Aku Tidak Jadi Mati



Tentang Tahun -Tahun yang Pernah Membuatku Kehilangan Diriku Sendiri

Ada cerita yang tidak pernah benar-benar hilang.

Bukan karena kita masih ingin mengingatnya.

Kadang justru karena kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya.

Cerita itu disimpan jauh-jauh. Didorong ke sudut kepala. Ditutup rapat. Tidak dibicarakan. Tidak disentuh.

Sampai suatu hari, entah kenapa, satu potongan kecil muncul.

Satu nama.

Satu tempat.

Satu suara.

Satu perasaan.

Lalu tiba-tiba tubuh mengingat sesuatu yang kepala kita sendiri sudah lama berusaha lupakan.

Mungkin itulah yang terjadi padaku.

Aku tidak ingat semuanya.

Bahkan beberapa bagian terasa seperti potongan film yang hilang.

Tapi ada bagian-bagian tertentu yang masih terlalu jelas.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku ingin menuliskannya.

Bukan untuk mencari siapa yang salah.

Bukan untuk membuktikan siapa yang benar.

Bukan juga untuk meminta siapa pun percaya.

Aku cuma ingin mengatakan kepada diriku yang dulu:

**Hei.

Kamu ternyata berhasil sampai sejauh ini.**


Waktu itu aku masih sangat muda.

Masih sekolah.

Masih merasa dunia adalah sesuatu yang luas dan bisa ditaklukkan selama kita cukup berani.

Aku aktif dalam sebuah organisasi kepemudaan dan dipercaya menjadi salah satu pengurus.

Ada kegiatan pelantikan anggota baru.

Ada kegiatan malam.

Ada rute yang sudah disurvei.

Semuanya sudah dipersiapkan.

Sampai seseorang mengubah rute.

Sederhana.

Kelihatannya cuma keputusan kecil.

Tapi ternyata keputusan kecil itu membawa kami ke tempat yang seharusnya tidak kami datangi malam itu.

Sebuah pemakaman tua.

Tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat sekitar.

Tempat yang sunyi.

Lembap.

Penuh pepohonan besar.

Jauh dari rumah-rumah.

Jauh dari keramaian.

Dan malam itu, kami berada di sana.

Lima orang di satu pos.

Kami sedang membicarakan apa yang harus dilakukan ketika terdengar suara.

Derap langkah.

Teratur.

Kencang.

Kompak.

Seperti barisan yang sedang berjalan.

Kami saling melihat.

Mencari sumber suara.

Ke kanan.

Ke kiri.

Ke belakang.

Tidak ada siapa-siapa.

Tapi suara itu ada.

Dan semakin lama terasa semakin dekat.

Kemudian satu per satu dari kami jatuh.

Kami merasa ada sesuatu yang menarik kaki.

Menyeret.

Menjauhkan kami satu sama lain.

Kami berteriak.

Takut.

Tidak tahu harus berbuat apa.

Yang lebih menakutkan adalah kami tidak melihat apa pun.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya suara.

Hanya rasa takut.

Dan tubuh kami yang seolah tidak mau bekerja sama.

Entah berapa lama itu berlangsung.

Yang jelas, rasanya seperti sangat lama.

Ketika semuanya mulai tenang, kami saling bertanya.

“Kalian tadi merasakan apa?”

Dan jawaban-jawaban yang keluar membuat kami semakin diam.

Ternyata bukan cuma satu orang yang mengalami sesuatu.

Lalu peserta datang.

Dan kekacauan yang sebenarnya baru dimulai.

Beberapa anak mengalami kondisi yang saat itu kami pahami sebagai kesurupan.

Ada yang menangis.

Ada yang tertawa.

Ada yang merangkak.

Ada yang mengeluarkan suara yang tidak biasa.

Ada yang tubuhnya berubah perilaku sedemikian rupa sampai kami sendiri tidak tahu harus melakukan apa.

Beberapa anak bahkan menunjukkan tanda kemerahan di wajah yang menyerupai bekas telapak tangan.

Aku masih ingat betapa kacau malam itu.

Kami akhirnya melakukan evakuasi.

Bantuan medis diberikan.

Orang tua dipanggil.

Keluarga datang.

Orang-orang yang dianggap mampu membantu juga dihubungi.

Kami melakukan apa yang kami bisa.

Dan akhirnya, ketika subuh berkumandang, semuanya perlahan mereda.

Malam itu selesai.

Setidaknya menurut kalender.

Karena buatku, ternyata malam itu tidak selesai di sana.


Setelahnya, hidupku berubah.

Aku masih harus sekolah.

Masih harus menghadapi ujian.

Tapi pikiranku tidak lagi sama.

Nilai berantakan.

Aku menjadi pemurung.

Sering sakit.

Mudah lelah.

Stres.

Dan pada akhirnya, aku sampai pada titik pasrah.

Lalu datanglah seseorang.

Kita sebut saja:

Si Anjing.

Nama aslinya tidak penting.

Aku bahkan tidak yakin sekarang bagaimana tepatnya kami bisa saling mengenal.

Dia berasal dari lingkungan sekolah yang berbeda.

Yang kuingat, saat itu dia terlihat seperti seseorang yang lebih memahami hal-hal yang sedang kuhadapi.

Dia datang ketika aku sedang berada dalam kondisi paling rapuh.

Dan aku masih sangat muda.

Jadi ketika ada seseorang yang terlihat tahu apa yang harus dilakukan, aku menurut.

Awalnya dia membantu.

Aku percaya.

Aku mendengarkan.

Aku menerima apa yang dia katakan.

Sampai akhirnya kedekatan itu berubah menjadi hubungan.

Dan sejak saat itu, aku mulai berubah.

Pelan-pelan.

Lalu semakin jauh.

Aku menjadi bebal.

Aku sulit mendengar orang lain.

Sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Orang-orang di sekitarku mulai melihat perubahan itu.

Mereka mengingatkan.

Mereka mencoba menjauhkan aku.

Mereka berusaha menyadarkanku.

Tapi aku seperti tidak bisa.

Yang aneh, dulu aku bukan orang yang mudah menurut.

Aku keras kepala.

Aku bisa bersitegang.

Aku bisa melawan.

Tapi entah kenapa ketika bersamanya, aku menjadi seperti orang lain.

Aku tidak lagi mengenali diriku sendiri.

Ada batas-batas yang kulawan.

Ada juga batas yang ketika dilanggar, aku seperti kehilangan kemampuan untuk melawan.

Aku tahu aku tidak mau.

Aku menangis.

Aku menolak.

Tapi tubuhku tidak selalu mengikuti pikiranku.

Sekarang aku tahu:

tidak mampu melawan bukan berarti setuju.

Dulu aku belum tahu itu.

Dulu aku hanya bingung.

Kenapa aku seperti ini?

Kenapa aku tidak bisa pergi?

Kenapa aku tetap kembali?

Kenapa aku tetap menurut?

Kenapa aku seperti kehilangan diriku sendiri?


Lalu aku mencoba menjauh.

Dan ternyata menjauh tidak semudah mengucapkan:

“Kita selesai.”

Dia mengejar.

Aku bekerja, dia mencari.

Aku pergi ke tempat lain, dia muncul.

Aku berkumpul dengan orang lain, dia ada.

Dia pernah menunggu di sekitar rumah.

Diam.

Melihat.

Seolah keberadaanku adalah sesuatu yang harus terus dia awasi.

Tetangga tahu.

Keluarga tahu.

Orang-orang mencoba mengusir.

Bahkan pernah ada yang turun tangan secara langsung.

Tapi dia tetap datang.

Kemudian aku kuliah.

Aku pikir jarak akan menyelesaikan semuanya.

Rumah dan kampus tidak dekat.

Aku masuk lingkungan baru.

Aku bertemu orang-orang baru.

Aku mencoba membangun hidup baru.

Ternyata tidak.

Dia tetap menemukan jalan untuk muncul.

Di kampus.

Di sekitar tempat tinggal.

Di kegiatan-kegiatan yang kuikuti.

Di tempat-tempat yang kupikir seharusnya aman.

Aku merasa tidak punya tempat untuk bersembunyi.

Ke mana pun aku pergi, rasanya ada seseorang di belakangku.

Dan tubuhku mulai menyerah.

Mual.

Sesak.

Gemeter.

Takut.

Panik.

Aku mencoba berbagai cara.

Meminta bantuan.

Melibatkan orang-orang yang kupercaya.

Bahkan meminta bantuan pihak berwenang.

Aku mencoba apa pun yang saat itu kupikir mungkin bisa membuat semua ini berhenti.

Tapi rasanya tidak pernah cukup.

Bertahun-tahun.

Bayangkan.

Bertahun-tahun.

Sampai akhirnya aku berada pada titik yang bahkan sekarang ketika mengingatnya pun terasa pahit:

“Terserah lu mau apa. Gue capek.”

Bukan karena aku tidak punya hidup yang ingin dijalani.

Aku hanya sudah terlalu lelah untuk terus berperang.


Dan ternyata belum selesai.

Ada seseorang yang kuanggap dekat.

Bukan sekadar teman.

Aku menganggapnya seperti adik.

Seperti saudara.

Seperti orang yang seharusnya aman.

Ternyata orang itu juga ikut berada dalam cerita kehancuranku.

Aku tidak tahu cerita apa yang disebarkan.

Yang jelas, aku dikucilkan.

Aku dibully.

Verbal.

Fisik.

Psikis.

Bukan sehari.

Bukan seminggu.

Berlangsung lama.

Sampai lingkungan yang seharusnya menjadi tempatku bertumbuh justru terasa seperti tempat yang harus kuhindari.

Dan di situlah aku belajar bahwa sakit hati dari orang asing berbeda dengan sakit hati dari orang yang kita percaya.

Kalau orang asing menyakiti kita, kita mungkin marah.

Tapi kalau orang yang kita anggap keluarga ikut menyakiti kita?

Ada bagian dalam diri yang bertanya:

“Jadi selama ini gue salah percaya kepada siapa?”

Itu yang paling menghancurkan.


Tapi Allah ternyata punya cara sendiri untuk menunjukkan bahwa aku tidak sendirian.

Di tengah kehancuran itu, datang orang-orang yang bahkan tidak punya kewajiban apa pun terhadapku.

Orang asing.

Orang-orang yang awalnya bahkan tidak punya sejarah denganku.

Tapi mereka datang.

Merangkul.

Menjaga.

Menemani.

Mengajak bicara.

Mengajak tertawa.

Membuatku merasa bahwa dunia tidak seluruhnya jahat.

Di saat aku merasa semua pintu tertutup, Allah mempertemukanku dengan orang-orang yang membuka pintu lain.

Tidak banyak.

Tidak selalu besar.

Tapi cukup.

Cukup untuk membuatku bertahan satu hari lagi.

Lalu satu hari lagi.

Lalu satu hari lagi.

Sampai aku akhirnya bisa berdiri sendiri.


Beberapa tahun kemudian, aku datang ke psikolog.

Aku akhirnya tahu bahwa apa yang kualami punya dampak psikologis yang nyata.

Ada diagnosis yang berkaitan dengan depresi pascatrauma.

Dan ternyata sembuh tidak sesederhana:

“Ya sudah, lupakan.”

Karena tubuh punya ingatannya sendiri.

Ada nama yang bisa membuatku mual.

Ada sesuatu yang bisa membuat tubuhku gemetar.

Ada situasi tertentu yang membuat napasku sesak.

Ada hal kecil yang bagi orang lain tidak berarti apa-apa, tapi bagi tubuhku seperti alarm bahaya.

Aku pernah muntah.

Aku pernah gemetar.

Aku pernah sulit bernapas.

Aku pernah merasa tidak mampu mengendalikan tubuh sendiri.

Dan yang lebih menyakitkan?

Sebagian orang menganggapku lebay.

Berlebihan.

Padahal mereka tidak berada di dalam tubuhku.

Mereka tidak tahu bagaimana rasanya ketika kepala berkata:

“Ini sudah berlalu.”

tapi tubuh menjawab:

“Tidak. Kita masih takut.”


Aku belajar.

Pelan-pelan.

Aku belajar mengenali trigger.

Belajar menenangkan diri.

Belajar menerima bahwa tidak semua hari akan mudah.

Belajar bahwa sembuh bukan berarti tidak pernah teringat lagi.

Sembuh mungkin berarti ketika sesuatu mengingatkan kita pada masa lalu, kita masih bisa berkata:

“Iya. Aku ingat. Tapi aku sekarang ada di sini.”

Dan akhirnya aku memutuskan:

cut off.

Aku tidak perlu mereka lagi.

Tidak perlu penjelasan.

Tidak perlu pembuktian.

Tidak perlu balas dendam.

Tidak perlu membuat mereka mengerti betapa sakitnya yang pernah mereka lakukan.

Aku hanya ingin hidupku kembali.

Dan ternyata itu cukup.


Sampai hari ini, beberapa trigger masih ada.

Aku tidak akan berbohong.

Kadang tubuhku masih bereaksi.

Tapi sekarang aku berbeda.

Aku tahu apa yang sedang terjadi.

Aku tahu bahwa sebuah kenangan tidak sama dengan kejadian yang sedang berlangsung.

Aku tahu bahwa aku sudah jauh dari sana.

Dan sedikit demi sedikit, aku bisa kembali.

Tidak sempurna.

Tidak selalu cepat.

Tapi bisa.


Kadang aku melihat perempuan yang dulu.

Perempuan yang masih sangat muda.

Yang tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa.

Yang dianggap berlebihan ketika sebenarnya sedang hancur.

Yang kehilangan nilai.

Kehilangan rasa aman.

Kehilangan kepercayaan.

Kehilangan dirinya sendiri.

Aku ingin memeluk dia.

Bukan untuk bertanya:

“Kenapa kamu dulu sebodoh itu?”

Bukan.

Aku ingin bilang:

“Kamu nggak bodoh.”

Kamu cuma masih terlalu muda.

Kamu sedang ketakutan.

Kamu sedang mencari pegangan.

Kamu tidak tahu bahwa orang yang datang sebagai penolong bisa saja menjadi sumber luka berikutnya.

Dan kamu tidak tahu bahwa proses untuk mendapatkan kembali dirimu sendiri akan memakan waktu bertahun-tahun.

Tapi lihatlah.

Kamu berhasil.


Aku pernah berpikir hidupku akan selesai di sana.

Ternyata tidak.

Aku tidak jadi mati.

Aku tetap hidup.

Aku kuliah.

Aku bekerja.

Aku membangun kehidupan.

Aku menjadi seseorang.

Aku kembali tertawa.

Kembali menulis.

Kembali menikmati hal-hal kecil.

Bahkan sekarang aku bisa mengingat kisah ini sambil ngomel:

“Anjing banget memang.”

Dan entah kenapa, aku justru tertawa.

Mungkin karena dulu aku menangis.

Sekarang aku bisa tertawa.

Dulu aku takut.

Sekarang aku bisa bercerita.

Dulu aku merasa tidak punya kendali.

Sekarang aku yang menentukan siapa yang boleh masuk ke hidupku.

Dulu mereka mengambil begitu banyak hal dariku.

Tapi ada satu hal yang ternyata tidak berhasil mereka ambil:

keinginanku untuk tetap hidup.


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.

Aku tidak tahu mana yang bisa dijelaskan dan mana yang sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku.

Aku tidak perlu memaksa semua hal punya jawaban.

Aku tidak harus meyakinkan siapa pun.

Karena ini bukan cerita tentang membuktikan sesuatu.

Ini cerita tentang seorang perempuan muda yang pernah mengalami begitu banyak hal, kemudian perlahan mengumpulkan dirinya kembali.

Satu bagian.

Satu napas.

Satu hari.

Satu langkah.

Sampai akhirnya dia mengerti:

Allah tidak pernah benar-benar meninggalkannya.

Ketika manusia salah memahami, Allah tahu.

Ketika manusia meninggalkan, Allah mengirimkan orang lain.

Ketika aku merasa sendirian, ternyata ada tangan-tangan yang datang dari arah yang tidak pernah kuduga.

Dan ketika aku sendiri sudah hampir tidak punya tenaga untuk bertahan,

Allah masih membuatku bergerak.


Jadi kalau hari ini ada bagian dari diriku yang masih mudah terpicu, aku tidak akan memarahinya.

Aku akan berkata:

“Nggak apa-apa. Kita pelan-pelan.”

Kalau suatu hari tubuhku gemetar hanya karena sebuah nama, aku tidak akan menyebut diriku lemah.

Aku akan mengingat:

“Itu cuma tubuhku yang sedang mengingat masa lalu.”

Lalu aku akan kembali ke hari ini.

Karena aku sudah tidak berada di sana.

Aku sudah pergi.

Aku sudah pulang.

Dan kali ini aku tidak akan meninggalkan diriku sendiri.


Aku pernah dihancurkan.

Tapi aku tidak berhenti.

Aku pernah dikucilkan.

Tapi aku tetap mencari manusia yang baik.

Aku pernah kehilangan diriku sendiri.

Tapi aku mencarinya kembali.

Aku pernah merasa tidak tertolong.

Tapi aku tetap bergerak.

Aku pernah sangat lelah.

Tapi aku tetap berjalan.

Dan sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, aku akhirnya bisa mengucapkan sesuatu yang dulu bahkan tidak pernah kubayangkan:

Aku tidak jadi mati.

Aku hidup.

Aku selamat.

Aku sembuh sedikit demi sedikit.

Aku masih punya luka.

Tapi luka itu sekarang tidak lagi memegang kendali atas hidupku.

Dan mungkin memang begitulah kemenangan yang sebenarnya.

Bukan ketika kita berhasil membuat orang yang menyakiti kita kalah.

Melainkan ketika suatu hari kita bisa bangun dan menyadari:

mereka sudah tidak menentukan siapa kita lagi.

Mereka pernah menjadi bagian dari cerita.

Tapi mereka bukan penulis akhirnya.

Aku yang menulis akhir ceritaku sendiri.

Dan kali ini,

aku memilih hidup.

Aku Tidak Jadi Mati Aku Tidak Jadi Mati Reviewed by okta's pages on 10:51:00 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.