Ada masa ketika aku merasa hidup sedang berjalan terlalu cepat, sementara tubuh dan hatiku tertinggal jauh di belakang.
Hari-hari itu datang tanpa banyak jeda. Belum sempat satu luka mengering, luka yang lain kembali mengetuk. Belum sempat satu air mata benar-benar usai, aku sudah harus belajar menahan tangis berikutnya.
Aku pernah berdiri di persimpangan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Di satu sisi ada anak yang begitu membutuhkan pelukanku.
Di sisi lain , ada anak yang bahkan belum sempat kupeluk sesering yang kuinginkan.
Sebagai seorang ibu, ternyata ada keadaan-keadaan yang memaksamu memilih. Bukan karena cintamu terbagi, tetapi karena tubuhmu hanya satu, sementara hatimu berada di dua tempat sekaligus.
Saat itu aku sering bertanya kepada Tuhan, bagaimana mungkin seorang ibu diminta menjadi begitu kuat, sementara tubuhnya sendiri masih belajar pulih?
Aku pernah mengira keberanian berarti tidak menangis.
Ternyata aku salah.
Keberanian adalah tetap bangun ketika semalaman hampir tidak tidur.
Tetap tersenyum kepada anak-anak meski hatimu sedang berantakan.
Tetap mencari jalan ketika rasanya semua pintu tertutup.
Dan tetap percaya bahwa besok layak diperjuangkan, meski hari ini terasa begitu melelahkan.
Ada hari-hari ketika rumah sakit terasa lebih akrab daripada rumah sendiri.
Ada perjalanan-perjalanan yang kulewati dengan tubuh yang masih menyimpan nyeri.
Ada malam-malam ketika aku hanya bisa memandang wajah anakku melalui sebuah layar, sementara seluruh diriku ingin berada di sampingnya.
Tak ada ibu yang pernah siap menghadapi keadaan seperti itu.
Namun entah dari mana, selalu ada kekuatan yang datang tepat ketika aku merasa sudah tidak memilikinya lagi.
Barangkali beginilah cara Tuhan memeluk hamba-Nya.
Bukan dengan menghilangkan badai.
Melainkan dengan membuat kita tetap mampu berdiri di tengah badai itu.
Yang paling berat ternyata bukan rasa lelah.
Melainkan rasa bersalah.
Merasa belum cukup menjadi ibu.
Merasa belum cukup melindungi.
Merasa belum cukup melakukan yang terbaik.
Padahal setiap hari aku telah memberikan seluruh tenagaku, seluruh waktuku, bahkan hampir seluruh diriku.
Aku baru menyadari itu setelah semuanya mulai sedikit tenang.
Perlahan aku berhenti memusuhi kenyataan.
Aku menerima bahwa hidup tidak selalu mengikuti rencana.
Aku menerima bahwa beberapa perjalanan memang harus ditempuh dengan air mata.
Aku menerima bahwa anak-anakku membutuhkan waktu untuk pulih.
Dan diam-diam, aku pun ternyata sedang belajar pulih.
Dulu aku sempat kecewa kepada banyak orang.
Aku bertanya-tanya mengapa mereka tidak hadir seperti yang kuharapkan.
Mengapa aku merasa berjalan sendirian?.
Mengapa begitu banyak ucapan justru menambah sesak, bukan menghadirkan tenang? .
Lalu suatu hari aku berhenti bertanya.
Bukan karena jawabannya sudah kutemukan.
Melainkan karena aku mulai memahami bahwa setiap orang sedang memikul bebannya masing-masing.
Mungkin mereka juga lelah.
Mungkin mereka juga takut.
Mungkin mereka pun tidak tahu harus berbuat apa.
Dan untuk pertama kalinya, aku melepaskan harapan agar semua orang mengerti isi kepalaku.
Aku memilih belajar mengerti mereka.
Anehnya...
Sejak saat itu hidup terasa jauh lebih ringan.
Suatu hari, tanpa perayaan apa pun, kami akhirnya berkumpul di tempat yang sama.
Tidak ada kecemasan yang menguasai malam itu.
Tidak ada suara yang membuat jantungku berdegup lebih cepat.
Hanya kami.
Satu keluarga.
Berbagi selimut yang sama.
Mendengar napas satu sama lain.
Sesederhana itu.
Namun bagiku, itulah kemewahan yang paling mahal.
Aku memandang mereka dalam diam.
Lalu berbisik kepada diriku sendiri,
"Ternyata kita berhasil sampai di sini."
Perjalanan kami belum selesai.
Masih ada ruang-ruang tunggu.
Masih ada kontrol yang harus dijalani.
Masih ada terapi, obat, doa, dan harapan yang terus kami peluk bersama.
Sesekali tubuhku masih lelah.
Sesekali pikiranku masih didatangi kenangan-kenangan lama yang datang silih berganti. Seolah-olah masa lalu tidak rela melihatku bernapas lebih lega.
Mereka datang membawa wajah-wajah yang pernah melukai.
Membawa rasa sakit yang kukira telah selesai.
Membawa ketakutan yang pernah membuatku hampir kehilangan diriku sendiri.
Namun kini aku tidak lagi melarikan diri.
Aku hanya memandang mereka seperti seseorang yang sedang melihat hujan dari balik jendela.
Aku tahu mereka ada.
Aku tahu mereka nyata.
Tetapi aku juga tahu, mereka akan berlalu.
Sesekali aku masih menangis.
Sesekali aku masih marah.
Sesekali aku masih merasa dunia begitu tidak adil.
Namun setelah semuanya reda, selalu ada dua pasang tangan kecil yang memelukku seolah berkata bahwa aku tidak harus menjadi sempurna untuk dicintai.
Dan mungkin...
Mereka tidak pernah tahu.
Bahwa di setiap pelukan kecil itu, justru akulah yang sedang diselamatkan.
Kini aku tidak lagi mengejar hidup yang bebas dari luka.
Aku hanya ingin tetap memiliki hati yang sanggup bersyukur.
Aku tidak lagi meminta jalan yang mudah.
Aku hanya memohon bahu yang cukup kuat untuk menjalaninya.
Aku tidak lagi memohon agar semua badai berhenti.
Aku hanya berharap, ketika badai berikutnya datang, aku masih mampu menggenggam tangan orang-orang yang kucintai.
Hari ini...
Aku masih memiliki rasa takut.
Masih ada kenangan yang sesekali pulang.
Masih ada hari-hari ketika pikiranku terasa begitu penuh.
Namun ada satu hal yang kini kutahu dengan pasti.
Aku tidak pernah berhenti berusaha.
Aku tidak diam.
Aku bergerak.
Aku bertahan.
Aku mencintai.
Dan mungkin, itulah arti menjadi seorang ibu.
Hari ini aku baik-baik saja.
Bukan karena hidup akhirnya menjadi mudah.
Bukan karena semua luka telah hilang.
Melainkan karena aku akhirnya berdamai dengan kenyataan bahwa bahagia dan luka memang bisa hidup berdampingan.
Aku masih melangkah.
Anak-anakku masih bertumbuh.
Dan setiap malam, ketika kami akhirnya bisa saling memeluk sebelum tidur, aku tahu satu hal yang tidak pernah berubah.
Kami telah melewati begitu banyak hal.
Dan jika Tuhan kembali bertanya apakah aku sanggup berjalan lebih jauh...
Dengan segala air mata yang pernah jatuh, dengan segala luka yang pernah singgah, dengan segala ketakutan yang masih sesekali datang...
Aku akan menjawab pelan,
"Selama Engkau tetap membersamai kami, aku akan terus berjalan."
Reviewed by Silva_
on
11:13:00 pm
Rating:

No comments:
Post a Comment