Bukan Cenayang, Cuma Kebanyakan Nangkap


Belakangan ini aku sedang menemukan beberapa kepingan kecil tentang diriku sendiri.

Sebenarnya semuanya sudah ada sejak lama. Hanya saja baru sekarang rasanya mulai kelihatan gambarnya.

Awalnya aku pikir aku cuma kebanyakan mikir.
Ternyata kayaknya bukan cuma itu.

Aku juga kebanyakan memperhatikan.

Sesuatu belum terjadi, aku sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinannya.

Seseorang belum mengatakan apa-apa, kadang aku sudah bisa menangkap kira-kira dia sedang membutuhkan apa.

Sebuah rencana belum berjalan, kepalaku sudah sibuk memikirkan apa saja yang mungkin diperlukan.

Kadang aku sendiri heran.
Kenapa otakku nggak bisa antre?

Satu pikiran belum selesai, sudah muncul pikiran lain. Belum selesai yang kedua, muncul yang ketiga. Lalu tiba-tiba entah dari mana ada ide baru yang sama sekali tidak berhubungan dengan dua pikiran sebelumnya.

Random sekali.

Kalau sedang ramai ide, aku bisa menjadi sangat ramai juga.

Ngomong cepat, pindah topik cepat, tertawa sendiri, tiba-tiba punya ide ini itu, lalu baru sadar orang yang diajak bicara mungkin masih mencerna kalimat pertama.

Kadang aku sendiri sampai bingung dengan apa yang baru saja kukatakan.

Lucunya, semua itu bisa kutulis dengan cukup rapi.

Kalau disuruh menjelaskan langsung?

Belum tentu.

Tulisan bisa kususun dari awal sampai akhir.
Kalau bicara, kadang pikiranku sudah sampai tujuan sementara mulut masih mencari jalan.
Hahaha.

Mungkin itu sebabnya aku jauh lebih nyaman menuangkan banyak hal lewat tulisan.

Aku punya waktu untuk menangkap semua yang berlarian di kepala.

Ada satu hal lagi yang ternyata cukup melelahkan.

Aku lumayan peka terhadap orang.

Aku mudah menangkap perubahan kecil dalam cara seseorang bicara, bersikap, atau membawa suasana.

Kadang seseorang belum mengatakan apa yang dia mau, tapi aku sudah bisa menebaknya.
Dan entah kenapa, sering kali setelah tahu, aku malah menuruti.

Padahal aku sudah tahu:
“Kalau aku lakukan ini, nanti aku sendiri yang repot.”

Tetap dilakukan.
Kenapa?
Ya… entahlah.

Mungkin karena rasanya lebih mudah membantu daripada melihat sesuatu yang sebenarnya bisa kubantu tetapi kubiarkan.

Masalahnya, kebiasaan seperti ini lama-lama membuat kita lupa satu hal:
mengetahui bukan berarti harus melakukan.

Aku bisa memahami seseorang tanpa harus memenuhi semua kebutuhannya.
Aku bisa melihat ada masalah tanpa harus menjadi orang yang menyelesaikannya.
Aku bisa tahu sesuatu mungkin akan merepotkan tanpa harus sibuk mencegahnya.

Dan ternyata itu tidak mudah bagiku.
Karena kalau sudah terbiasa mengantisipasi, membiarkan sesuatu berjalan apa adanya terasa seperti mengambil risiko.

Padahal hidup memang penuh hal yang tidak bisa kita atur.
Mungkin selama ini aku terlalu sering berada dalam mode siap.

Siap kalau ada apa-apa.
Siap kalau rencana berubah.
Siap kalau ada yang lupa.
Siap kalau sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.
Siap kalau seseorang membutuhkan bantuan.
Sampai akhirnya aku sendiri yang kehabisan tenaga.

Yang lebih lucu lagi, aku sebenarnya suka keramaian.
Kalau sudah nyaman, aku bisa sangat heboh.
Random.
Banyak ide.
Bisa menggila.

Tapi setelah terlalu banyak bertemu orang, terutama orang-orang yang belum terlalu kukenal, baterai sosialku bisa turun drastis.
Kalau bertemu orang baru, aku justru cenderung diam.

Mengamati.

Merasakan suasana.

Mencari tahu bagaimana harus bersikap.

Dan meskipun dari luar kelihatannya aku tidak melakukan apa-apa, ternyata di dalam kepala mungkin sedang berlangsung rapat besar.

Pulang-pulang?

Habis.

Kadang sampai rasanya ingin diam saja.
Tidak ingin ditanya.
Tidak ingin banyak disentuh.
Tidak ingin memproses apa-apa lagi.
Bukan karena tidak sayang kepada orang-orang di rumah.
Justru karena baterainya sudah benar-benar kosong.

Setelah cukup istirahat, biasanya kembali lagi.
Bisa ramai lagi.
Bisa bercanda lagi.
Bisa menggila lagi.

Jadi mungkin aku memang bukan sepenuhnya pendiam dan bukan juga sepenuhnya suka berada di tengah keramaian.

Mungkin aku cuma orang yang bisa sangat ramai ketika nyaman, tetapi membutuhkan cukup banyak waktu untuk mengisi ulang setelah terlalu banyak menerima.

Dan soal kepekaan itu sendiri, aku juga sedang belajar menggunakannya dengan lebih hati-hati.
Dulu aku bisa terlalu larut dengan keadaan orang lain.

Melihat orang sakit, kepikiran.
Datang melayat, pikiranku bisa terus memanggil nama orang yang sudah meninggal bahkan setelah pulang.

Berada di lingkungan yang terasa tidak nyaman juga bisa menguras tenaga lebih banyak daripada yang terlihat.

Sekarang aku mulai belajar:
aku boleh merasakan sesuatu tanpa harus membawanya pulang.

Aku boleh tahu seseorang sedang tidak nyaman denganku tanpa harus mencari tahu seluruh alasannya.
Aku boleh memahami orang lain tanpa harus bertanggung jawab atas perasaannya.
Aku boleh peduli tanpa harus ikut memikul semuanya.

Mungkin ini yang belakangan orang sebut sebagai belajar mengenal diri.
Atau kalau mau sedikit sok serius:
ngaji diri.
Hahaha.

Bukan untuk mencari apa yang salah dari diri sendiri.
Tapi untuk memahami bagaimana kita bekerja.
Karena ternyata banyak hal yang selama ini kukira cuma “sifatku yang aneh” ternyata punya pola.

Aku memang suka mengantisipasi.
Aku memang mudah menangkap detail.
Aku memang cepat membaca suasana.
Aku memang punya banyak ide.
Aku memang bisa sangat ramai sekaligus sangat membutuhkan diam.
Dan mungkin aku memang terlalu cepat bergerak setelah mengetahui sesuatu.

Sekarang aku sedang belajar memberi jarak kecil di antara keduanya.

Aku tahu.
Tapi tidak harus langsung melakukan.
Aku paham.
Tapi tidak harus langsung memenuhi.
Aku bisa.
Tapi tidak harus selalu mengerjakan.

Mungkin itu bagian yang paling sulit.
Mengetahui bahwa kita mampu melakukan sesuatu, lalu memilih untuk tidak melakukannya.
Bukan karena malas.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena akhirnya kita mengerti bahwa tenaga kita juga punya batas.
Jadi, apakah aku cenayang?
Entahlah.

Kalau mimpi yang kebetulan nyambung dengan kenyataan, intuisi yang kadang tepat, atau pikiran yang sering datang sebelum sesuatu terjadi dihitung sebagai tanda-tanda…
Mungkin aku cuma punya radar yang lumayan sensitif.

Atau mungkin memang aku kebanyakan nangkap.
Yang jelas, sekarang aku sedang belajar satu hal:
Tidak semua yang tertangkap radar harus ditindaklanjuti.

Kadang cukup diketahui.
Kadang cukup dirasakan.
Kadang cukup dilewatkan.

Dan kalau hari ini aku tiba-tiba ingin diam, jangan khawatir.

Bukan sedang marah.

Mungkin baterainya saja sedang:
1% — jangan diajak rapat. 😂
Bukan Cenayang, Cuma Kebanyakan Nangkap Bukan Cenayang, Cuma Kebanyakan Nangkap Reviewed by okta's pages on 12:11:00 am Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.