Diary Depresi

Setiap insan menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya, entah itu dalam bentuk seperti apa, dengan cara yang bagaimana, dengan siapa dan dimanapun keberadaannya. Bahagia itu sederhana sangat sederhana namun sulit dirasakan abadi bahkan kebahagiaan terbilang terlupakan atau dengan istilah lain bahwa kebahagiaan itu semu. Akupun termasuk salah satu insan yang menginginkan kebahagiaan dan layaknya insan pada umumnya pastilah kerap mendapatkan kebahagiaan namun semu, terlebih banyak duka yang terasa sekalipun jika dipikir kembali pada akhirnya setelah duka itu terlewati akan ada senyuman yang sangat indah tersungging. Satu masa sulit telah terlewati, satu kebahagiaan datang bersamaan dengan satu demi satu masa sulit yang akan terus selalu mengiringi. Sedikit kubagikan sepenggal kisah mengenai masa sulit yang membutuhkan waktu lama untuk ku bisa bangkit dari semua itu dan memberikan sesungging senyum yang benar-benar indah tanpa ada lamunan sakit diakhir cerita.

Namaku Silva Oktavianti, saat ini usiaku 19 tahun. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Kehidupanku biasa saja layaknya remaja seusiaku. Sepenggal kisah yang akan kuceritakan disini adalah dimana usiaku sedang akan menginjak  17 tahun. Saat itu adalah masa-masa paling menyenangkan seharusnya. Masa-masa kelas tiga SMA yang dimana seperti remaja lainnya merasakan kegembiraan menjelang detik-detik terakhir menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas. Namun sayang semua itu tidak berlaku bagiku. Dan ini kisahku ...

Kembali kemasa itu, masa dimana aku terlibat dalam sebuah organisasi dimana aku memiliki tanggungjawab selaku Ketua dimana beban yang pikul cukup berat karena tak banyak pengalaman, keahlian bahkan yang memberikan arahan dalam tampuk kepemimpinan. Banyak hal yang telah disepakati, dirancang dan diprogramkan namun pada akhirnya di intimidasi. Hingga telah ditetapkan bahwa pada tanggal 26 Februari 2012 diadakan acara pelantikan. Pemberian pembelajaran dengan cara bermain, bertujuan menanamkan karakter kepada peserta termasuk panitia juga dalam hal kedisiplinan dan banyak hal lainnya. Seperti biasa program yang sudah terencana dan diatur sedemikian hingga sampai mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan materi dari berbagai pihak terkait dirubah begitu saja. Acara berantakan namun tetap bisa diatasi sekalipun dalam pelaksanaannya sesuai kubu dan tidak menghargai posisi aku sama sekali selaku pimpinan. Sampai program yang paling patal dirubah saat acara jurit malam. Seseorang telah mengubah alur perjalanan. Sebut saja namanya DS dan disinilah malapetaka itu dimulai. Rute yang dilalui adalah rute yang jarang dilewati manusia. Rute yang masih terbilang bersih. Yang pada akhirnya menyebabkan petaka besar. Percaya atau tidak ada mahluk lain yang terganggu selain manusia. 7 orang panitia termasuk aku didalamnya. amat sangat merasa terbebani terlebih binaan yang aku pegang anak-anak tingkap SLTP kelas VII. Kesurupan, kesakitan , jeritan terus berlangsung selama 3 bulan lamanya. Beban yang sangat berat. Apalagi saat itu sedang dan akan menghadapi UN. Belum berhenti disitu, satu masalah muncul kembali. Tanpa ku tau dan kusadari sekumpulan orang yang kukira teman menuduhku mencuri tanpa bukti, hanya berdalih mendapat informasi dari paranormal. Hancur, bener-bener hancur. ISS, RMFR, ARF, FA, ASG, DP, A, MM, BR. Apa yang dilakukan mereka tidak berhenti dengan menyebar isu, bodohnya saat mereka memberikan air yang dipercaya akan menemukan pelaku aku meminumnya karena memang tidak merasa dan benar-benar tidak mengetahui akan permasalahan yang ada. Yang awalnya yang tertuduh adalah sahabatku sendiri Rd. Evha Mastavianti Dewi, eh ternyata akupun terlibat didalamnya. dua orang pelaku yang mereka maksud yang mereka tuduh ternyata kami berdua. Pantas saja selama ini sikap yang mereka berikan berbeda, tatapan mata dan segla hal. Terjawab sudah. Berasa kiamat. Tidak betah berada dimanapun, risi dengan orang-orang yang ada. Jatuh sangat jatuh. Mental, semangat, dan segala hal terlebih masalah kesurupan belum juga selesai. Bingung. Tak berani menceritakan kepada keluarga dirumah. Namun sebagaimanapun rapatnya menyimpan bangkai lambat laun pasti tercium juga, sampai akhirnya seluruh keluarga tau. Kejadian ini hampir sampai kepada pihak berwajib seandainya para penuduh tadi tidak datang dan meminta maaf tepat 4 hari sebelum dilaksanakan Ujian Nasional. Ya Alloh, tidak cukup sampai disini. Masalah yang berhubungan dengan organisasi kembali muncul diingatan. Apalagi adanya satu orang yang tidak kukenal dan kuketahui sama sekali kuketahui datang dan ikut andil dalam masalah ini, hingga masalah ini menjadi puncak dari semua masalah pada saat itu. Anak-anak binaan terbebas dari pengaruh hal-hal ghaib, tapi tidak denganku. Tanpa kusadari selama satu tahun lebih aku terpengaruh dalam hal seperti ini, hal yang untuk membayangkannya pun tidak pernah. Mengatasnamakan cinta. Tapi membunuh perlahan bukan hanya sekedar sua belaka tapi ini kenyataan. Nyawaku sempat dijadikan sebagai alat. Percaya atau tidak tapi ini terjadi dan aku mengalaminya sendiri dan langsung. Ujian nasional berakhir. Masa-masa putih abu berakhir. Kembali melangkah pada masa selanjutnya. Tak henti masalah. Ada saja yang menjadi kendala yang tdak akan banyak kuceritakan. Jelasnya pada tahun itu aku gagal kuliah karena tidak adanya kejelasan dari orangtua sudah kurencanakan untuk berkerja mengikuti jejak sanak kerabat, dari mulai majalengka, bandung, cirebon, jakarta, serang dan berakhir sesuai kemauan orangtua untuk berkerja pada salah satu lembaga dimana saat itu aku lebih memilih untuk tidak berkerja disana namun apa mau dikata selain disana akupun sempat ikut dalam sebuah lembaga nonformal yakni rumah pintar

Sebenarnya banyak yang ingin kusampaikan terkait penggalan kisah dan ingin kuselesaikan namun sayang aku belum siap mental jika harus mengingat semuanya
       

Pada tahun berikutnya satu persatu perkerjaan aku tinggalkan begitu saja karena kesehatan yang makin memburuk akibat perlakuan seseorang yang tak masuk diakal
  

 Banyak kejadian yang aku alami sepanjang tahun itu dari mulai yang kukira teman ternyata bukan, yang kukira dia menjahit dari kemalangan namun semakin menjerumuskan dan banyak hal yang cukup aku dan tuhan yang tau
         

Jelasnya aku berterimakasih kepada lembaga yang telaah menerima aku kepada bapak kepala sekolah terimakasih bapak dan maaf aku pergi tanpa bertatap muka langsung untuk yang terakhir kalinya karena kesibukan dibangku kuliah terimakasih pula untuk bapak dan ibu guru yang juga telah menerima kehadiran aku disana memberikan banyak pengarahan pembelajaran terimakasih untuk ibu teti dan ibu yanti terimakasih dan maaf beribu maaf buat semuanya jelas aku banyak salah banyak membuat kejengkelan maaf sulit untuk menjelaskan bagaimana kondisi yang aku alami saat itu dan tak akan banyak yang mengerti juga yang penting sekarang sudah kembali seperti biasa tanpa terganggu hal yang tak masuk akal
tak berhenti disana terimakasih juga buat ibu siti, buat pak wawan buat a irfan juga yang udah nerima aku dirumah pintar meberikan banyak masukan dan pembelajaran maaf juga aku pergi tanpa bertatap muka terlebih dulu hanya lewat pesan singkat maaf beribu maaf
   Terimakasih juga buat eva masta vianti, ega rahma,lisna sri wahyuni,rena nuraena,feny khoerunisa,devi yuli indriyani tak lupa buat kedua orangtua dan keluarga yang selalu ada memberikan support dan segala hal
      Terimakasih pula untuk orang_orang yang telah menyakiti saya, semoga Allah mengampuni perbuatan kalian dan tidak terjadi kembali kepada yang lain terimakasih pula berkat itu saya jadi banyak belajar mengetahui hal yang sebelumnya tidak saya ketahui
terimakasih untuk semua pihak yang terkait dan mohon dimaafkan atas segala kesalahan semoga Allah membalasnya berlipat ganda untuk semua kebaikan yang telah kalian berikan kepada saya terimakasih
Diary Depresi Diary  Depresi Reviewed by Silva_ on 9:35:00 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.