Ada orang-orang yang tidak pernah benar-benar hilang dari hidup kita.
Bukan karena mereka masih tinggal di hati, melainkan karena mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk siapa diri kita hari ini.
Aku pernah berjalan cukup lama bersama seseorang.
Tidak ada tanggal yang kami rayakan.
Tidak ada janji yang diumumkan kepada dunia.
Yang ada hanyalah keyakinan sederhana bahwa suatu hari nanti kami akan tiba di tujuan yang sama.
Saat itu kami masih sangat muda.
Masa depan terasa begitu mudah dibayangkan.
Seolah hidup hanya tinggal mengikuti rencana yang telah kami susun bersama.
Namun ternyata, hidup tidak pernah benar-benar berjalan sesuai dengan yang kita bayangkan.
Di suatu titik, aku memilih jalan yang berbeda.
Bukan karena ia berubah.
Bukan pula karena ia berhenti menjadi seseorang yang baik.
Hanya saja, saat itu ada begitu banyak hal dalam diriku yang belum benar-benar kupahami.
Aku mengira aku sedang mencari kebebasan.
Padahal mungkin, aku hanya sedang berusaha menemukan diriku sendiri.
Waktu terus berjalan.
Hidup membawa kami ke arah yang berbeda.
Kami sama-sama membangun kehidupan masing-masing.
Dan seperti permainan semesta yang kadang sulit dimengerti, sesekali kami kembali dipertemukan.
Hanya sebentar.
Hanya sekilas.
Namun anehnya, setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa yang sulit dijelaskan.
Bukan ingin kembali.
Bukan pula berharap waktu diputar ulang.
Hanya ada perasaan asing yang datang, menetap beberapa hari, lalu pergi begitu saja.
Aku pernah mengira itu adalah rindu.
Aku bertanya kepada diriku sendiri berkali-kali.
"Apakah ada sesuatu yang belum selesai?"
Butuh waktu yang tidak sebentar sampai akhirnya aku menemukan jawabannya.
Ternyata...
Yang kurindukan bukan dirinya.
Yang kurindukan adalah diriku yang pernah hidup pada masa itu.
Aku merindukan gadis yang begitu mudah percaya kepada masa depan.
Yang mencintai dengan sederhana.
Yang menganggap dunia akan selalu baik-baik saja.
Yang belum mengenal kehilangan.
Yang belum mengerti bahwa hidup terkadang mengubah arah tanpa meminta izin.
Barangkali selama ini aku hanya salah memberi nama pada perasaanku.
Aku menyebutnya rindu.
Padahal yang sesungguhnya datang hanyalah kenangan.
Kenangan memang aneh.
Ia bisa tiba-tiba hadir tanpa dipanggil.
Kadang lewat sebuah tempat.
Kadang lewat sebuah lagu.
Kadang hanya karena berpapasan sebentar dengan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidup kita.
Bahkan sesekali ia datang melalui mimpi.
Di dalam mimpi itu, waktu seolah berhenti.
Segalanya terasa mungkin.
Namun setiap kali aku terbangun, aku selalu menemukan jawaban yang sama.
Aku tidak ingin kembali.
Bukan karena masa lalu itu buruk.
Justru karena ia pernah begitu indah.
Tetapi keindahan tidak selalu harus dimiliki selamanya.
Ada yang memang cukup dikenang.
Hari ini aku memiliki kehidupan yang dulu bahkan tidak pernah kubayangkan.
Jalan hidupku berbelok ke arah yang sama sekali berbeda.
Di sanalah aku menemukan rumah.
Menemukan keluarga.
Menemukan dua pasang mata kecil yang setiap hari mengajarkanku arti pulang.
Lalu aku tersenyum.
Ternyata hidup memang seajaib itu.
Ia tidak selalu memberikan apa yang kita rencanakan.
Tetapi sering kali memberikan sesuatu yang bahkan tidak pernah berani kita bayangkan.
Hari ini aku tidak lagi bertanya tentang segala kemungkinan yang tidak pernah terjadi.
Karena hidup tidak pernah memberi kesempatan kepada kita untuk menjalani dua takdir sekaligus.
Dan mungkin memang tidak perlu.
Yang perlu kulakukan hanyalah mensyukuri jalan yang telah kupilih dan menerima bahwa setiap keputusan, betapapun sulitnya saat itu, telah mengantarkanku menjadi diriku hari ini.
Terima kasih.
Untuk semua cerita yang pernah kita bagi.
Untuk semua pelajaran yang diam-diam mengajarkanku bertumbuh.
Untuk semua mimpi yang tidak sempat menjadi kenyataan.
Aku tidak lagi menyimpannya sebagai penyesalan.
Aku menyimpannya sebagai rasa syukur.
Karena akhirnya aku mengerti...
Yang sesekali pulang bukanlah cinta.
Melainkan kenangan.
Dan kenangan tidak selalu datang untuk meminta kita kembali.
Kadang ia hanya datang untuk memastikan bahwa kita sudah benar-benar melangkah.
Aku tidak lagi ingin menjadi gadis yang dulu.
Tetapi jika suatu hari aku bisa bertemu dengannya, aku hanya ingin memeluknya sebentar.
Lalu berbisik,
"Terima kasih sudah berani mencintai dengan tulus. Sisanya, biarkan aku yang melanjutkan perjalanan ini."
Sebab hidup tidak pernah meminta kita melupakan masa lalu.
Ia hanya meminta kita belajar berjalan tanpa terus-menerus menoleh ke belakang.
Dan hari ini...
Aku akhirnya bisa melangkah dengan tenang.
Reviewed by Silva_
on
7:38:00 pm
Rating:

No comments:
Post a Comment