Little stories I chose to keep.
Dulu, aku membuat blog ini dengan cara yang sangat sederhana.
Ngasal. 😂
Tidak ada konsep yang matang.
Tidak ada branding.
Tidak ada bayangan bahwa suatu hari nanti aku akan kembali membukanya setelah bertahun-tahun dan sibuk merapikan isinya.
Aku hanya ingin punya tempat untuk bercerita.
Kalau sedang senang, kutulis.
Kalau sedang sedih, kutulis.
Kalau sedang marah, kutulis.
Kalau sedang bingung dengan hidup, ya kutulis juga.
Pokoknya, kalau kepala terlalu penuh dan hati terlalu ramai, blog ini menjadi salah satu tempat untuk menaruh semuanya.
Tulisan-tulisannya pun begitu.
Seadanya. Spontan. Penuh emosi. Kadang terlalu jujur. Kadang mungkin terlalu dramatis.
Maklum, aku yang menulisnya juga masih menjadi versi diriku yang berbeda.
Di antara tulisan-tulisan lama itu, ada satu kalimat yang ternyata masih bertahan sampai hari ini:
“Penantian dari hari-hari yang bercerita, penuh keluh kesah, mencipta sejarah dalam kenangan...”
Ketika membacanya lagi sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, aku cuma bisa tersenyum.
Anjay... ternyata dulu aku lumayan deep juga. 😂
Awalnya blog ini bahkan bernama “Aku, Kau dan Cerita Kita.”
Nama yang sangat menggambarkan masa ketika blog ini dibuat.
Di sana ada cerita tentang aku, tentang seseorang, tentang banyak hal yang pernah terasa begitu penting, dan tentang hari-hari yang dulu rasanya harus dituliskan agar tidak hilang begitu saja.
Lalu waktu berjalan.
Orang-orang berubah.
Cerita berubah.
Aku juga berubah.
Dan beberapa waktu lalu, aku kembali membuka blog ini.
Aku membaca tulisan-tulisan lama satu per satu.
Ada yang membuatku tertawa.
Ada yang membuatku mengernyitkan dahi.
Ada yang membuatku bertanya,
“Aku pernah seemosional ini?” 😂
Ada juga yang membuatku berhenti sebentar.
Karena ternyata di balik tulisan yang terlihat sederhana, ada seorang aku yang pernah menjalani sesuatu dengan sungguh-sungguh.
Akhirnya aku mulai merapikannya.
Beberapa tulisan kuperbaiki.
Beberapa kuarsipkan.
Beberapa kupilih untuk tidak lagi ditampilkan.
Bukan karena semuanya salah.
Bukan pula karena aku malu pernah menjadi seseorang yang menulis seperti itu.
Hanya karena sekarang aku mengerti:
Tidak semua hal yang pernah kita rasakan harus selamanya kita bagikan.
Ada cerita yang cukup pernah menjadi bagian dari hidup.
Ada luka yang cukup pernah ditulis.
Ada hal-hal yang boleh tetap menjadi milik masa lalu.
Jadi, aku menyimpan sebagian dan melepaskan sebagian lainnya.
Dan ternyata...
sampai hari ini ada 327 catatan yang pernah dipublikasikan.
Tiga ratus dua puluh tujuh.
Aku bahkan sempat berpikir,
“Hah? Sebanyak ini?” 😂
Padahal aku tidak menulis setiap tahun.
Ada tahun-tahun ketika blog ini hampir tidak tersentuh.
Lalu ada tahun-tahun tertentu ketika hidup terasa begitu penuh dan tiba-tiba tulisan muncul satu demi satu.
Ternyata, sebagian besar tulisan itu lahir bukan ketika hidup sedang baik-baik saja.
Justru pada tahun-tahun yang berat, aku lebih banyak menulis.
Mungkin memang begitu caraku menghadapi banyak hal.
Ketika tidak tahu harus bercerita kepada siapa, aku menulis.
Ketika perasaan terlalu penuh, aku menulis.
Ketika sesuatu terasa terlalu besar untuk disimpan sendiri, aku menulis.
Dan tanpa sadar, semua itu terkumpul menjadi ratusan halaman.
327 yang sudah dipublikasikan.
Belum termasuk draft.
Belum termasuk tulisan yang kuarsipkan.
Belum termasuk tulisan yang mungkin sudah terlupakan.
Kalau semuanya dihitung, mungkin jumlahnya akan jauh lebih banyak.
Lucu juga.
Dulu aku pikir aku cuma sedang curhat.
Ternyata aku sedang membuat arsip kehidupan.
Dan rupanya, blog ini juga punya beberapa subscriber.
Tidak tahu mereka benar-benar membaca atau tidak.
Tidak tahu mereka masih ingat pernah subscribe atau sebenarnya cuma tidak sengaja menekan tombol.
HAHAHAHA. 😂
Tapi ternyata...
ADA.
Jadi mungkin selama ini ada beberapa manusia di luar sana yang secara resmi menjadi saksi perjalanan blog ini.
Entah mereka membaca atau tidak, biarlah menjadi misteri.
Tapi keberadaan mereka membuatku sedikit lebih hati-hati ketika merapikan rumah lama ini.
Bukan supaya blog ini menjadi sempurna.
Hanya supaya halaman-halamannya terasa lebih nyaman untuk kubuka kembali.
Dan kalau dipikir-pikir, blog bukan satu-satunya tempat aku menyimpan hidup.
Aku ternyata menyimpannya di mana-mana.
Sebagian menjadi foto.
Sebagian menjadi video.
Sebagian menjadi catatan.
Sebagian lagi mungkin tersimpan di percakapan-percakapan lama, folder-folder yang bahkan sudah lupa pernah dibuat, atau potongan kecil dari hari yang dulu terasa biasa saja.
Dan sebanyak-banyaknya...
tersimpan di ingatan.
Tempat penyimpanan paling aneh yang pernah kumiliki.
Karena ketika aku ingin mengingat sesuatu, kadang ia justru menghilang.
Tapi ketika aku sudah tidak ingin mengingat...
dia datang sendiri.
Random.
Tanpa permisi.
Kadang pagi-pagi.
Kadang malam ketika hendak tidur.
Tiba-tiba otak memutar ulang kejadian bertahun-tahun lalu seperti:
“Eh, masih ingat ini?”
“NGGAK USAH DIINGET JUGA, WOY.” 😭😂
Ingatan memang menyebalkan.
Tapi mungkin, di situlah sebagian besar hidup benar-benar tinggal.
Maka sekarang aku tidak lagi terlalu sibuk memikirkan apakah semua yang kusimpan akan dibaca orang.
Mungkin tidak.
Mungkin tulisan ini pun hanya akan dibaca oleh beberapa orang.
Mungkin tidak ada yang sampai ke bagian ini.
Dan ternyata...
tidak apa-apa.
Karena sekarang aku tahu, aku tidak sedang membuat blog ini agar ramai.
Aku hanya sedang merapikan sebuah sudut kecil yang sudah menemani banyak versi diriku.
Versi yang pernah menunggu.
Pernah menangis.
Pernah marah.
Pernah jatuh cinta.
Pernah kecewa.
Pernah berharap.
Pernah terlalu banyak bercerita.
Dan akhirnya tumbuh menjadi seseorang yang sekarang bisa membaca semuanya sambil tersenyum.
Dulu namanya hanya Aku, Kau dan Cerita Kita.
Sekarang aku memilih menambahkan nama:
Okta’s Pages
Little stories I chose to keep.
Karena mungkin selama ini memang itu yang sedang kulakukan.
Memilih cerita mana yang ingin tetap tinggal.
Sebagian dalam bentuk tulisan.
Sebagian dalam foto.
Sebagian dalam video.
Sebagian dalam halaman-halaman yang sudah lama tidak kubuka.
Dan sebagian lagi...
entah bagaimana caranya,
masih tinggal di dalam ingatan.
Jadi kalau suatu hari nanti aku kembali ke sini, mungkin aku akan menemukan tulisan yang bahkan sudah lupa pernah kutulis.
Mungkin aku akan tertawa.
Mungkin aku akan terdiam.
Mungkin aku akan berkata,
“Ya ampun, ternyata aku pernah melewati semua itu.”
Lalu menutup halaman ini dan melanjutkan hidup.
Sebab pada akhirnya, mungkin kita memang tidak bisa membawa semua hal bersama kita.
Tapi kita bisa meninggalkan sedikit jejak.
Satu foto.
Satu video.
Satu kalimat.
Satu cerita.
Satu halaman.
Dan ketika semuanya sudah menjadi masa lalu, setidaknya pernah ada tempat yang berkata:
Aku pernah di sini.
Aku pernah merasakan ini.
Aku pernah menjadi aku yang itu.
Dan halaman-halaman ini memilih untuk menyimpannya.
Welcome to Okta’s Pages. 🤍
Little stories I chose to keep.
okta's pages
Reviewed by okta's pages
on
8:29:00 pm
Rating:
No comments:
Post a Comment