Pernah ada satu orang yang masuk ke hidupku dengan cara yang, kalau dipikir sekarang, sebenarnya agak aneh.
Bukan karena dia datang dengan cara yang dramatis.
Justru sebaliknya.
Dia datang ketika hidupku sedang cukup berantakan, lalu tiba-tiba sering ada. Ngobrol, main, ketemu, menelepon, video call. Lama-lama ya terbiasa.
Aku memang dulu begitu.
Teman banyak. Mau diajak ke mana juga sering mau. Selama tidak merugikan dan kelihatannya seru, jalan.
Urusan mikir belakangan.
Makanya kalau sekarang aku mengingat beberapa bagian dari masa itu, aku kadang tidak tahu harus menertawakan keadaan atau menertawakan diri sendiri.
Mungkin dua-duanya.
Soalnya dunia orang ini cukup jauh dari duniaku.
Ada banyak hal yang berkaitan dengan hitung-hitungan hari, kebiasaan tertentu, tirakat, dan berbagai hal yang waktu itu sebenarnya tidak terlalu kupahami.
Tapi aku ikuti saja.
Kenapa?
Ya karena penasaran.
Dan karena saat itu memang sedang butuh hiburan.
Sampai suatu hari aku diajak pergi ke sebuah tempat untuk berziarah.
Kalau sekarang ada orang yang baru kukenal mengajak ke tempat seperti itu, mungkin aku akan bertanya panjang.
Waktu itu?
Aku malah ikut.
Kadang aku sendiri heran melihat versi diriku yang dulu.
Kok gampang banget sih?
Tapi memang begitulah masa muda. Ada masa ketika rasa penasaran lebih kuat daripada kewaspadaan.
Hubungan kami kemudian semakin dekat.
Bukan sebentar.
Sampai orang-orang di sekitarnya mulai punya pendapat sendiri tentang kami.
Bahkan ada yang merasa aku adalah jodohnya.
Yang lain juga punya keyakinan yang tidak kalah kuat.
Aku sampai bingung harus menjawab apa.
Mungkin saat itulah pertama kali aku sadar bahwa cerita ini sudah mulai terlalu jauh dari kata “teman baru”.
Dan lucunya, justru di tengah semua itu aku masih merasa:
“Kita ini sebenarnya lagi ngapain, sih?”
Ada banyak hal yang dulu kuanggap biasa karena memang terjadi sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya kalau disatukan sekarang, semuanya kelihatan seperti rangkaian kejadian yang dibuat oleh penulis yang sedang kehabisan ide.
Belum lagi urusan masa lalu yang ternyata belum benar-benar selesai.
Ada seseorang dari masa lalunya yang punya sejarah sangat panjang dengannya.
Aku tahu diri.
Aku tidak punya energi untuk masuk ke hubungan sambil bersaing dengan masa lalu orang lain.
Kalau seseorang masih sibuk dengan cerita sebelumnya, ya silakan.
Aku tidak perlu ikut menjadi pemeran tambahan.
Aku juga mulai sadar kalau kami memang berbeda.
Bukan sekadar beda kesukaan.
Cara melihat dunia saja sudah berbeda.
Hal-hal yang bagi dia mungkin serius, bagiku kadang hanya membuatku mengernyitkan dahi.
Dan sebaliknya, mungkin ada banyak hal dalam diriku yang juga tidak pernah benar-benar dia pahami.
Kami tetap dekat cukup lama.
Hampir setiap hari berkomunikasi.
Tapi ternyata sering berbicara dengan seseorang tidak otomatis berarti kita akan cocok hidup bersamanya.
Ada satu hal lagi yang pernah terjadi dan sampai sekarang kalau kuingat rasanya campur aduk antara kesal dan ingin menertawakan diri sendiri.
Aku pernah memberikan sesuatu yang sebenarnya hasil kerja kerasku sendiri.
Bukan karena dipaksa.
Karena percaya.
Belakangan aku tahu benda itu berpindah tangan.
Waktu itu tentu saja aku kesal.
Tapi pada akhirnya aku memilih tidak memperpanjang.
Apa yang harus menjadi milikku sudah menjadi milikku.
Sisanya biarlah.
Mungkin memang ada beberapa hal yang cukup kita ikhlaskan karena kalau terus dipikirkan malah bikin capek sendiri.
Hubungan itu akhirnya selesai.
Tidak ada adegan film.
Tidak ada hujan-hujanan sambil menangis.
Tidak ada satu kalimat terakhir yang kemudian kita ingat sampai tua.
Ya selesai saja.
Setelah itu hidup berjalan.
Dia punya hidupnya sendiri.
Aku punya hidupku.
Sesekali aku masih tahu kabarnya.
Bahkan kadang terlalu tahu karena media sosial memang tidak kenal konsep privasi.
Masalah keluarga tahu.
Kabar anak tahu.
Sedang pusing tahu.
Hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diketahui pun kadang tahu.
Tapi ya begitu.
Aku cuma melihat dari jauh.
Tidak ikut masuk lagi.
Dan ternyata rasanya biasa saja.
Itu yang mungkin paling aneh.
Dulu aku pernah berada begitu dekat dengan seseorang sampai rasanya sulit membayangkan hidup tanpa kehadirannya.
Sekarang kami bisa hidup masing-masing dan tidak ada masalah.
Aku bahkan bisa mengingat beberapa kejadian dari masa itu sambil tertawa.
Termasuk keputusan-keputusanku sendiri.
Terutama keputusan-keputusan yang kalau dilakukan oleh diriku yang sekarang mungkin akan langsung mendapat ceramah:
“Jangan macam-macam.”
Tapi ya sudah.
Aku memang pernah seperti itu.
Masih muda.
Senang berteman.
Senang mencoba.
Kadang terlalu penasaran.
Kadang terlalu percaya.
Kadang memang agak bego.
Dan ternyata tidak semua kebodohan masa muda harus kita sesali seumur hidup.
Beberapa cukup diceritakan kembali.
Ditertawakan.
Lalu disimpan.
Bukan karena semuanya indah.
Tapi karena semuanya sudah selesai.
Sekarang kalau mengingat orang itu, aku tidak merasa perlu mencari tahu apa sebenarnya tujuan dia dulu.
Tidak perlu lagi membongkar setiap percakapan.
Tidak perlu mengulang pertanyaan yang sama.
Mungkin dulu dia memang datang dengan alasan tertentu.
Mungkin aku juga punya alasan sendiri untuk membiarkannya dekat.
Mungkin kami sama-sama sedang mencari sesuatu yang tidak kami mengerti.
Atau mungkin memang sesederhana itu:
Dua orang bertemu pada masa yang sama-sama sedang berantakan, lalu berjalan bersama beberapa tahun, kemudian akhirnya memilih jalan masing-masing.
Selesai.
Tidak semua cerita harus punya rahasia besar.
Tidak semua orang yang pernah dekat harus menjadi luka.
Dan tidak semua masa lalu harus kita bawa pulang.
Kadang cukup kita lihat sebentar dari jauh, lalu bilang:
“Oh iya. Pernah ada masa begitu.”
Kemudian lanjut melakukan hal lain.
Seperti malam ini.
Aku cuma sedang gabut.
Lalu tiba-tiba ingat satu cerita lama.
Ternyata lumayan juga.
Bisa jadi tulisan.
No comments:
Post a Comment