..!”
B: “Bagaimana dia memperlakukanmu?”
A: “Hmmm...”
B: “Hmmm? Apa itu artinya hmm?? Hahaha sebelum
kamu menjawab lagi,
bolehkah abang mengeluarkan pandangan abang buat
dia?”
A: “Boleh sok
aja !!”
B: “Dek, abang ini lelaki dan abang sedikitnya tau
bagaimana lelaki itu. Dia
serius sama kamu dek, dia cinta dan sayang sama
kamu, hanya saja perlakuannya berbeda. Dia memiliki pemikiran yang matang
tentang masa depanmu dan dia. Itu yang tidak abang miliki dek, dia punya
pergerakan yang cepat dan tepat. Tepat karena dia datang dan langsung bisa
mengambil hatimu dengan caranya dek, abang bisa merasakan itu. Abang tau ketika
hati kamu telah dia dapatkan, abang emang masih bisa sama kamu, bisa jalan,
makan, bercanda tapi abang enggak pernah lagi milikin hati kamu, saat bersama
abang bahkan di saat sekarang ini yang ada di pikiranmu Cuma dia, kamu menunggu
kabar dari dia. Kamu benar-benar jatuh cinta sama dia, banyak yang ingin kamu
sampaikan banyak yang ingin kamu tuntut, tapi kamu tidak bisa. Kamu memilih
diam dan menerima apapun yang dia lakukan, karena kamu menerima dia apa adanya.
Dek, percayalah dia juga tidak diam begitu saja dengan keadaan seperti ini, dia
sedang memperjuangkanmu, sesekali abang juga takut dek. Takut jika dia hanya
besar omong saja dan tidak benar-benar serius denganmu, abang tidak mau melihat
kamu terluka dan menangis karenanya.”
(A nampak diam, raut mukanya berubah sendu dan dua
bulir bening keluar dari mata indahnya)
B: “Dek, hari ini abang melihatmu begitu tertekan
dan sangat emosi,
katakan padaku dek apa yang telah dia lakukan
padamu? Apa yang telah dia ambil darimu dek? Aku bisa merasakan itu saat kamu
menggenggam tanganku begitu keras tadi, emosimu sangat tinggi dek tidak seperti
biasanya, bahkan kau begitu histeris menangis, namun kau juga tidak mengatakan
apa-apa. Katakan padaku dek, ada apa sebenarnya? Apa hubungan kalian baik-baik
saja? Apa dia benar-benar telah seperti yang aku pikirkan dek? Jika iya maka
kejar dia, kejar dia dan dapatkan dia. Jangan biarkan dia lolos dan pergi
begitu saja. Bagaimana dengan keluarganya dan keluargamu, apakah keduanya sudah
mengetahui hubungan ini?”
A: “Bang, aku mengerti maksud abang kemana.
Sebelumnya aku minta
maaf jika lancang mengatakan ini terlebih jika
terkesan so tau. Tapi jangan potong ucapanku bang, berikan aku kesempatan untuk
jujur dan menyelesaikan semua ini denganmu. Sebelumnya kau pernah berjanji
tidak akan meninggalkanku jika aku jujur tentang hubunganku dengannya, dan
sekarang kau memintaku menceritakan nya kembali. Baiklah akan kuceritakan hal
yang sepertinya ingin kamu dengar. Bang, Hubunganku dan dia baik-baik saja, dan
wajar jika ada sedikit cekcok atau apapun. Jika ada yang dia ambil dariku, dia
mengambil hatiku bang. Hati yang selama ini kau incar juga, kau benar bahkan
sekarangpun aku memikirkannya, aku menunggu kabar darinya, aku menunggu sapaan
dan salam hangat darinya. Aku dan dia jauh berbeda saat aku denganmu, aku belum
sekalipun bermain dan bermanja ria dengan orangtua bahkan keluarganya. Dia
bahkan tidak kuat berjam-jam untuk berada dirumahku atau bahkan duduk bercerita
bersamaku, kami dekat sangat dekat, namun terasa jauh dan berbeda. Perbedaan
itu yang membuatku bertahan bang, karena hatiku juga telah ditawan olehnya.
Akupun wanita biasa bang, menginginkan dia ada untukku, sekedar berbagi cerita
hingga senja usai, atau hingga mentari kembali terbit dipagi hari. Dia tidak
ada di saat aku membutuhkannya, jika aku egois maka aku sudah jauh hari
meninggalkannya. Namun aku memiliki pendapat lain, aku adalah anak yang dididik
untuk bisa segala sesuatu sendiri sampai pada akhirnya aku benar-benar tidak
bisa. Dan dia mendidikku dengan cara seperti itu. Dia seperti ayahku. Diam dan
hanya menghardik, menentang apa yang aku suka dan aku mau. Aku belajar setiap
kali dari apapun yang menimpaku langsung maupun tidak langsung, aku menilai
semua hal dari berbagai sudut pandang. Hingga akhirnya kusimpulkan bahwa apa
yang di inginkan hati bertentangan dengan logika. Jika secara logika aku harus
meninggalkannya, meninggalkan dia yang bahkan tidak bertanya bagiamana
perasaanku, bagaimana kabarku hari ini? Apa yang telah aku lewatkan,
mendengarkan cerita dan keluh kesahku, memberikan rasa aman dan di cintai. Dia
tidak ada. Aku bersamanya seperti terpisah benua, terpisah waktu yang berbeda.
Malamku menjadi pagi baginya, dan pagiku adalah malam baginya. Waktu kami tidak
bisa bersatu terkecuali salah satu diantara kami harus merelakan untuk terjaga
sepanjang hari. Jika sudah begitu, maka barulah kami bisa berkomunikasi
bertukar cerita, berbagi suka dan tangis bersama. Hidup ini keras bang, mungkin
menurutmu pekerjaan dia hanyalah menyulitkan dirinya dan masih banyak pekerjaan
yang mudah di temui dan dikerjakan. Tapi bang, bukankah tidak semua burung
dapat terbang? Bang, maafkan aku tidak memilihmu meskipun kamu seratus kali
lebih baik dari dirinya, kamu bersedia mati dan melakukan apapun untuk
membahagiakanku, bahkan menyatakan akan meminangku, bersedia bagaimana
keadaanku, sekalipun jika aku sudah di kotori olehnya. Bang, aku dan dia masih
bisa menjaga diri. Kami tau batasam, bahkan apa yang bisa kami lakukan dengan
keadaan seperti ini? Bang, aku tau kamu khawatir, aku tau kamu takut aku hilang
dan semakin hilang, aku tidak kemana-mana aku ada. Aku menjaga perasaanku,
perasaanmu dan perasaannya. Aku menangis histeris dan seperti itu, itu diluar
kendaliku bang, aku sudah berusaha mengendalikan itu dan hasilnya bisa abang
lihat sendiri. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu bang, hanya saja
aku tidak tau apa dan darimana aku memulainya...”
B: “Dek, jangan sungkan bercerita apapun sama
abang, termasuk soal dia,
abang engga bakal ninggalin adek jadi jangan takut
dan sungkan ya dek, bahkan jika adek pernah ngelakuin hal yang tidak sepatutnya
adek lakuin sama dia abang siap nerima adek. Abang sayang sama adek. Maaf abang
lancang dek.”
Seutas Tali
Reviewed by Silva_
on
5:47:00 pm
Rating:
Reviewed by Silva_
on
5:47:00 pm
Rating:

No comments:
Post a Comment