Untukmu yang aku kasihi.

Waktu berjalan begitu cepat, perjalanan kisah kita tak kunjung ada pada titik temu.
Entah kesalahanku yang terlalu melambungkan harap, entah memang sejatinya dirimu yang tak dapat diharapkan.
Disaat orang diluar sana memakimu, aku orang kedua setelah ibu bapakmu yang membelamu.
Disaat orang diluar sana menolak keberadaanmu, aku tetap mempertahankan dan bersikukuh untuk kehadiranmu.
Namun, disaat kamu sendiri menunjukkan semua hal negatif yang orang selalu katakan, disitu aku mengalami pergolakan.
Telah ku coba menyampaikan segala sesuatunya, namun memang dasar aku hanyalah orang bodoh, apa yang kusampaikan tidak pernah tersampaikan dengan baik kepadamu, terang saja itu membuatku terluka. Terlebih dengan profesiku, jika padamu saja tidak bisa tersampaikan dan dimengerti meski telah berkali-kali lantas bagaimana dengan mereka yang setiap hari bertemu dan berkomunikasi denganku?
Kamu tahu? Terkadang tidak menampik aku merindukan mereka yang pernah ada untukku. Merindukan kelembutan hati dan semua hal baik yang pernah terjadi.
Mereka yang pernah ada yang terbaik dan yang aku tinggalkan agar dapat bersamamu.
Kali ini, aku mulai lelah dengan semuanya. Berkali-kali aku sampaikan permintaan untukmu merelakan ku mengakhiri hubungan ini.
Bukan karena mu, namun karenaku.
Karenaku yang sudah tidak tau harus bagaimana. Karenaku yang sudah lelah mencoba dan karenaku yang dari awal mencintaimu.
Sepertinya memang kali ini aku benar-benar harus melepasmu. Membiarkanmu bertemu dengan seseorang yang tepat untukmu. Seseorang yang terbaik dan lebih baik dariku. Seseorang yang jelas ditakdirkan untuk bersamamu.
Katamu, aku adalah jodohmu. Janjimu kau akan membuatku tersenyum setiap hari.
Sesuai janjimu, setiap hari aku tersenyum, namun sayang senyuman itu terkadang bukan karena ulahmu.
Suatu hubungan memang seharusnya berbeda dan tidak memiliki banyak kesamaan agar tercipta suatu rasa pengertian dan saling melengkapi. Jika kita sama maka apa yang akan jadi pembaharuan?
Kasih..
Jika kali ini aku melepasmu, berbahagialah.
Jemput impianmu.
Aku pun akan berbahagia dengan impianku.
Aku memang tidak mengetahui siapa kamu dann bagaimana kepribadianmu. Kuharap kamu bisa terima dengan keputusan yang aku ambil.
Ini  bukan hanya untukku, namun juga untukmu.
Terimakasih untuk  setiap waktu yang terlewati.
Pada akhirnya perpisahan tetaplah terjadi, entah karena hal sepele ataupun karena maut.
Aku tidak mengharapkan kesempurnaan. Aku hanya menginginkan seorang teman. Teman berbagi suka duka dan teman untuk bersama menggantungkan harapan.
Namun, selebihnya kamu tidak ada disaat aku benar-benar membutuhkan.
Aku maklumi, karena pada dasarnya hanya aku yang mengasihimu sehingga tidak heran jika hasilnya seperti ini.
Selamat tinggal kasih.

Semoga kebaikan selalu menyelimuti kita.
Reviewed by Silva_ on 11:56:00 am Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.