Ada satu hal yang belakangan ini mulai kusadari tentang diriku sendiri.
Aku ternyata orang yang cukup sulit menjalani sesuatu dengan sekadar, “ya sudah, lihat nanti.”
Bukan karena aku tidak bisa santai. Aku bisa. Sangat bisa, malah.
Hanya saja, otakku punya kebiasaan aneh.
Sesuatu yang bagi orang lain selesai dalam satu kalimat, di kepalaku kadang punya kelanjutan sendiri.
Misalnya ada rencana sederhana.
“Besok kita pergi.”
Otakku: jam berapa, naik apa, bawa apa, makan di mana, kalau hujan bagaimana, kalau terlambat bagaimana, pulangnya jam berapa.
Padahal belum tentu semua itu terjadi.
Belum apa-apa sudah dibuatkan simulasi. 😭
Kadang aku juga suka heran sendiri.
Kenapa tidak bisa seperti orang lain yang cukup bilang, “oke”, lalu melanjutkan hidup?
Kenapa harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bahkan belum tentu terjadi?
Mungkin karena aku memang punya kebiasaan mengantisipasi.
Aku suka memperhatikan pola. Suka memperhatikan detail. Kalau ada sesuatu yang terasa kurang pas, biasanya aku cukup cepat menyadarinya.
Saking seringnya tepat, beberapa orang sampai bercanda kalau aku punya indra keenam.
Padahal menurutku bukan begitu.
Aku mungkin hanya terlalu memperhatikan hal-hal kecil yang sering dilewatkan orang lain.
Masalahnya, kemampuan seperti itu kadang melelahkan.
Karena setelah terbiasa melihat kemungkinan, kita jadi sulit untuk benar-benar tidak melihatnya.
Kita tahu kalau sesuatu berpotensi merepotkan.
Kita tahu kalau ada bagian yang belum dipikirkan.
Kita tahu kalau suatu keputusan mungkin akan membawa masalah di belakang.
Dan ketika sudah tahu, ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Setidaknya memastikan semuanya aman.
Setidaknya membuat sedikit lebih rapi.
Setidaknya berjaga-jaga.
Begitu terus.
Sampai suatu hari kita sadar bahwa ternyata banyak sekali energi yang habis bukan karena melakukan sesuatu, tetapi karena terus memikirkan sesuatu.
Aku rasa itu yang kadang terjadi padaku.
Aku bukan selalu kelelahan karena banyak pekerjaan.
Kadang aku lelah karena terlalu lama berada dalam mode siap.
Siap kalau ada apa-apa.
Siap kalau sesuatu berubah.
Siap kalau ada yang lupa.
Siap kalau rencana tidak berjalan sesuai harapan.
Siap dengan kemungkinan yang bahkan belum tentu datang.
Dan lucunya, aku sendiri yang memasang mode itu.
Mungkin karena selama ini aku cukup terbiasa menjadi orang yang “bisa”.
Kalau ada sesuatu yang belum beres, rasanya sulit untuk benar-benar meninggalkannya.
Bukan karena merasa paling tahu.
Justru kadang karena berpikir, “Ah, sekalian saja.”
Lalu satu hal menjadi dua.
Dua menjadi lima.
Lima menjadi entah berapa.
Tahu-tahu sudah capek sendiri.
Belakangan aku mulai belajar sesuatu yang agak bertentangan dengan kebiasaanku.
Tidak semua yang bisa diperbaiki harus diperbaiki.
Tidak semua kemungkinan buruk harus dicegah.
Tidak semua hal harus dipikirkan sampai selesai hari ini.
Dan yang paling sulit:
tidak semua hal yang bisa kulakukan harus kulakukan.
Kalimat terakhir itu ternyata cukup berat.
Karena ada perbedaan antara mampu dan harus.
Aku baru benar-benar memahami bedanya setelah beberapa kali merasa terlalu penuh.
Mungkin aku tidak perlu menjadi orang yang lebih cuek.
Mungkin aku hanya perlu belajar memilih kapan harus peduli lebih jauh dan kapan cukup berkata, “nanti juga kelihatan.”
Membiarkan sesuatu sedikit berantakan ternyata tidak selalu berarti gagal.
Tidak langsung punya solusi juga bukan berarti tidak mampu.
Dan sesekali membiarkan orang lain mencari jalan sendiri mungkin bukan berarti aku tidak membantu.
Mungkin itu justru bentuk lain dari percaya.
Aku masih akan menjadi orang yang suka memikirkan banyak hal.
Sepertinya itu memang bagian dari diriku.
Masih akan memperhatikan detail.
Masih akan tiba-tiba menemukan hubungan antara satu kejadian dengan kejadian lain.
Masih mungkin membuat orang bertanya-tanya,
“Ini orang sebenarnya punya indra keenam atau bagaimana?”
Entahlah.
Kalau memang iya, semoga bisa sekalian dipakai untuk mengetahui kapan harus berhenti mikir. 😂
Untuk sekarang, aku sedang belajar satu hal sederhana:
Aku tidak harus selalu siap untuk segala sesuatu.
Ada hal-hal yang boleh datang tanpa persiapan.
Ada masalah yang boleh dicari solusinya nanti.
Ada keadaan yang boleh berjalan apa adanya.
Dan ada hari-hari ketika aku cukup menjadi diriku sendiri tanpa harus memastikan semuanya baik-baik saja.
Mungkin hidup memang tidak selalu membutuhkan orang yang sudah memikirkan semuanya.
Kadang hidup cuma meminta kita hadir.
Dan untuk sekali ini, aku ingin mencoba hadir tanpa membawa seluruh kemungkinan bersamaku.
No comments:
Post a Comment