Dia Mengajakku Berteduh, Padahal Dia Sudah Ada di Sana

Ada beberapa kejadian dalam hidup yang semakin lama justru semakin lucu ketika diingat.


Bukan karena saat mengalaminya kita tertawa.

Justru sebaliknya.

Saat itu aku takut setengah mati.

Tapi bertahun-tahun kemudian, ketika semua sudah lewat, aku cuma bisa bertanya-tanya:

Kenapa aku bisa sampai ada di situ?

Kisah ini bermula dari sebuah Kemah Akbar ketika aku masih SMA.

Kegiatan sekolah yang seharusnya sederhana.

Kami pergi bersama satu angkatan, lengkap dengan berbagai kegiatan dan ekskul. Ada upacara, lomba, acara kelompok, kegiatan malam, dan segala macam rutinitas perkemahan.

Hanya saja, tempatnya tidak sesederhana kegiatannya.

Kami dibawa cukup jauh ke sebuah desa di luar kabupaten.

Rumah-rumah warga berdiri berjauhan.

Di antara satu rumah dan rumah lainnya masih banyak lahan kosong, pepohonan, dan hutan.

Beberapa sumur tua juga masih terlihat di sekitar permukiman.

Dan entah kenapa, warga di sana jarang sekali terlihat.

“Orang-orang pada ke mana, sih?” tanyaku kepada teman.

“Entahlah. Mungkin kerja.”

“Atau?”

“Atau apa?”

“Ya... mager di rumah.”

Dia langsung tertawa.

“Ngaco.”

Aku ikut tertawa.

Saat itu aku belum tahu bahwa beberapa jam kemudian aku akan berharap tempat itu punya warga sebanyak-banyaknya.

Karena ketika matahari mulai condong dan sore datang, langit mendadak berubah.

Awan hitam berkumpul.

Angin berembus semakin kencang.

“Kayaknya hujan.”

Belum sempat kami membereskan barang, air turun seperti ditumpahkan dari langit.

Hujan deras.

Angin menghantam tenda.

Petir menggelegar.

Dan dalam waktu singkat, lapangan yang tadinya dipenuhi anak-anak berubah menjadi arena kepanikan.

“WOI! CARI TEMPAT!”

Semua berlari.

Ada yang menyelamatkan barang.

Ada yang mencari teman.

Ada yang masuk ke tenda.

Ada yang bahkan tidak tahu hendak lari ke mana.

Aku sendiri sudah tidak peduli.

Yang penting berteduh.

Saat itulah seseorang tiba-tiba merangkulku.

“Teh, ayo cari tempat!”

Aku menoleh.

Seorang siswi.

Aku tidak mengenalnya.

“Eh?”

Dia tidak menjawab.

Tangannya justru semakin kuat menarikku.

Kami berlari menerobos hujan.

Yang membuatku aneh adalah dia tidak terlihat panik.

Tidak seperti anak-anak lain yang berlarian sambil berteriak.

Dia justru tersenyum, senyum yang sangat lebar nampak bahagia.

Bahkan seperti sedang menikmati perjalanan.

Aku mulai tidak nyaman.

Ini siapa, sih?

Tapi aku terlalu sibuk menyelamatkan diri untuk bertanya.

Kami terus berlari.

Sampai akhirnya aku melihat sekumpulan orang yang sudah lebih dulu berteduh.

Dan di antara mereka...

aku melihat seseorang yang sangat kukenal.

Siswi yang sama.

Wajah yang sama.

Baju yang sama.

Orang yang sama.

Dia sudah duduk di sana.

Aku berhenti.

Perlahan aku menoleh ke samping.

Siswi yang merangkulku masih berdiri di sebelahku.

Masih tersenyum dan melihat ke arahku, senyumnya semakin lebar.

"Sudah sampai atau sudah tau teh?"

Darahku terasa turun ke kaki.

Kalau dia sudah ada di sana...

yang sedang merangkulku ini siapa?

Aku tidak bertanya.

Aku tidak berteriak.

Aku cuma melakukan satu hal yang menurutku paling masuk akal.

Lari.

“Laras!”

Aku tidak peduli siapa yang memanggil.

Aku lari sekuat tenaga.

Licin?

Bodo amat.

Hampir jatuh?

Bodo amat.

Hujan?

Bodo amat.

Yang penting menjauh.


Akhirnya kami dievakuasi ke salah satu rumah warga yang letaknya tidak terlalu jauh dari lapangan.

Aku masuk dalam keadaan basah kuyup.

Tubuhku menggigil.

Napas ngos-ngosan.

Wajah pucat.

Seorang teman yang sudah lebih dulu berada di sana langsung menghampiri.

“Ya Allah, kamu pucet banget!”

“Aku dingin.”

“Nih nih nih handuk.”

Aku menerima handuk.

Dia melihatku dari atas sampai bawah.

“Ayo buka baju.”

Aku melotot.

“Hah?”

“Buka aja.”

Dalam kondisi setengah sadar, aku menurut.

Masuklah aku ke toilet.

Kupikir mungkin mau disuruh berganti pakaian.

Ternyata temanku ikut masuk membawa sesuatu.

Aku belum sempat bertanya ketika...

PLAK!

Balsem Geliga dioleskan ke tubuhku.

“WOI!”

“Biar anget!”

“PANAS!”

“Ya memang!”

“INI BUKAN ANGET!”

Dia terus mengoles.

“Udah!”

“Biar nggak masuk angin.”

“Aku malah mau masuk neraka!”

Entah berapa banyak balsem yang dipakai malam itu.

Yang jelas setelah selesai, tubuhku memang hangat.

Terlalu hangat sampai butuh waktu lama untuk kembali normal. 

"Sialan! "

Drama perbalseman pun berakhir.

Aku kembali bergabung dengan yang lain.

Dan ternyata malam belum selesai.


Saat waktu ibadah tiba, kami berusaha menenangkan diri.

Aku berharap semuanya kembali normal.

Setidaknya untuk beberapa menit.

Tapi ketika ibadah dimulai, baru saja tahiyat awal imam perempuan yang memimpin tiba-tiba menunjukkan perilaku aneh.

Kepalanya jatuh kebelakang ,melihat kami makmum makmum..

Lidahnya terangkat.

Matanya mendongak.

Kemudian terdengar suara tawa kecil.

“Hi... hi...”

Aku menatap teman di sebelah.

Dia menatapku.

Tidak ada yang bicara.

Beberapa detik kemudian suasana berubah. Tawanya makin panjang dan kencang dengan posisi yang masih duduk kepala mendongak mata terbelalak, aduhai seremnyooo.. 

Padahal masih pakai mukena, sedang sholat pula. 

Tapi tetap.. 

Kesurupan.

“Ya Allah...”

Orang-orang mulai panik.

Aku hanya bisa menatap.

Tadi aku ketemu sesuatu yang setan.

Sekarang aku malah diimamin setan. 

Aku mundur perlahan.

Seseorang memanggil.

“Laras. Jangan keluar!”

“Maaf!”

Aku pergi.

Aku takut.

Sangat takut.

Dan ternyata, apa yang terjadi setelah itu jauh lebih kacau.

Satu orang.

Dua orang.

Tiga.

Kemudian semakin banyak.

Kesurupan terjadi di berbagai tempat.

Tangisan terdengar.

Teriakan terdengar.

Orang-orang berusaha menenangkan temannya.

Sebagian membaca doa.

Sebagian hanya bisa menangis.

Akhirnya para kyai, ustaz, dan para sepuh setempat dipanggil.

Mereka datang membantu.

Pengajian dimulai.

Doa dibacakan.

Dan di tengah semua itu ada satu orang yang dianggap paling sulit ditenangkan.

Dia dibaringkan di tengah.

Dikelilingi orang-orang yang membaca doa.

Suasana menjadi semakin serius.

Sementara aku...

lapar.

Kelaparan..

Sangat lapar.

Seharian beraktivitas.

Kehujanan.

Kedinginan.

Lemas.

Tidak ada makanan.

Aku menoleh ke kanan.

Orang menangis.

Menoleh ke kiri.

Orang menangis lagi.

Ke tengah.

Orang sedang didoakan.

Ke luar.

Hujan masih turun.

Dalam hati aku cuma bisa berpikir:

Ya Allah... saya takut.

Saya juga lapar.

Mungkin di situlah tubuhku mulai menyerah.

Aku duduk tidak jauh dari orang yang sedang didoakan.

Awalnya cuma melihat.

Kemudian mataku terasa berat.

Suara orang-orang semakin jauh.

Dan tanpa sadar...

aku tertidur.


Dalam tidur, aku sudah berada di rumah.

Aman.

Hangat.

Tidak ada hujan.

Tidak ada suara orang menangis.

Tidak ada orang kesurupan.

Aku sedang ngobrol santai dengan keluarga.

Semuanya normal.

Sampai tiba-tiba...

BROOOOOOOTTTTT.

Aku terdiam.

Lalu terdengar suara:

“Allah...allah..allah”

Aku menoleh.

BROOOOOOOTTTTT.

“Allah...allah..”

Aku mulai curiga.

Sejak kapan keluarga gue kalau gue kentut pada bilang Allah Allah?

Tapi karena sedang tidur, logika pun akhirnya menyerah.

Ya sudah.

Bodo amat.


Masalahnya...

suara itu ternyata bukan cuma terjadi dalam mimpi.

Di dunia nyata, aku memang sedang tidur.

Di mana?

Di kaki orang yang sedang diruqyah.

Di sekelilingku ada kyai.

Ada ustaz.

Ada para sepuh.

Orang-orang sedang membaca doa.

Dan tiba-tiba...

BROOOOOOOOOOOTTTTTTT.

Hening.

Beberapa kepala menoleh.

Seseorang berbisik.

“Keluar?”

Yang lain menjawab pelan.

“Kayaknya...”

“Berarti reaksinya?”

“Alhamdulillah...”

Sementara aku?

Masih tidur.

Tidak tahu apa-apa.

Tidak tahu bahwa sistem pencernaanku baru saja ikut mengambil peran dalam acara pengobatan.

Tidak tahu bahwa orang-orang sedang membuat kesimpulan masing-masing.

Tidak tahu bahwa dalam beberapa detik, reputasiku sebagai manusia akan mengalami ujian terberat sepanjang masa SMA.

Aku akhirnya terbangun.

Kubuka mata.

Kulihat orang-orang.

Kyai.

Ustaz.

Para sepuh.

Semuanya tampak sibuk.

Aku mengucek mata.

“Kenapa?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Aku mulai curiga.

“Ada apa?”

Seorang teman menatapku.

Kemudian tertawa kecil.

“Udah, nggak apa-apa.”

“Apanya yang nggak apa-apa?”

Dia tidak menjawab.

Sampai akhirnya aku tahu.

Dan saat itu rasanya...

aku ingin mati.

Bukan karena kesurupan.

Bukan karena ketakutan.

Tapi karena malu.

Ternyata suara yang kukira hanya ada di dalam mimpi...

benar-benar keluar di dunia nyata.

Dan karena tempat kejadiannya sangat tidak tepat, muncul berbagai spekulasi.

Ada yang mengira sesuatu telah keluar.

Ada yang mengira itu bagian dari reaksi pengobatan.

Ada yang mungkin menganggap prosesnya berhasil.

Sedangkan kenyataannya?

Aku cuma...

kentut.


Sampai bertahun-tahun kemudian, aku masih membawa satu luka kecil yang tidak pernah benar-benar sembuh:

reuni.

Setiap ada reuni, aku selalu punya alasan.

“Lagi sibuk.”

“Lagi ada acara.”

“Lain kali saja.”

Padahal alasan sebenarnya sederhana.

Aku takut.

Takut ada seseorang yang tiba-tiba mengingat malam itu.

Takut ada yang berkata,

“Eh, kalian masih ingat nggak waktu Kemah Akbar dulu?”

Aku mungkin akan langsung berdiri.

“Maaf, saya pulang dulu.”

“Lho, baru datang.”

“Iya. Saya pulang lagi.”

Karena ada kenangan yang tidak membuat kita sedih.

Tidak membuat kita marah.

Tapi membuat kita ingin menghilang dari muka bumi setiap kali mengingatnya.

Dan sampai sekarang aku masih bergidik mengingat sosok yang merangkulku di tengah hujan sore itu.

Yang aku tahu hanyalah satu:

Aku mengenali orang yang wajahnya sama.

Aku tahu dia ada di tempat berteduh.

Dan aku tahu sosok yang merangkulku tadi bukan dia.

Kalau memang benar yang merangkulku adalah sesuatu yang bukan manusia...

setidaknya dia cukup baik.

Dia melihatku kehujanan dan mengajakku mencari tempat berteduh.

Tidak menakut-nakuti.

Tidak mencelakai.

Hanya...

tersenyum.

Aneh memang.

Tapi mungkin malam itu bukan cuma tentang ketakutan.

Mungkin ada sesuatu yang datang untuk mengantarku ke tempat aman.

Sayangnya, setelah itu...

aku sendiri yang membuat semuanya menjadi kacau.

Dan kalau benar ada sesuatu yang keluar malam itu setelah doa-doa panjang dibacakan...

aku cuma punya satu pesan:

Maaf.

Bukan karena mengusirnya.

Bukan karena membuatnya pergi.

Tapi karena...

kalau memang benar dia setan, harga dirinya sudah hancur gara-gara dikentutin.

Entah bagaimana nasibnya setelah itu.

Tapi aku yakin ada satu hal yang tidak akan pernah bisa dia ceritakan dengan bangga kepada sesama penghuni alamnya:

“Aku berhasil keluar dari tubuh manusia setelah diruqyah.”

Lalu ada yang bertanya:

“Bagaimana caranya?”

Dan dia mungkin cuma diam.

Karena jawaban sebenarnya adalah:

“Dikentutin anak SMA.”

Sejak saat itu aku tidak pernah lagi meremehkan kekuatan sebuah kentut.

Dan mungkin...

setan itu juga tidak.



Dia Mengajakku Berteduh, Padahal Dia Sudah Ada di Sana Dia Mengajakku Berteduh, Padahal Dia Sudah Ada di Sana Reviewed by okta's pages on 10:53:00 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.