Ternyata Aku Tidak Gila
“Ternyata selama ini aku nggak gila.”
Itulah kalimat yang keluar begitu saja dari mulutku ketika akhirnya semuanya mulai terbuka.
Mila mendengarkan.
Seperti biasa.
Dia memang selalu begitu.
Tidak banyak bertanya ketika aku sedang kacau.
Tidak buru-buru memberikan kesimpulan. Kadang hanya diam, membiarkanku bicara sampai semua yang menumpuk di kepala keluar dengan sendirinya.
Padahal kalau dipikir-pikir, keberadaan Mila dalam hidupku selalu terasa sedikit aneh.
Dia tidak pernah benar-benar tinggal.
Dia datang.
Menolong.
Membuka sesuatu yang bahkan tidak sedang kucari.
Lalu pergi.
Begitu saja.
Yang paling aneh justru bukan ketika dia datang saat aku sedang punya masalah.
Mila hampir selalu datang ketika aku merasa tidak punya masalah apa-apa.
Saat aku merasa hidupku baik-baik saja.
Saat aku merasa semuanya sudah selesai.
Saat aku bahkan tidak sedang memikirkan sesuatu yang perlu dicari jawabannya.
Tiba-tiba dia muncul.
Lalu membicarakan sesuatu yang membuatku terdiam.
“Lu sadar nggak sebenarnya yang terjadi?”
Dan dari sana semuanya terbuka.
Hal-hal yang selama ini tidak kusadari ternyata menjadi masalah.
Hal-hal yang tidak pernah kuceritakan kepadanya tiba-tiba muncul dalam percakapan.
Satu demi satu.
Seperti seseorang sedang membuka laci yang selama ini kukunci sendiri.
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai pada hal-hal itu.
Aku juga tidak pernah tahu dari mana dia mendapatkan jawabannya.
Yang kutahu, setiap kali dia datang, selalu ada sesuatu yang akhirnya menjadi jelas.
Kadang aku bahkan datang kepadanya bukan untuk meminta pertolongan.
Aku tidak merasa sedang membutuhkan siapa pun.
Aku merasa baik-baik saja.
Lalu Mila datang dan membuatku sadar bahwa ternyata ada bagian dari hidupku yang belum benar-benar selesai.
Dia bukan hanya membicarakan masalahnya.
Dia juga membantuku memahami apa yang harus kulakukan setelah mengetahuinya.
Bagaimana menghadapinya.
Bagaimana mencegah agar aku tidak kembali terjebak dalam hal yang sama.
Dan setelah semuanya selesai, seperti biasa, Mila menghilang.
Tidak ada perpisahan.
Tidak ada janji akan bertemu lagi.
Kami hanya kembali kehilangan kontak.
Nomornya berubah.
Kadang benar-benar tidak bisa dihubungi.
Aku tidak tahu dia tinggal di mana.
Tidak tahu bagaimana kehidupannya.
Tidak tahu kabarnya.
Dan lama-lama aku kembali menjalani hidupku seperti biasa sampai keberadaannya bahkan tidak lagi terpikirkan.
Sampai suatu hari dia datang lagi.
Tiba-tiba.
Selalu begitu.
Aku tidak mencari.
Dia datang.
Aku tidak meminta jawaban.
Dia membawa jawaban.
Aku merasa tidak ada masalah.
Dia justru menunjukkan sesuatu yang selama ini tidak kulihat.
Dan setelah semuanya selesai, dia pergi lagi.
Aneh.
Sangat aneh.
Tapi semakin lama aku berhenti mencoba memahami pola itu.
Karena mungkin memang tidak semua pertemuan harus kita mengerti.
Ada masa ketika hidupku benar-benar terasa kacau.
Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres, tetapi aku tidak mengerti apa.
Aku berusaha tidak peduli.
Kupikir tidak peduli adalah cara paling aman untuk menjaga kesehatan mentalku.
Aku terus menjalani hari.
Bekerja.
Tertawa.
Berkegiatan.
Menjalani kehidupan seperti biasa.
Tapi di dalam kepala, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.
Ingatan dan perasaan seperti bercampur.
Masa lalu dan masa kini kadang terasa terlalu dekat.
Ada saat-saat ketika aku merasa masih menjadi mahasiswi.
Masih berada di masa ketika aku yakin seseorang akan menjadi laki-laki yang menemaniku sampai tua.
Lalu aku tersadar.
Aku sudah menjadi ibu.
Aku sudah memiliki keluarga.
Waktu ternyata sudah berjalan sejauh itu.
Dan ada bagian dari diriku yang seperti tertinggal di belakang.
Aku pernah bertanya-tanya apakah aku yang bermasalah.
Apakah aku yang terlalu takut.
Apakah aku yang terlalu banyak berpikir.
Apakah ada sesuatu yang salah dengan diriku.
Aku bahkan pernah menerima penjelasan mengenai kondisi psikologis yang membuat banyak hal dalam diriku mulai terasa masuk akal.
Tetapi tetap ada bagian dari cerita yang tidak kupahami.
Sampai Mila datang lagi.
Dan malam itu aku berkata kepadanya,
“Mel, lu tahu kan apa yang terjadi selama ini?”
Aku mulai bercerita tentang semua yang selama ini membuatku bingung.
Tentang orang-orang yang sangat dekat denganku.
Tentang kepercayaan yang ternyata membuatku lengah.
Tentang kehilangan seseorang yang sangat kusayangi.
Tentang rasa takut yang dulu muncul tanpa alasan yang kupahami.
Tentang bagaimana sebuah hubungan yang sebenarnya terasa baik-baik saja tiba-tiba membuatku takut setiap kali berhadapan dengan orang itu.
Tentang bagaimana aku akhirnya kehilangan sesuatu yang kukira akan menjadi bagian dari hidupku.
Dan tentang bagaimana bertahun-tahun kemudian aku baru memahami berbagai kejadian itu dari sudut pandang yang berbeda.
Pada masa itu, aku memahami sebagian pengalaman tersebut melalui keyakinanku sendiri tentang hal-hal yang bersifat mistis.
Aku merasa seperti ada sesuatu yang tidak kasatmata yang ikut mengacaukan hidupku.
Entah apa yang sebenarnya terjadi.
Entah mana yang benar-benar terjadi di luar diriku dan mana yang merupakan cara pikirku ketika sedang berada dalam kondisi yang sangat tertekan.
Sampai sekarang pun aku tidak punya jawaban untuk semuanya.
Tapi aku tahu satu hal.
Aku pernah sangat takut.
Dan rasa takut itu nyata.
Aku pernah merasa seperti hidup di antara dua waktu.
Masa lalu terus memanggil, sementara kehidupan baru sudah berjalan jauh di depan.
Aku sudah menjadi seorang ibu.
Sudah memiliki keluarga.
Tetapi sebagian ingatanku masih seperti berada di tempat yang jauh sebelumnya.
“Gue kira selama ini gue gila, Mel.”
Aku tertawa kecil setelah mengatakannya.
Bukan karena lucu.
Tapi karena akhirnya aku mulai memahami bahwa ternyata ada alasan mengapa aku selama itu merasa bingung.
Aku tidak harus menyalahkan diriku sendiri untuk semua hal yang tidak bisa kupahami waktu itu.
Aku memang pernah salah.
Aku pernah membuat keputusan yang keliru.
Aku pernah terluka.
Aku juga pernah menyakiti orang lain.
Tapi aku bukan orang gila.
Aku hanya seorang manusia yang pernah melewati terlalu banyak hal dalam waktu yang terlalu panjang, tanpa mengerti bagaimana harus memproses semuanya.
Dan mungkin itulah yang paling berarti dari kehadiran Mila.
Dia tidak menghapus masa laluku.
Dia tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang.
Dia tidak membuat semua masalah menjadi tidak pernah terjadi.
Tapi setiap kali datang, dia membantuku menemukan jalan keluar dari bagian hidup yang sedang membuatku tersesat.
Setelah semuanya selesai, kami kembali kehilangan kontak.
Seperti biasa.
Nomornya tidak lagi bisa kuhubungi.
Aku tidak tahu di mana dia sekarang.
Tidak tahu bagaimana kehidupannya.
Tidak tahu apakah suatu hari nanti dia akan muncul lagi.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mencari tahu.
Kalau suatu hari dia datang lagi, aku akan menyambutnya.
Kalau tidak, aku juga akan tetap baik-baik saja.
Karena mungkin memang bukan itu tujuan kehadirannya.
Mungkin ada orang-orang yang datang bukan untuk tinggal selamanya.
Mereka datang hanya pada satu musim kehidupan.
Membantu kita melewati satu jalan yang sulit.
Kemudian pergi ketika kita sudah bisa berjalan sendiri.
Aku tidak tahu siapa sebenarnya Mila dalam seluruh rangkaian hidupku.
Aku tidak tahu mengapa kemunculannya selalu terasa begitu tepat.
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa menemukan beberapa jawaban ketika aku sendiri bahkan tidak tahu harus bertanya apa.
Dan sekarang aku tidak ingin memaksakan semua itu menjadi sebuah misteri yang harus kupecahkan.
Aku memilih untuk mensyukurinya.
Karena dalam keyakinanku, mungkin Mila adalah salah satu hadiah yang dikirim Allah kepadaku.
Salah satu jawaban dari doa orang-orang yang paling menyayangiku.
Orang-orang yang mungkin tidak tahu persis apa yang sedang terjadi dalam hidupku, tetapi tidak pernah berhenti mendoakanku agar baik-baik saja.
Mungkin pertolongan memang tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan.
Kadang ia datang sebagai seseorang yang mengetuk pintu pada waktu yang tepat.
Duduk sebentar.
Mendengarkan.
Mengatakan sesuatu yang selama ini tidak bisa kita lihat.
Menunjukkan jalan.
Lalu pergi.
Dan meninggalkan kita dalam keadaan sedikit lebih kuat daripada sebelumnya.
Jadi, Mila.....
Kalau suatu hari nanti kau membaca tulisan ini, aku tidak tahu apakah kau akan mengingat semua yang pernah kita lalui.
Mungkin kau bahkan sudah lupa beberapa bagiannya.
Tidak apa-apa.
Aku tidak menulis ini untuk meminta kau kembali.
Aku tidak sedang mencari nomor teleponmu.
Aku tidak sedang mencari keberadaanmu.
Aku hanya ingin mengucapkan satu hal yang mungkin dulu terlalu sibuk untuk kusampaikan:
Terima kasih.
Terima kasih karena berkali-kali datang ketika aku bahkan tidak tahu bahwa aku sedang membutuhkan pertolongan.
Terima kasih karena pernah membantu membuka jalan ketika aku merasa hidupku tidak memiliki jalan keluar.
Terima kasih karena pernah menjadi tempatku bertanya, bercerita, dan menemukan kembali diriku sendiri.
Aku tidak tahu apakah kau benar-benar menyadari seberapa besar arti kehadiranmu dalam hidupku.
Tapi aku tahu sekarang:
aku tidak gila.
Aku hanya pernah tersesat.
Dan kau pernah datang untuk membantuku menemukan jalan pulang.
Setelah itu, hidup terus berjalan.
Aku pulang kepada keluargaku.
Kepada anak-anakku.
Kepada kehidupanku yang sekarang.
Dan kepada diriku sendiri.
Mila mungkin akan datang lagi suatu hari nanti.
Atau mungkin tidak.
Kalau datang, mungkin akan ada cerita baru.
Kalau tidak, biarlah kisah ini tetap menjadi satu bagian indah dari masa lalu.
Tidak perlu dicari.
Tidak perlu dipaksa kembali.
Cukup disyukuri.
Karena ada orang-orang yang tidak ditakdirkan untuk tinggal di rumah kita.
Mereka hanya dikirim untuk menunjukkan jalan pulang.
Dan setelah kita sampai…
mereka boleh pergi.
Sebab akhirnya, aku sudah sampai.
Aku sudah pulang.
Dan kali ini, aku tidak lagi mencari siapa yang harus datang menyelamatkanku.
Aku sudah bisa berjalan sendiri.
Untuk Mila, terima kasih sudah pernah hadir.
Cerita ini selesai di sini.
Dan kalau suatu hari kau datang lagi, biarlah itu menjadi cerita baru.
Yang satu ini sudah selesai.
Aku arsipkan.
❤
Hadiah Yang Tidak Tinggal
Reviewed by okta's pages
on
11:15:00 pm
Rating:
No comments:
Post a Comment