Laki-laki Yang Tidak Pernah Ku Kenal, Tapi Entah Bagaimana Menjadi Rumah

Kalau ada yang bertanya bagaimana aku bertemu dengan suamiku, aku mungkin akan tertawa sebelum menjawab.

Bukan karena kisahnya romantis.

Justru karena kalau diceritakan apa adanya, orang mungkin akan mengira aku sedang mengarang.

Aku bahkan tidak mengenalnya.

Tidak pernah pacaran.

Tidak pernah dekat.

Tidak pernah diam-diam menyimpan rasa.

Tidak pernah duduk berdua di sebuah tempat lalu berpikir, “Kayaknya dia orangnya.”

Tidak ada.

Nol.

Kosong.

Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba dia datang ke rumah.

Menjelang magrib.

Bertemu ayahku.

Lalu dengan santainya berkata:

“Pak, saya mau melamar anak Bapak.”

Sementara aku?

NANGIS.

Bukan nangis terharu.

Nangis yang kira-kira artinya:

“PA, INI SIAPA DAN KENAPA HIDUPKU TIBA-TIBA ADA PLOT TWIST?”

Ayahku malah santai.

“Ya silakan.”

Aku:

“PA?!?!?”

Ayah:

“Rasain.”

😭

Begitulah awal kisah pernikahanku.

Bukan first date.

Bukan first kiss.

Bukan falling in love.

Tapi:

“Pak, saya mau melamar anak Bapak.”

Dan ayahku berkata iya sebelum aku sempat memahami situasi.


Yang lebih gila, setelah bertahun-tahun menikah, aku baru tahu bahwa sebenarnya hidup sudah berkali-kali mempertemukan kami sebelum kami benar-benar bertemu.

Kami tinggal tidak terlalu jauh satu sama lain.

Kami pernah berada dalam lingkungan pekerjaan yang beririsan.

Dia pernah menjadi salah satu orang yang terlibat dalam kegiatan ketika aku KKN.

Aku tidak mengenalnya.

Aku pernah menjalani kehidupan kuliah yang ternyata bersinggungan dengan salah satu orang dari masa lalunya.

Aku tidak tahu.

Bahkan sahabatku sejak SMP ternyata memiliki hubungan keluarga dengannya.

Aku bersahabat bertahun-tahun.

Aku tahu banyak hal tentang sahabatku.

Tapi keluarganya yang satu itu?

Tidak tahu.

Tidak pernah melihat.

Tidak pernah bertemu.

Tidak pernah curiga.

Seolah-olah hidup sengaja membuat kami berjalan di jalan yang sama berkali-kali sambil berkata:

“Belum. Jangan dulu.”

Lalu suatu hari:

“Nah, sekarang.”

Dan dia muncul di rumahku.

Minta izin kepada ayahku.

😭


Akhirnya kami menikah, usia kami terpaut tujuh tahun.

Tidak terlalu jauh sebenarnya.

Tapi cukup untuk membuat kami memiliki masa kecil dan referensi yang berbeda.

Ketika dia sudah SD, aku baru lahir.

Jadi jangan heran kalau aku membicarakan acara televisi masa kecil dan dia hanya memandangku seperti sedang mendengarkan presentasi tentang sejarah peradaban.

“Kamu ingat acara ini?”

“Nggak.”

“Kok nggak tahu?”

“Ya nggak tahu.”

YA KARENA LU SUDAH SD WAKTU GUE BARU LAHIR, BANG.

😭

Aku tumbuh dalam keluarga kecil.

Hanya dua bersaudara.

Aku cucu perempuan pertama.

Aku relatif berkecukupan dan sejak kecil cukup dimanjakan.

Dia dari keluarga besar, 14 bersaudara yang bahkan bisa jadi satu klub bola.

Keluarganya pernah berada di puncak kejayaan, kemudian keadaan berubah setelah satu dan lain hal. 

Kami membawa dua cara hidup yang sangat berbeda ke dalam rumah yang sama.

Aku terbiasa diperhatikan.

Dia terbiasa mandiri.

Aku detail.

Dia:

“Yang penting selesai.”

Aku suka tempat estetik.

Dia cukup warung.

Aku suka seafood.

Dia melihat seafood seperti:

“Kenapa harus begitu mahal?”

Aku suka belanja ini itu.

Dia belanja kalau ingat.

Dan ketika aku sudah membuat daftar yang panjang, lengkap dengan spesifikasi, merek, jumlah, dan kemungkinan kesalahan—

dia pulang membawa:

barang yang salah.

😭

Aku:

“Aku bilang yang ini.”

Dia:

“Oh.”

Aku:

“Kenapa belinya yang itu?”

Dia:

“Kirain yang itu.”

KIRAIN.

Satu kata yang mampu membuat seorang perempuan detail kehilangan kedamaian batin. 😂


Tapi ada sesuatu yang baru kusadari setelah bertahun-tahun.

Dia sebenarnya bukan laki-laki yang tidak mau mengurus rumah.

Justru dia cukup rapi.

Kadang malah lebih apik dariku.

Dia suka membereskan rumah.

Memasak, mencuci dan segala pekerjaan rumah tangga. 

Dia bisa mengurus kebutuhan pribadinya sendiri.

Sejak awal menikah dia sudah berkata:

“Bajuku tidak perlu dicucikan. Aku bisa sendiri sekalian dengan bajumu.”

“Kopi juga bisa sendiri, tidak perlu dibuatkan.”

Dan dia benar-benar melakukannya.

Aku tidak menikah dengan laki-laki yang menuntut istrinya menjadi pelayan.

Malah sejak awal dia sering memanjakanku.

Setiap hari, dia bisa memijatku sampai aku tertidur. 

Dan itu di tiru oleh anak pertamaku. 

Kalau aku ingin sesuatu, selama masih bisa dia usahakan, dia usahakan.

Kalau aku pergi bersamanya, dia sering hanya mengikuti keinginanku.

Aku:

“Mau makan ini.”

Dia ikut.

“Mau ke sana.”

Ikut.

“Mau naik itu.”

Ikut.

“Mau foto.”

Nah.

Ini masalah.

Karena dia tidak suka memotret. 😭

Aku:

“Foto dong.”

Dia:

“Nggak usah.”

Aku:

“KENAPA?”

Dia:

“Ya nggak usah.”

Sementara dulu aku terbiasa ada orang yang tanpa diminta memotretku.

Jadi kadang aku berpikir:

“Kok kamu nggak peka sih?”

Padahal mungkin di kepalanya:

“Saya kan ada di sini.”

Dan itulah masalah kami.

Aku membutuhkan banyak hal dalam bentuk ekspresi.

Dia sering memberikan dalam bentuk kehadiran dan tindakan.


Kalau kami pergi bersama anak-anak, aku bisa berubah menjadi pemandu wisata.

“Kita makan ini.”

“Eh lihat itu!”

“Naik itu yuk!”

“Eh ke sana!”

“Anak-anak mau yang ini.”

“Foto dulu!”

Sementara dia berjalan di belakang atau di sampingku.

Diam.

Mengikuti.

Kadang wajahnya sudah seperti buku yang terbuka.

Aku lihat wajahnya.

Aku:

“Kamu kenapa?”

Dia:

“Nggak kenapa-kenapa.”

Aku:

“Itu muka kamu kenapa?”

Dia:

“Biasa.”

Aku:

“MUKA KAMU NGOMONG LAIN.”

😭

Dia irit bicara.

Aku bisa bicara untuk satu rumah.

Kami memang pasangan yang agak tidak masuk akal.

Bahkan tinggi badan kami berbeda lebih dari 30 sentimeter.

Kalau berdiri bersama, aku seperti mengambil posisi versi mini.

Aku kadang melihat ke atas hanya untuk bertanya:

“Kenapa sih kamu tinggi banget?”

Seolah dia sengaja.

😂


Bahkan saat tidur pun kami seperti berasal dari spesies berbeda.

Aku bergerak.

Anak bergerak.

Aku geser.

Anak geser.

Selimut pindah.

Bantal berubah posisi.

Sementara dia?

Tetap.

Seperti baru saja diletakkan di sana oleh petugas gudang.

😭

Aku sampai kadang berpikir:

“Ini orang tidur atau sedang menjaga wilayah?”


Tetapi ada satu hal yang tidak pernah benar-benar kuragukan.

Dia sayang kepadaku.

Caranya saja tidak umum.

Dia tidak pandai memotret.

Tidak pandai mengobrol panjang.

Tidak selalu peka terhadap hal-hal kecil.

Tidak otomatis melihat semua pekerjaan yang harus dilakukan.

Dalam beberapa hal harus disuruh.

Harus diingatkan.

Dan kadang harus kujelaskan berulang-ulang.

Itu membuatku lelah.

Sangat lelah.

Apalagi ketika urusan anak lebih banyak berada di tanganku karena pekerjaannya memang membuatnya jarang berada di rumah.

Dia sayang kepada anak-anak.

Tetapi hadir secara fisik tidak selalu mudah baginya.

Dan ketika seorang ibu sudah lelah, perbedaan antara:

“Dia tidak mau hadir”

dan

“Dia memang jarang bisa hadir karena pekerjaannya”

kadang menjadi kabur.

Yang terasa tetap sama:

aku sendirian.


Aku bukan orang yang suka memendam.

Kalau ada masalah, kubicarakan.

Aku jelaskan.

Aku tulis.

Aku ulang.

Aku mencoba membuatnya memahami apa yang sebenarnya kurasakan.

Tetapi sering kali pembicaraan kami tersandung hal yang sama.

Egoku tersinggung.

Egonya tersinggung.

Aku merasa tidak didengar.

Dia merasa diserang.

Aku menjelaskan lebih panjang.

Dia semakin diam.

Aku semakin kesal.

Dia semakin tidak bicara.

Dan akhirnya aku menjadi orang yang paling banyak bicara di rumah sekaligus orang yang paling lelah.

Sampai suatu hari aku benar-benar habis.

Aku berkata:

“Kita cerai saja.”

Dan dia menjawab:

“Silakan, kamu yang mengajukan.”

Aneh.

Aku tidak menangis.

Tidak takut.

Tidak menyesal.

Tidak merasa kehilangan.

Aku hanya...

tenang.

Mungkin karena saat itu aku sudah terlalu lama mempersiapkan kemungkinan kehilangan.

Tapi siangnya dia menangis.

Meminta maaf.

Dan sejak itu sesuatu berubah.

Bukan kasih sayangnya.

Karena kasih sayang itu sudah ada sejak awal.

Yang berubah adalah kesadarannya.

Dia mulai mendengar lebih serius.

Pendapatku didengar.

Protesku didengar.

Keluhanku tidak lagi dianggap sekadar ledakan emosi.

Dan aku mulai melihat bahwa mungkin selama ini dia memang tidak memahami seberapa jauh aku sudah kelelahan.

Aku belum percaya sepenuhnya.

Aku masih mengamati.

Aku tahu manusia bisa berubah sementara.

Jadi aku tidak mau menilai dari beberapa minggu.

Aku akan melihat waktu.


Ada satu hal yang lucu.

Dia sangat manut terhadap banyak hal yang kukatakan.

Kadang sampai membuatku kesal.

Aku memilih.

Dia ikut.

Aku menentukan.

Dia ikut.

Aku ingin ke sana.

Dia mengantar.

Aku ingin makan itu.

Dia ikut.

Aku ingin melakukan ini.

Dia ikut.

Sampai suatu hari aku berteriak:

“LU PUNYA PENDAPAT SENDIRI NGGAK SIH?”

🤣

Tapi ternyata ada beberapa hal yang dia punya pendapat kuat.

Salah satunya soal pakaianku ketika keluar rumah.

Dia ingin aku berpakaian tertutup.

Kalau menurutnya terlalu terbuka, dia protes.

Di situlah aku kadang merasa:

“Oh, ternyata yang selama ini diam juga punya tombol.”

😂

Tapi di balik itu aku tahu ada rasa sayang dan protektif yang besar.

Caranya mungkin tidak selalu cocok denganku.

Tetapi perasaannya nyata.


Dulu aku sering membandingkannya.

Itu tidak bisa kupungkiri.

Aku pernah mengenal laki-laki yang lebih peka.

Lebih cerewet.

Lebih romantis.

Lebih seru.

Lebih cocok diajak ngobrol.

Lebih spontan mengambil foto.

Lebih mirip denganku.

Dan semuanya hampir seusia denganku.

Maka ketika kubandingkan, suamiku hampir selalu kalah.

Tapi sekarang aku mulai berpikir:

bukankah itu tidak adil?

Mereka tumbuh di generasi yang sama denganku.

Punya referensi budaya yang mirip.

Mungkin punya bahasa kasih yang lebih mirip.

Sedangkan suamiku datang dari dunia yang berbeda.

Aku tidak bisa meminta dia menjadi kumpulan semua hal yang kusukai dari laki-laki lain.

Dia bukan mereka.

Dia adalah dia.

Dan ternyata, ketika aku berhenti membandingkan sebentar...

aku menemukan banyak hal yang selama ini terlewat.


Dia tidak suka memotretku.

Tapi dia memijatku sampai tidur.

Dia tidak banyak bicara.

Tapi dia mendengarkan ketika aku benar-benar menyampaikan sesuatu.

Dia tidak pandai merencanakan detail.

Tapi rumah bisa dia rapikan.

Dia tidak selalu hadir bersama anak karena pekerjaan.

Tapi bukan berarti dia tidak sayang kepada mereka.

Dia tidak romantis dengan cara yang biasa kutemui.

Tapi dia memanjakanku sejak awal.

Dia tidak suka jajan. 

Tapi mau mengantarkanku.

Dia tidak suka banyak hal yang kusukai.

Tapi sering tetap ikut.

Dia tidak banyak bertanya:

“Kamu mau apa?”

Tetapi kadang hanya berkata:

“Ya sudah, terserah kamu.”

Yang dulu kuanggap tidak punya inisiatif.

Sekarang kadang kupikir:

mungkin sebagian dari itu adalah bentuk kepercayaan.

Tentu saja aku tetap ingin dia lebih berinisiatif.

Tetap.

Aku tidak mau meromantisasi kekurangannya.

Tapi aku juga tidak ingin menghapus kebaikannya.


Lalu ada dua anak.

Dua buah cinta.

Dua manusia kecil yang membuat seluruh cerita ini menjadi jauh lebih besar daripada sekadar pertanyaan:

“Apakah aku menikahi orang yang tepat?”

Karena sekarang ada kehidupan yang kami bangun bersama.

Ada rumah.

Ada rutinitas.

Ada tawa.

Ada tangis.

Ada malam-malam ketika anak sakit.

Ada pagi-pagi ketika semua orang terburu-buru.

Ada tubuh yang lelah.

Ada uang yang harus dihitung.

Ada pekerjaan.

Ada kekacauan.

Ada kehidupan nyata.

Dan di tengah semuanya...

kami masih bersama.

Bukan karena semuanya mudah.

Justru karena tidak mudah.


Kalau kupikir lagi, mungkin yang paling aneh bukan bagaimana kami bertemu.

Yang paling aneh adalah:

betapa banyak hal yang seharusnya membuat dua orang menyerah, tetapi kami masih sampai di sini.

Kami berbeda dalam hampir semua hal.

Usia.

Latar belakang.

Kebiasaan.

Selera.

Cara berkomunikasi.

Cara menikmati hidup.

Cara menunjukkan kasih sayang.

Pekerjaan. 

Bahkan warna kulit.

Zodiak. 

Hari lahir. 

Primbon dan apalah itu.. 

😂

Kalau memang ada tabel kecocokan manusia, mungkin sejak awal sistem sudah error.

Tapi ternyata hidup bukan tabel.


Mungkin aku selama ini terlalu sering melihat pernikahanku dari titik ketika aku sedang paling lelah.

Dan dari sana semuanya tampak buruk.

Kesalahan kecil menjadi sangat besar.

Diamnya terasa seperti tidak peduli.

Lupanya terasa seperti aku sendirian.

Ketidakhadirannya terasa seperti tidak sayang.

Perbedaannya terasa seperti ketidakcocokan.

Sampai aku lupa melihat seluruh gambar.

Laki-laki ini tidak sempurna.

Sama sekali tidak.

Dia masih harus belajar berinisiatif.

Masih harus belajar mengingat.

Masih harus belajar hadir lebih banyak dalam kehidupan anak ketika keadaan memungkinkan.

Masih harus belajar berkomunikasi tanpa membiarkan ego mengambil alih.

Dan aku juga punya pekerjaan rumahku sendiri.

Aku harus belajar membedakan antara tidak sesuai ekspektasi dan tidak mencintai.

Antara berbeda dan salah.

Antara tidak romantis dan tidak peduli.

Antara tidak peka terhadap detail dan tidak memperhatikan sama sekali.

Karena ternyata ada perbedaan besar di sana.


Malam ini, kalau aku ditanya:

“Apakah suamimu laki-laki yang sempurna?”

Aku akan tertawa.

“Jelas tidak.”

Kalau ditanya:

“Apakah kalian cocok?”

Aku mungkin akan menjawab:

“Tergantung cocok yang mana.”

Untuk jajan?

Tidak.

Untuk makanan?

Tidak.

Untuk nostalgia TV?

Sama sekali tidak. 😂

Untuk ngobrol?

Kadang aku bicara sendiri.

Untuk belanja?

Tolong jangan suruh dia membeli sesuatu tanpa pengawasan. 😭

Tapi untuk menjalani hidup?

Entah.

Tujuh tahun sudah menjawab sebagian pertanyaannya.

Dan dua anak yang sekarang memanggil kami Mama dan Baba adalah bagian dari jawabannya.


Mungkin jodoh memang tidak selalu datang sebagai seseorang yang langsung membuat hati berdebar.

Kadang dia datang sebagai:

orang asing yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah ayahmu.

Kadang kamu bahkan tidak mengenalnya.

Kadang kamu menangis ketika tahu dia ingin menikahimu.

Kadang teman-temanmu tidak percaya.

Kadang kamu sendiri tidak percaya.

Kadang kalian bertengkar sampai kamu berkata ingin pergi.

Kadang kamu bertanya apakah semua ini layak diteruskan.

Tetapi kemudian kamu berhenti.

Melihat rumah.

Melihat dua anak.

Melihat laki-laki yang diam-diam membereskan sesuatu.

Yang sejak awal suka memijat dan memanjakanmu.

Yang tidak pandai berkata-kata tetapi tetap berusaha.

Yang masih harus banyak belajar.

Dan kamu akhirnya bisa mengakui sesuatu yang dulu sulit sekali kaukatakan:

“Ternyata dia tidak seburuk itu.”

Bukan berarti semua lukaku hilang.

Bukan berarti semua kekurangannya menjadi benar.

Bukan berarti aku harus berhenti meminta perubahan.

Tapi mungkin aku sudah cukup lama melihatnya dari sisi yang paling melelahkan.

Sekarang aku ingin melihatnya secara utuh.

Laki-laki yang tidak kukenal itu.

Laki-laki yang bahkan ketika hidup kami berkali-kali hampir berpisah, masih menjadi orang yang sama-sama membesarkan dua anak bersamaku.

Laki-laki yang cintanya tidak selalu datang dalam bentuk yang kukenal.

Laki-laki yang caranya mencintaiku memang tidak umum.

Dan mungkin...

justru karena itulah aku perlu belajar mengenal bahasanya.

Bukan untuk memaksa diriku menerima semuanya.

Tapi supaya aku tidak lagi hanya menghitung apa yang kurang.

Supaya ketika melihat masa lalu, aku tidak cuma mengingat pertengkarannya.

Supaya aku bisa berkata:

“Kami memang tidak sempurna.”

Lalu tersenyum.

“Tapi ternyata kami juga tidak seburuk itu.”

Dan kalau memang kami masih diberi kesempatan untuk berjalan lebih jauh...

semoga kali ini kami tidak hanya bertahan bersama.

Semoga kami benar-benar belajar hidup bersama.

Karena mungkin sejak awal...

aku memang tidak ditakdirkan mendapatkan laki-laki yang seperti semua laki-laki yang pernah kukenal.

Aku mendapatkan dia.

Dan setelah tujuh tahun, setelah dua anak, setelah semua tawa dan air mata—

aku akhirnya mulai mengenal laki-laki itu. ❤️



Laki-laki Yang Tidak Pernah Ku Kenal, Tapi Entah Bagaimana Menjadi Rumah Laki-laki Yang Tidak Pernah Ku Kenal, Tapi Entah Bagaimana Menjadi Rumah Reviewed by okta's pages on 12:18:00 am Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.