Kalau mengingat masa kuliah, ada satu periode yang kalau dipikir sekarang sebenarnya cukup lucu.
Waktu itu aku sedang berada di fase miskin-miskinnya.
Baru masuk kuliah setelah sempat bekerja setahun. Belum punya banyak uang, belum punya kendaraan, dan hidup ya kurang lebih dijalani dengan prinsip sederhana: kalau masih bisa jalan, ya jalan. Kalau ada uang, baru dipikirkan mau ke mana.
Lalu seorang teman merasa aku sudah terlalu lama sendiri.
Entah kenapa dia punya solusi yang sangat sederhana.
Kasih nomor seseorang.
Begitulah aku kenal dengannya.
Dia yang menghubungi duluan.
Aku?
Bingung mau jawab apa.
Jadi balasnya lama.
Bukan jual mahal. Memang bingung.
Kami akhirnya mulai sering chatting. Waktu itu belum zaman semuanya serba WhatsApp seperti sekarang. Pokoknya ada aplikasi untuk ngobrol, kirim foto, dan menunggu orang membalas pesan dengan sabar.
Suatu hari dia mengirim foto bersama seorang temannya dan menyuruhku menebak mana dirinya.
Masalahnya, dua-duanya sama-sama cakep.
Jadi sebenarnya kalau salah pun aku tidak terlalu rugi.
Dari chatting, lanjut telepon, lalu makin sering ngobrol.
Sampai suatu hari baru ketahuan kalau ternyata kami masih punya hubungan keluarga yang cukup jauh.
Bukan saudara dekat, tapi ada benang keluarga yang kalau dijelaskan juga cukup bikin pusing.
Aku cuma ingat kesimpulannya:
Oh, ternyata masih saudaraan.
Ya sudah.
Tidak lama kemudian kami bertemu.
Dia sedang libur kuliah. Turun dari kendaraan umum, lalu sengaja berjalan menemuiku.
Aku juga belum punya kendaraan.
Dia sebenarnya ada motor , hanya saja untuk kuliah lebih sering naik kendaraan umum.
Jadi pertemuan pertama kami bukan di kafe, bukan di tempat romantis, bukan juga di restoran bagus.
Kami ketemu di perempatan.
Romantis sekali.
Setelah itu kami jalan dan akhirnya makan bakso karena lapar.
Dan di tukang bakso itulah hubungan kami dimulai.
Kami sudah cukup sering ngobrol lewat telepon dan chatting, jadi ketika bertemu langsung ternyata tidak terlalu canggung. Obrolannya lancar.
Sampai di tengah obrolan dia tiba-tiba bertanya, kira-kira aku mau tidak menjadi pacarnya.
Aku, tentu saja, memberikan jawaban yang sangat dewasa.
“Nanti deh, aku pikirin dulu.”
Dia malah santai.
Katanya, ya sudah, pikirinnya sambil pacaran saja.
Ngapain menunggu jawaban kalau bisa langsung dijalani?
Entah bagaimana logikanya.
Tapi berhasil.
Aku luluh.
Jadilah kami pacaran di tukang bakso.
Kalau sekarang dipikir-pikir, lucu juga.
Modalnya cuma dua orang mahasiswa, semangkuk bakso, dan seorang lelaki yang ternyata cukup pandai bersilat lidah.
Mungkin memang efek kuliah hukum.
Dia sebenarnya tipe cowok yang agak susah untuk tidak diperhatikan.
Bersih sekali.
Kulitnya putih dan mulus sampai kaki. Wajahnya rapi, hidungnya bagus mancung, warna bibirnya pink. Kalau mau jujur, dia lebih cocok disebut cowok cantik daripada sekadar ganteng.
Temannya banyak.
Lingkarannya juga ramai.
Bahkan dia sempat masuk ke lingkungan yang sebenarnya agak tidak cocok dengan penampilannya.
Terlalu bersih.
Terlalu rapi.
Terlalu kelihatan seperti anak baik-baik.
Tapi ya sudah, namanya juga anak muda.
Aku pernah beberapa kali kesal kalau kami sedang jalan lalu ada perempuan yang tiba-tiba mengajaknya foto.
Yang lebih ngeselin, aku kadang dikira adiknya..
Padahal aku berdiri di sebelahnya sebagai pacar.
Tapi setelah rasa kesalnya hilang, diam-diam aku bangga juga.
Ya gimana. Pacarku memang ganteng.
Walaupun waktu itu kami sama-sama masih kere.
Hahahaaa
Hubungan kami juga cukup seru karena jarak.
Dia kuliah di Bandung, aku kuliah di tempatku.
Kadang kami sengaja berangkat bersama. Naik kendaraan umum, duduk di belakang, sesekali pegangan tangan diam-diam sambil malu-malu takut ada yang melihat lalu dilepaskan kembali.
Aku turun di kampusku.
Dia lanjut ke Bandung.
Kadang dia pulang dari Bandung, turun di sekitar kampusku, lalu kami pulang bersama.
Sesederhana itu.
Tidak banyak uang.
Tidak banyak pilihan tempat jalan.
Tapi entah kenapa terasa menyenangkan.
Dia juga pernah mengajariku naik motor.
Kami sering motoran ke sana-sini.
Main, ngobrol, cari makan, pulang.
Hal-hal yang sekarang terdengar biasa saja, tetapi waktu itu rasanya sudah cukup untuk membuat satu hari menjadi menyenangkan.
Kami bahkan pernah bertukar HP sekaligus nomor-nomor di dalamnya sebagai bentuk kepercayaan.
Agak lain memang. Kalau dipikir sekarang, lucu juga.
Dulu rasa percaya bisa dibuktikan dengan:
“Nih, HP aku. Nih semua nomor di dalamnya. Udah ambil aja santai”
Sekarang orang mungkin malah panik kalau HP-nya disentuh.
Dia juga mendapatkan beasiswa penuh.
Dan entah kenapa, urusan uangnya malah aku yang pegang.
Rekening dan ATM-nya ada padaku.
Aku yang membantu mengatur keuangannya.
Kalau dipikir-pikir, aku ini pacar atau bendahara?
Mungkin dua-duanya.
Keluarganya juga baik sekali kepadaku.
Aku sering datang ke rumahnya. Dia juga sering datang ke rumahku.
Hubungan kami dengan keluarga masing-masing cukup dekat.
Makanya ketika masalah mulai datang dari keluarga, rasanya jadi lebih rumit.
Ada pendapat orang tua.
Ada prinsip keluarga.
Ada keyakinan bahwa hubungan kami tidak seharusnya diteruskan karena masih memiliki ikatan keluarga, meskipun jauh.
Awalnya mungkin cuma pendapat.
Lama-lama menjadi sumber cekcok.
Dan seperti hubungan anak muda pada umumnya, masalah yang awalnya dari luar akhirnya ikut masuk ke dalam hubungan.
Setelah itu kelakuannya juga mulai banyak minusnya.
Dia suka mabuk.
Ada hal-hal yang membuatku kesal.
Ada pertengkaran-pertengkaran kecil yang sekarang kalau diingat sebenarnya receh sekali.
Tapi waktu itu ya tetap terasa besar.
Namanya juga pacaran.
Hari ini marahan.
Besok baik lagi.
Lusa berantem lagi karena hal yang bahkan sekarang aku sudah lupa apa.
Sampai akhirnya muncul pula isu tentang orang ketiga.
Aku bahkan sudah tidak terlalu ingat detail bagaimana semuanya berakhir.
Yang kuingat, hubungan itu akhirnya selesai.
Kami berpisah.
Lalu hidup berjalan.
Beberapa tahun berlalu.
Aku sudah selesai kuliah dan sudah bekerja.
Dia masih berjuang menyelesaikan kuliahnya.
Pernah ada masa ketika kuliahnya sempat tersendat entah karena apa.
Tapi dia tetap memberi kabar.
Ada laporan tentang kuliahnya.
Ada cerita tentang skripsinya.
Sampai akhirnya dia mengatakan sesuatu yang cukup membuatku kembali menoleh.
Tunggu aku selesai. Sebentar lagi, aku pastikan.
Waktu itu aku juga tidak benar-benar berhenti menjalani hidup.
Aku masih bertemu orang lain.
Ada yang dekat, ada yang hanya sebentar, tanpa komitmen apa-apa.
Mungkin memang agak gila.
Tapi aku mengenalnya.
Aku mengenal keluarganya.
Dan ada bagian dari diriku yang masih percaya bahwa mungkin cerita ini belum benar-benar selesai.
Sampai kemudian hidup membuat keputusan sendiri.
Aku dilamar orang lain.
Dan pada hari aku melangsungkan akad, dia justru sedang berada di tempat yang sama sekali berbeda.
Bukan di sampingku.
Bukan sedang menunggu kabar.
Dia sedang berurusan dengan hukum karena malam sebelumnya mabuk berat dan terlibat perkelahian yang berakhir sangat buruk.
Setelah itu kisahnya pun berhenti.
Aku menikah.
Dia melanjutkan hidupnya dengan jalannya sendiri.
Dan entah bagaimana, sebuah hubungan yang dulu dimulai di tukang bakso akhirnya benar-benar selesai.
Tidak lama setelah itu kami kehilangan kontak sepenuhnya.
Dia bahkan memblokirku dari berbagai akun.
Bertahun-tahun.
Kemudian suatu hari blokir itu dibuka.
Kami sempat bertemu beberapa kali.
Tidak ada percakapan panjang.
Tidak ada usaha untuk mengulang apa pun.
Hanya saling melihat sebagai dua orang yang pernah sangat dekat, lalu menjadi orang asing lagi.
Setiap kali bertemu, rasanya tetap ada sedikit—
nyess.
Aku tidak tahu apakah dia merasakan hal yang sama.
Kami memang bukan tipe orang yang suka mengumbar kehidupan pribadi. Jadi setelah berpisah, aku tidak benar-benar tahu kehidupannya seperti apa.
Kalau ada kabar, paling hanya mendengar selintasan dari orang lain.
Kadang dia juga muncul dalam mimpi.
Padahal aku tidak sedang memikirkannya.
Tidak sedang mengingatnya.
Tiba-tiba saja muncul.
Mungkin memang ada beberapa hal yang dulu selesai terlalu cepat.
Bukan berarti aku ingin mengulangnya.
Bukan berarti aku masih menunggunya.
Mungkin hanya ada bagian kecil dari ingatan yang belum sempat mengerti bagaimana caranya mengucapkan selamat tinggal.
Dan mungkin memang begitu beberapa cerita bekerja.
Tidak semua hubungan berakhir karena dua orang berhenti saling menyayangi.
Kadang ada keluarga.
Ada keadaan.
Ada keputusan.
Ada kesalahan.
Ada waktu yang tidak pernah benar-benar berpihak.
Dan ada kehidupan yang ternyata berjalan lebih cepat daripada rencana kita.
Aku tidak tahu sekarang hidupnya seperti apa.
Dia juga mungkin tidak tahu hidupku seperti apa.
Dan rasanya tidak perlu lagi saling tahu.
Aku hanya sesekali mengingat seorang anak laki-laki yang dulu menemuiku di perempatan, lalu mengajakku makan bakso.
Seorang anak hukum yang pandai sekali membolak-balik jawaban sampai akhirnya aku menjadi pacarnya tanpa sempat memberikan keputusan yang jelas.
Seorang anak beasiswa yang dulu rekening dan ATM-nya malah aku yang pegang.
Seorang lelaki yang pernah mengajariku naik motor.
Seseorang yang pernah membuatku kesal karena perempuan lain suka meminta foto dengannya.
Dan seseorang yang pernah membuat masa kuliahku terasa sedikit lebih menyenangkan.
Dulu aku mungkin berpikir hubungan itu harus berakhir dengan sesuatu.
Harus ada jawaban.
Harus ada alasan yang benar-benar masuk akal.
Sekarang tidak.
Kadang sebuah hubungan memang cuma sampai di situ.
Kami pernah saling suka.
Pernah bahagia.
Pernah berantem.
Pernah saling percaya.
Pernah kehilangan.
Lalu selesai.
Dan kalau hari ini aku mengingatnya, yang paling sering muncul justru bukan pertengkarannya.
Bukan juga akhirnya.
Melainkan dua anak kuliahan yang duduk di belakang kendaraan umum, pegangan tangan sembunyi-sembunyi karena malu ketahuan.
Dan seorang perempuan yang waktu itu mungkin belum punya banyak uang, belum tahu akan menjadi apa, tetapi sedang senang-senangnya punya pacar ganteng.
Walaupun kere.
HAHAHAHA.
No comments:
Post a Comment