Ada manusia yang kalau cuma sekali bikin kesal, masih bisa gue maklumi.
Dua kali, gue pikir mungkin kebetulan.
Tiga kali, gue mulai mencatat pola.
Tapi kalau berkali-kali melakukan hal yang sama lalu masih juga merasa dirinya korban?
Ah, sudahlah.
Di titik itu gue bukan marah lagi.
Gue muak.
Muak sampai rasanya malas mengeluarkan satu kalimat pun untuk menjelaskan kenapa gue menjauh.
Karena buat apa?
Orang yang memang tidak mau bercermin akan selalu punya alasan kenapa cermin itu yang salah.
Dan manusia seperti itu memang punya kemampuan yang luar biasa.
Luar biasa memutarbalikkan keadaan.
Luar biasa mengubah kesalahan menjadi pembelaan.
Luar biasa membuat orang lain merasa bersalah karena berani mempertanyakan kelakuannya.
Luar biasa juga memainkan peran sebagai korban setelah sebelumnya sibuk mengacak-acak keadaan.
Oscar kurang satu.
Sungguh.
Kalau ada penghargaan untuk manusia yang paling konsisten menganggap dirinya benar, mungkin pialanya sudah penuh di rumah.
Yang bikin gue geli adalah rasa percaya dirinya.
Bukan percaya diri biasa.
Ini level:
“Gue boleh melakukan apa saja, tapi kalian tidak boleh bereaksi.”
Lalu ketika orang mulai menjauh?
“Kenapa mereka berubah?”
Ketika orang mulai diam?
“Kok mereka jahat?”
Ketika orang mulai tidak percaya?
“Mereka iri.”
HAHA.
Iri apaan, Bangsat?
Orang cuma sudah capek.
Tidak semua orang punya hobi mengurusi hidup lo.
Tidak semua orang bangun tidur lalu berpikir,
“Bagaimana caranya hari ini gue menghancurkan perasaan manusia itu?”
Sebagian orang cuma ingin hidup tenang.
Dan ketenangan itu kadang baru datang setelah mereka sadar:
sumber ributnya ternyata satu orang.
Yang paling menggelikan adalah ketika seseorang merasa dirinya pintar memainkan orang lain.
Padahal orang-orang di sekitarnya cuma sedang malas membongkar semuanya.
Diam bukan berarti tidak tahu.
Mengalah bukan berarti bodoh.
Tidak membalas bukan berarti kalah.
Kadang orang cuma sedang melihat:
“Sejauh apa lagi nih manusia mau menggali lubangnya sendiri?”
Dan biasanya...
dia menggali cukup dalam sampai akhirnya capek sendiri.
Gue juga pernah berada di posisi yang masih mencoba memahami.
Masih berpikir,
“Mungkin dia nggak sadar.”
“Mungkin dia punya masalah.”
“Mungkin ada alasan di balik sikapnya.”
Sekarang?
Mampus dengan mungkin.
Gue sudah tidak tertarik mencari alasan untuk kelakuan yang dilakukan berulang-ulang.
Satu kali bisa disebut kesalahan.
Berkali-kali?
Itu pilihan.
Dan ketika seseorang terus memilih menjadi seperti itu, gue juga punya pilihan.
Pergi.
Diam.
Tidak ikut campur.
Tidak memberi panggung.
Tidak memberikan reaksi yang dia cari.
Karena ternyata cara paling menyakitkan untuk menghadapi manusia yang haus perhatian bukanlah membalasnya.
Tapi...
tidak lagi menganggapnya penting.
Silakan bicara.
Silakan membuat cerita.
Silakan menyusun narasi paling indah tentang dirimu sendiri.
Silakan menjadikan dirimu korban paling menderita dalam sejarah umat manusia.
Gue tidak peduli.
Karena gue tahu apa yang gue lihat.
Dan gue tidak membutuhkan persetujuan siapa pun untuk mempercayai pengalaman gue sendiri.
Jadi jangan salah mengartikan diam gue.
Gue bukan takut.
Gue bukan kalah.
Gue bukan masih menyimpan perasaan.
Gue cuma jijik.
Jijik sampai tidak ada lagi rasa penasaran.
Jijik sampai tidak ada lagi keinginan untuk menjelaskan.
Jijik sampai kalau mendengar kabar tentang lo pun reaksi gue paling banter:
“Oh.”
Lalu hidup gue lanjut.
Karena pada akhirnya, ada manusia yang memang tidak perlu dilawan.
Tidak perlu dibongkar.
Tidak perlu dibalas.
Biarkan dia terus berlari mengelilingi cerita yang dia buat sendiri.
Sampai suatu hari dia sadar...
tidak ada yang mengejar.
Dan mungkin saat itulah dia baru tahu:
Yang pergi dari hidupnya bukan orang-orang yang terlalu lemah untuk menghadapi dirinya.
Mereka cuma akhirnya cukup waras untuk berhenti ikut bermain.
Gue?
Gue sudah selesai.
Bukan selesai karena berdamai.
Bukan selesai karena memaafkan.
Selesai karena sudah muak.
Dan percayalah...
kalau seseorang sudah sampai pada tahap itu,
bahkan untuk membencimu pun rasanya sudah terlalu menguras tenaga.
Jadi silakan.
Teruskan pertunjukannya.
Panggungnya masih ada.
Penontonnya mungkin masih ada.
Tapi gue?
Gue sudah di luar gedung, beli gorengan.
Dan dari sini, drama lo kelihatan seperti lawakan.
PS: Kalau Merasa, Ya Silakan
Lucu sebenarnya.
Tulisan ini tidak menyebut nama siapa pun.
Tidak ada foto.
Tidak ada inisial.
Tidak ada kronologi yang bisa dijadikan bukti.
Tapi kalau tiba-tiba ada yang merasa,
“Ini nyindir gue, ya?”
Lho?
Kok bisa tahu?
Gue kan tidak bilang siapa-siapa. 😌
Jangan-jangan memang ada bagian yang terlalu familiar?
Kalau merasa tersindir, mungkin bukan tulisannya yang terlalu spesifik.
Mungkin memang kelakuannya yang terlalu khas.
Dan tenang saja.
Gue tidak akan membenarkan atau menyangkal tulisan ini tentang siapa.
Karena kalau seseorang langsung merasa dirinya sedang dibicarakan hanya dari tulisan tanpa nama...
barangkali masalahnya bukan pada tulisan gue.
Barangkali dia sendiri yang tahu persis kenapa tulisan itu terasa begitu dekat.
Jadi santai.
Tidak semua tulisan tentang lo.
Tapi kalau lo merasa...
Gue cuma punya satu jawaban
Kalau sepatu itu terasa pas,
ya mungkin memang ukurannya milik lo.
Gue cuma heran...
kenapa buru-buru dipakai?
🥱
No comments:
Post a Comment