Terlalu banyak kata yang ingin keluar.
Begitu banyak, hingga aku sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.
Aku sadar ada sesuatu yang berubah.
Ini tubuhku.
Ini pikiranku.
Tetapi ada bagian dari diriku yang terus memberontak, terus mengetuk dari dalam, seolah memaksa untuk keluar.
Dan aku takut.
Takut jika bagian itu adalah sesuatu yang selama ini susah payah kusegel.
Takut jika ia kembali menghancurkan semua yang telah kubangun.
Siapa sebenarnya kamu?
Diriku yang lain?
Atau hanya luka lama yang menolak pergi?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu, akhir-akhir ini semua kenangan yang pernah menyakitiku datang bergantian.
Begitu jelas.
Begitu hidup.
Seolah waktu tidak pernah benar-benar berlalu.
Aku melihatnya lagi.
Merasakannya lagi.
Mendengar semua suaranya lagi.
Padahal aku sudah memaafkan.
Aku sudah menerima.
Lalu mengapa semuanya masih datang?
Apakah luka memang tidak bisa sembuh?
Atau aku yang belum benar-benar belajar melepaskan?
Kewaspadaanku meningkat.
Hatiku mudah terusik.
Segalanya terasa sensitif.
Aku takut.
Bukan kepada orang lain.
Aku takut kepada diriku sendiri.
Aku takut kehilangan kendali.
Aku takut menyakiti orang-orang yang paling kucintai.
Lalu aku memilih duduk diam.
Untuk pertama kalinya, aku tidak berbicara kepada siapa pun.
Aku berbicara kepada diriku sendiri.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan?"
"Apa yang membuatmu terus berteriak?"
"Apa yang sedang kamu cari?"
Tidak ada jawaban.
Hanya sesak yang semakin memenuhi dada.
Lalu perlahan aku berkata lagi.
"Sudahlah..."
"Aku sudah memaafkan mereka."
"Aku menerima semuanya."
"Tidak ada satu pun yang bisa kita ubah dari masa lalu."
"Menangislah jika memang ingin menangis."
"Marahlah jika memang harus marah."
"Tetapi biarkan semuanya selesai di dalam tubuh ini."
"Jangan biarkan luka yang kita terima berubah menjadi luka untuk orang lain."
Aku ingin memeluk diriku sendiri.
Bagian yang selama ini hanya dikenal sebagai amarah.
Padahal sebenarnya ia hanyalah seseorang yang terlalu lama menahan sakit.
"Tenang..."
"Kita pernah melewati semuanya."
"Kali ini pun kita akan melewatinya lagi."
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Kita pulang bersama."
Aku tidak tahu kapan semua ini akan benar-benar berakhir.
Namun jika suatu hari nanti aku membaca tulisan ini kembali, semoga aku bisa tersenyum.
Semoga aku bisa berkata kepada perempuan yang menulisnya,
"Terima kasih sudah bertahan."
"Lihatlah..."
"Kita akhirnya baik-baik saja."
Reviewed by Silva_
on
5:32:00 pm
Rating:

No comments:
Post a Comment