"Maafkanlah semua hal yang menyakitimu.
Kamu tidak rusak. Kamu sedang pulih."
Ada masa ketika aku begitu yakin ada sesuatu yang salah dengan diriku.
Aku bertanya-tanya, mengapa kenangan yang telah lama berlalu masih mampu membuat dadaku sesak.
Mengapa tubuhku bereaksi begitu hebat terhadap sesuatu yang bahkan sudah tidak lagi terjadi.
Mengapa aku begitu mudah lelah, begitu mudah marah, lalu diam-diam menangis karena merasa bersalah.
Saat itu aku benar-benar percaya bahwa aku telah rusak.
Aku menyalahkan diriku sendiri atas setiap emosi yang datang.
Atas setiap ketakutan yang muncul tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
Aku ingin segera sembuh, ingin kembali menjadi diriku yang dulu.
Namun semakin keras aku melawan, semakin berat semuanya terasa.
Sampai akhirnya aku berhenti sejenak.
Aku mulai mendengarkan tubuhku, bukan memaksanya.
Aku mulai menerima bahwa mungkin selama ini bukan aku yang rusak.
Aku hanya sedang berusaha pulih.
Pulih ternyata bukan tentang melupakan.
Bukan pula tentang menghapus semua luka hingga tidak meninggalkan bekas sedikit pun.
Pulih adalah ketika kita mampu mengingat tanpa kembali tenggelam.
Pulih adalah ketika air mata tidak lagi terasa sebagai kekalahan, melainkan bagian dari proses menjadi lebih utuh.
Perjalanan itu tidak selalu indah.
Ada hari ketika aku merasa sudah sangat kuat.
Aku bisa tertawa, bekerja, mengurus keluarga, menjalani hari seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Lalu keesokan harinya, satu kenangan kecil mampu mengacaukan semuanya.
Dulu aku menganggap itu sebagai kegagalan.
Hari ini aku tahu, itu hanyalah cara tubuh mengingat bahwa ia pernah berjuang begitu keras untuk bertahan.
Aku belajar bahwa sembuh tidak pernah berjalan lurus.
Kadang kita melangkah.
Kadang kita berhenti.
Kadang kita merasa kembali ke titik awal.
Padahal sebenarnya tidak.
Kita hanya sedang melihat luka yang sama dari sudut pandang yang berbeda.
Aku juga mulai memaafkan diriku sendiri.
Memaafkan semua keputusan yang pernah kusesali.
Memaafkan rasa takut yang pernah membuatku kehilangan arah.
Memaafkan diriku yang dulu, karena ia hanya mampu bertahan dengan cara yang ia ketahui saat itu.
Bukankah kita semua memang sedang belajar?
Belajar menjadi lebih sabar.
Belajar menerima.
Belajar bahwa tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban.
Hari ini aku tidak lagi ingin menjadi seseorang yang terlihat kuat setiap saat.
Aku hanya ingin menjadi seseorang yang jujur kepada dirinya sendiri.
Jika hari ini aku lelah, aku akan beristirahat.
Jika hari ini aku menangis, aku akan membiarkan air mata itu jatuh.
Jika hari ini aku bahagia, aku akan mensyukurinya tanpa takut kebahagiaan itu akan pergi.
Aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri.
Aku memilih menjadi rumah bagi diriku sendiri.
Dan mungkin, itulah arti pulang yang sesungguhnya.
Bukan kembali ke tempat tertentu.
Melainkan kembali kepada hati yang akhirnya mau menerima dirinya apa adanya.
Jika suatu hari nanti kenangan itu datang lagi, aku tidak akan lagi mengusirnya.
Aku akan mempersilahkannya duduk sebentar.
Lalu berkata dengan tenang,
"Terima kasih. Aku tahu kamu pernah menjadi bagian dari perjalanan ini. Tetapi sekarang, izinkan aku melanjutkan hidupku."
Karena pada akhirnya, aku mengerti...
Tidak semua luka harus hilang agar kita bisa bahagia.
Tidak semua kenangan harus dilupakan agar kita bisa melangkah.
Ada luka yang akan tetap tinggal sebagai pengingat bahwa kita pernah bertahan.
Ada bekas yang akan selalu ada sebagai bukti bahwa kita pernah sembuh.
Hari ini aku masih berjalan.
Masih belajar.
Masih bertumbuh.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Sebab ternyata, pulang bukanlah tentang menemukan tempat yang sempurna.
Pulang adalah ketika aku akhirnya bisa memeluk diriku sendiri, lalu berkata,
"Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja. Kita pulang." 🤍
Reviewed by okta's pages
on
11:25:00 pm
Rating:

No comments:
Post a Comment