2020 — Tahun ketika aku menjadi ibu, di saat dunia sedang kacau
Tahun 2020.
Kalau sekarang mengingatnya, rasanya seperti mengingat satu kehidupan yang berbeda.
Dunia sedang ketakutan.
COVID datang dan semua orang mendadak belajar tentang masker, jaga jarak, cuci tangan, pembatasan, rumah sakit, dan segala macam istilah yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikir akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sekolah tutup.
Warung, toko, banyak yang tutup.
Orang-orang membatasi keluar rumah.
Jalanan sepi.
Dan di tengah dunia yang sedang kacau itu, aku sedang mengandung anak pertama.
Aku belum tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.
Aku bahkan belum tahu bagaimana rasanya melahirkan.
Yang aku tahu cuma satu: ada bayi besar di dalam perutku yang sebentar lagi harus keluar.
Dan ternyata, drama sudah dimulai bahkan sebelum dia lahir.
---
Waktu usia kandunganku sekitar delapan bulan, aku pergi ke dokter kandungan laki-laki di kota.
Hasil pemeriksaannya membuatku langsung lemas.
Katanya bayiku sudah besar.
Terlalu besar untuk ukuran usia kandungan saat itu.
Aku diminta mempersiapkan persalinan lebih cepat karena kalau terlalu lama dikhawatirkan akan berbahaya.
Lalu ada satu hal lain yang membuat kepalaku semakin penuh.
Xxx juta rupiah.
Saat itu, xxx juta bukan uang yang tinggal mengambil dari dompet.
Kami belum siap.
Belum siap secara mental.
Belum siap secara finansial.
Belum siap menghadapi kemungkinan bahwa anak pertama kami akan lahir lebih cepat dari perkiraan.
Sepanjang perjalanan pulang, aku menangis.
Nangis yang bukan cuma karena takut.
Aku menangis karena rasanya hidup tiba-tiba meminta sesuatu yang belum sanggup aku berikan.
“Kenapa sekarang?”
“Bagaimana kalau anakku lahir?”
“Bagaimana melahirkannya?”
“Uangnya dari mana?”
“Dia belum waktunya lahir, kan?”
Aku tidak tahu harus takut pada yang mana dulu.
Akhirnya kami mencari alternatif lain.
Ada seorang dokter perempuan dekat rumah, tetapi jadwal praktiknya sulit. Hanya akhir pekan.
Kami datang.
Dan ternyata dokter itu juga mengatakan hal yang kurang lebih sama.
Bayiku besar.
Tetapi aku memilih menunggu.
Dalam kepalaku saat itu hanya ada satu keyakinan sederhana:
“Belum waktunya.”
Jadi kami pulang.
Menunggu.
Menabung.
Berharap.
Sampai akhirnya waktu benar-benar mendekati HPL.
---
Saat itu bulan Ramadan.
Orang-orang sedang tidur.
Sementara aku?
Aku tidak bisa tidur.
Kontraksi.
Bolak-balik toilet.
Pipis terus.
Kontraksi lagi.
Toilet lagi.
Sampai akhirnya keluar lendir bercampur darah.
Aku mulai berpikir,
“Oh... ini benar-benar mau lahir.”
Ada banyak pilihan saat itu, kemana? Aku harus kemana?
Akhirnya kuputuskan, tidak pergi ke puskesmas.
Tidak ke bidan.
Mari selesaikan di klinik.
Pagi-pagi langsung pergi ke klinik.
Dokter marah, beliau menyesalkan kenapa baru sekarang harusnya sudah dari minggu lalu bahkan dari awal periksa..
Ternyata, Pembukaan dua.
Aku masih ingat bagaimana rasanya ketika mendengar angka itu.
Dua.
Setelah berjam-jam kesakitan.
Aku berharap mungkin semuanya akan berjalan cepat.
Ternyata beberapa jam kemudian diperiksa lagi.
Baru bertambah setengah.
Setengah. Hanya setengah.
Di tengah rasa sakit yang semakin menjadi-jadi, aku diberi obat untuk merangsang kontraksi.
Obat yang diletakkan di bawah lidah.
Sakitnya bertambah berkali kali lipat. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku makan.
Beberapa jam kemudian kembali di periksa, dan aku ditawari untuk tambah dosis obat perangsang dengan catatan tambahan :
Bayiku besar.
Kemungkinan tidak bisa lahir pervaginam.
Aku yang sedang mules langsung seperti,
“Hah?”
Aku sampai berpikir:
"Buat apa minum obat ini lagi malah tambah mules, tetapi anaknya memang tetap tidak bisa dilahirkan normal, terus mules tambahannya buat apa?"
Aku benar-benar gedeg.
Tapi ternyata itu baru pembukaan dari drama yang jauh lebih panjang.
Aku dirujuk ke rumah sakit besar di kota tempat dokter tersebut bekerja.
Operasi dijadwalkan besok.
Jam satu siang.
Kami pulang. Sesegera mungkin mempersiapkan segala sesuatunya.
Dan aku menangis lagi.
Lapar.
Mules.
Ngantuk.
Takut.
Campur semuanya.
Aku belum pernah menjadi ibu.
Belum pernah operasi.
Belum pernah mengalami persalinan.
Dan sekarang semuanya terasa seperti terjadi terlalu cepat.
---
Hari itu juga kami datang ke rumah sakit.
Kupikir akhirnya selesai.
Ternyata...
belum.
Aku malah seperti tidak dianggap.
Katanya,
«“Tunggu saja. Namanya juga orang mau melahirkan, memang sakit. Wajar. ”»
Ya Allah.
Aku sedang menahan sakit yang rasanya sudah tidak masuk akal.
Aku sampai sujud-sujud menahan kontraksi.
Lututku berdarah.
Aku tidak peduli.
Yang kupikirkan cuma bagaimana caranya melewati satu kontraksi lagi.
Lalu satu lagi.
Lalu satu lagi.
Saat itu ada pasien COVID.
Nakes pun ketakutan.
Maklum.
Itu masa awal pandemi.
Semua orang belum tahu persis harus bagaimana menghadapi penyakit yang baru saja mengubah seluruh dunia.
Rumah sakit tegang.
Orang-orang takut.
Dan aku?
Aku cuma seorang ibu pertama kali yang sedang kesakitan dan ingin anaknya segera keluar.
Kemudian lendirku berubah hijau.
Aku diberi tahu tidak apa-apa.
Tunggu saja.
Siapa tahu ada mukjizat.
Siapa tahu aku bisa melahirkan normal.
Aku cuma bisa:
“Ya Allah...”
“Ya Allah...”
“Ya Allah...”
Aku sudah tidak punya banyak kata lagi.
---
Besoknya datang.
Dan rupanya hidup belum puas menguji kesabaranku.
Dokter salah mengoperasi orang.
Iya.
Salah orang.
Jadwal operasi kacau.
Aku yang seharusnya operasi jam satu siang harus menunggu lagi.
Lalu datang berita berikutnya:
Obat habis.
Aku harus pindah rumah sakit.
Di titik itu aku sudah bukan sekadar takut.
Aku sudah habis.
Habis tenaga.
Habis sabar.
Habis air mata.
Habis logika.
Kami melakukan negosiasi panjang.
Dan di tengah semua kekacauan itu, ada satu tenaga kesehatan yang tidak menyerah.
Dia menangis.
Memohon.
Lari ke sana kemari.
Berusaha mencari jalan supaya aku bisa dioperasi hari itu juga.
Mungkin dia melihat tubuhku yang sudah seperti setengah hidup.
Aku sendiri sudah pasrah.
Saking pasrahnya, aku bahkan membuat wasiat.
Kalau aku mati, ya sudah.
Yang penting anakku keluar.
Yang penting anakku selamat.
Aku tidak lagi berpikir tentang bagaimana nanti.
Aku cuma ingin semuanya selesai.
---
Hari mulai gelap , adzan baru selesai dikumandangkan ..
Samar aku melihat suamiku menangis disebelahku ,matanya merah, garis kemarahan tersirat di sudut matanya. Tangannya mengepal keras.
Perlahan tangannya mengelus kepalaku, halus sekali, sambil membenamkan kepalanya di lenganku dan entah ucapan apa yang disampaikannya saat itu.
Penglihatan dan pendengaran ku semakin samar , orang-orang berlarian, lalu dari pengeras suara tiba-tiba terdengar:
“CITO! CITO! CITO! CODE BLUE CODE BLUE..........”
Suasana berubah.
Dokter-dokter yang sudah bersiap pulang kembali lagi.
Aku didorong.
Di gotong.
Pindah kasur.
Brak.
Bruk.
Di pasang ini dan itu.
Suntik sana.
Suntik sini.
Semua berlangsung cepat.
Terlalu cepat.
Tidak ada waktu untuk berpikir.
Tidak ada waktu untuk takut.
Aku pasrah.
Dan
Gelap.
---
Ketika aku sadar...
Aku melihat dokter yang banyak sekali. Semua masih memakai baju hijau dengan wajah serta kepala tertutup.
Mereka mengajakku bicara, aku tidak ingat.
Aku di dorong kembali pindah kasur.
Ada suamiku.
Menangis.
Lagi-lagi menangis
Ternyata aku tidak jadi pergi.
---
Hari sudah pagi.
Badanku sangat kaku dan aku masih belum diperbolehkan makan apapun sampai 12 jam kemudian, entah karena apa.
Sialnya aku belum sempat makan apapun sejak dua hari yang lalu.
Ditengah keadaan itu, ada yang janggal..
Dimana anakku??
Bagaimana keadaannya?
Apakah dia sedang dimandikan ?
Dia selamat? Atau...
Hening , hanya saling pandang..
Aku mendesak, terus bertanya hingga akhirnya datang seseorang menjelaskan.
Nyatanya anakku tidak langsung menangis ketika lahir.
Ada aspirasi.
Ada bagian yang bermasalah.
Tubuhnya bengkak.
Katanya kami beruntung.
Dia harus mendapat penanganan.
Dia masuk NICU.
Dan aku?
Aku bahkan belum sempat merasakan kalimat:
“Selamat, Bu. Anak ibu sudah lahir dan Anda sudah menjadi ibu.”
Kalimat yang hanya kudengar dari platform dari media dan tidak bisa kudengar langsung. Bahkan tidak pernah.
Aku hanya tahu bahwa anakku ada.
Dia selamat. Dia sempurna.
Hanya saja dia harus dirawat lebih.
Sedihnya, aku tidak bisa langsung memeluknya. Bahkan tidak tau bagaimana rupanya.
Dua hari kemudian, aku mulai belajar berjalan.
Aku alergi analgesik.
Tubuhku baru saja menjalani operasi.
Tapi aku tidak punya pilihan.
Aku ingin melihat anakku.
Jadi aku belajar berdiri.
Belajar berjalan.
Dengan rasa sakit yang luar biasa.
Anakku berada di lantai yang berbeda denganku dan aku harus berjalan untuk menemuinya.
Sialnya, waktuku sudah harus pulang. Suka tidak suka waktuku habis.
Aku tidak mau.
Aku memilih tidur di emperan rumah sakit. Didepan ruang nicu dan berpindah kemanapun tempat yang bisa dipakai.
Rumah sakit dan rumah kami berjarak sekitar dua jam.
Malas sekali jika harus pulang pergi, tidak bisa dan tidak mau.
Dikondisi saat itu , lebih baik aku bertahan sekali lagi.
---
Disini
Aku dan suamiku hanya berdua.
Tidak ada keluarga yang menemani.
Tidak ada yang menunggu di samping tempat tidur.
Tidak ada yang menggantikan aku.
Aku harus mengurus diriku sendiri sambil memikirkan bayi yang sedang dirawat.
---
Enam hari.
Enam hari aku berada di sana.
Dengan pakaian seadanya.
Makanan seadanya.
Uang yang...
ah, sudahlah.
Aku tidak mau mengingat bagian itu terlalu lama.
Yang kupikirkan cuma anakku.
Di NICU ada banyak bayi.
Banyak ibu menunggu.
Banyak cerita.
Ada bayi yang membaik.
Ada bayi yang masih berjuang.
Ada monitor yang terus terjaga.
Dan ada hari ketika monitor bayi di sebelah berbunyi panjang..
dan bayi itu pergi meninggalkan dunia dan seisinya.
Aku melihatnya.
Orang-orang berlarian , berusaha, berdoa, juga tangisan..
Lalu hari berikutnya ada lagi.
Setiap hari seperti ada pengingat bahwa tempat itu bukan tempat yang tenang.
Di sana, kehidupan dan kematian seperti berdiri bersebelahan.
Dan aku duduk di sana sambil menggendong anakku.
Mengajaknya bicara.
Memeluknya.
Aku tidak mau melepaskannya.
Aku terus berdo'a, bershalawat.
Mencoba membangun bonding.
Aku terus bilang,
“Ayo, Nak.”
“Kita pulang.”
“Kita istirahat, kita bisa.”
Aku bicara seolah-olah dia benar-benar mengerti.
Bayiku terus menatap, dan menempel padaku.
Matanya jernih sekali.
Jemari mungilnya terus menggenggamku.
Mungkin dia memang tidak mengerti kata-kataku.
Tapi aku perlu mengatakan itu.
Karena aku juga sedang meyakinkan diriku sendiri.
Kita akan pulang.
---
Aku bahkan sampai dimarahi tenaga kesehatan berkali-kali.
Disuruh pulang.
Disuruh makan banyak.
Disuruh istirahat.
Mungkin mereka kesal melihat aku terus berada di sana dengan gelang pasien masih menempel di pergelangan tanganku.
Tapi bagaimana aku bisa pulang?
Jarak rumah memakan waktu dua jam.
Anakku ada di NICU.
Aku adalah ibunya.
Aku ingin dia tahu bahwa meskipun dia berada di ruangan itu, ibunya ada dan akan selalu ada dalam kondisi apapun.
Jadi aku bertahan.
Enam hari.
Sampai akhirnya...
kami pulang.
Kupikir ketika pintu rumah terbuka, semuanya akan selesai.
Ternyata justru di situlah tubuhku menyerah.
---
Aku ambruk.
Benar-benar ambruk.
Untuk bangun saja sangat sulit.
Ke manapun aku merangkak.
Tubuhku sakit.
Lukaku panas, perih sekali.
Sakit yang rasanya tidak bisa dijelaskan kepada orang yang tidak pernah mengalaminya.
Tapi orang-orang melihat ibu lain.
Mereka melahirkan normal.
Mereka baik-baik saja.
Mereka bisa berjalan.
Mereka bisa beraktivitas.
Maka ketika aku kesakitan, mungkin aku dianggap lebay.
Aku mendengar komentar.
Aku mendapat hujatan.
Aku berusaha menjelaskan.
Tapi semakin lama, aku bahkan tidak punya tenaga untuk menjelaskan.
Aku hanya tahu:
aku sakit.
Dan tidak ada yang benar-benar mengerti.
Aku berjuang sendirian.
Tubuhku belum pulih.
Pikiranku belum pulih.
Anakku baru saja keluar dari NICU.
Aku sendiri baru saja melewati persalinan yang penuh kekacauan.
Dan kemudian...
ASI-ku hilang.
Stres.
Baby blues.
Sedih.
Marah.
Kacau.
Semuanya datang sekaligus.
Kadang aku berpikir,
“Aku harus bagaimana lagi?”
Untungnya aku masih waras.
Masih bisa berdiri.
Masih bisa mengurus anak.
Masih bisa bekerja.
Walaupun sebenarnya aku sendiri tidak tahu dari mana tenaga itu berasal.
---
Karena aku masih honorer.
Belum empat puluh hari setelah melahirkan, aku harus kembali bekerja.
Kalau tidak masuk, aku bisa dianggap mengundurkan diri.
Jadi bahkan sebelum tubuhku benar-benar pulih, aku harus kembali menjadi guru.
Dunia tidak memberiku waktu untuk menjadi ibu yang baru melahirkan.
Tidak ada cuti panjang yang nyaman.
Tidak ada keluarga yang datang menggantikan.
Tidak ada seseorang yang berkata,
“Sudah. Kamu istirahat saja. Biar kami yang urus.”
Aku hanya punya diriku sendiri.
Dan suamiku.
Kami berdua.
Berusaha bertahan.
---
Bertahun-tahun kemudian, kalau aku mengingat semuanya, rasanya aneh.
Ada sedih.
Ada marah.
Ada takut.
Ada malu karena dulu aku pernah merasa begitu hancur.
Ada rasa kehilangan terhadap sesuatu yang bahkan tidak bisa kusebut namanya.
Dan ada satu hal lain:
kasihan.
Kasihan kepada perempuan yang dulu.
Perempuan yang menangis sepanjang perjalanan karena diberi tahu bayinya harus segera lahir.
Perempuan yang menahan kontraksi semalaman di bulan Ramadan.
Perempuan yang sujud sampai lututnya berdarah.
Perempuan yang harus berpindah rumah sakit.
Perempuan yang membuat wasiat karena sudah tidak tahu apakah dirinya akan baik-baik saja.
Perempuan yang bangun dari bius tetapi tidak langsung bisa memeluk anaknya.
Perempuan yang berjalan dengan tubuh penuh luka menuju NICU.
Perempuan yang duduk di sana enam hari dengan pakaian seadanya.
Perempuan yang melihat bayi lain pergi untuk selamanya.
Perempuan yang akhirnya pulang lalu bahkan tidak mampu berjalan bahkan untuk ke toilet.
Perempuan yang dikira lebay.
Perempuan yang kehilangan ASI karena tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah.
Perempuan yang belum empat puluh hari sudah harus kembali bekerja.
Aku ingin sekali memeluk perempuan itu.
Bukan menyuruhnya kuat.
Bukan berkata,
“Kamu harus bersyukur.”
Bukan mengatakan,
“Semua pasti ada hikmahnya.”
Tidak.
Aku cuma ingin duduk di sebelahnya.
Mungkin menangis bersamanya.
Lalu berkata:
“Aku tahu.”
“Aku tahu kamu capek.”
“Aku tahu kamu takut.”
“Aku tahu kamu marah.”
“Kamu nggak lebay.”
“Kamu nggak gagal menjadi ibu.”
“Kamu cuma terlalu lama berjuang sendirian.”
Dan kalau setelah itu dia masih menangis, biarkan.
Tidak perlu dihentikan.
Karena akhirnya, setelah bertahun-tahun...
dia tidak perlu menjadi super mom lagi.
Dia boleh menjadi Silva.
Seorang perempuan yang pernah sangat ketakutan.
Seorang ibu yang pernah hampir habis.
Dan seorang manusia yang ternyata...
tetap berhasil membawa anaknya pulang.
Enam hari di depan NICU.
Enam hari yang terasa seperti enam tahun.
Tapi kami pulang.
Aku dan anakku.
Dan mungkin, tanpa kusadari saat itu, kepulangan itulah kemenangan pertamaku sebagai seorang ibu.
Tapi untuk hari itu, kami selamat. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Enam Hari Di depan NICU
Reviewed by okta's pages
on
6:21:00 pm
Rating:
No comments:
Post a Comment