9 Agustus 2026
Hari ini aku menemukan sesuatu.
Bukan sesuatu yang besar dan bisa dilihat orang lain.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada kejadian luar biasa.
Hanya sebuah percakapan panjang, potongan-potongan cerita yang selama ini kusimpan, dan tiba-tiba...
ctasssss.
Seperti ada satu keping puzzle yang jatuh tepat ke tempatnya.
Selama bertahun-tahun aku bertanya-tanya tentang diriku sendiri.
Kenapa aku bisa begitu marah?
Kenapa begitu sensitif?
Kenapa masa lalu terasa seperti tidak pernah benar-benar selesai?
Kenapa ada hari-hari ketika aku merasa ingin pergi dari semuanya, padahal aku sendiri tidak tahu harus pulang ke mana?
Aku bahkan sempat berpikir bahwa mungkin aku masih merindukan seseorang.
Padahal ketika bertemu dengan orang-orang dari masa lalu, aku baik-baik saja.
Bisa berbincang.
Bisa bekerja bersama.
Bisa tertawa.
Tidak ada keinginan untuk kembali.
Lalu kenapa masih ada bagian dari diriku yang terasa sedih?
Hari ini aku akhirnya mengerti.
Mungkin aku tidak merindukan orangnya.
Aku merindukan rasanya.
Rasa dicintai.
Rasa dipilih.
Rasa memiliki tempat untuk bersandar.
Rasa aman.
Rasa ketika ada seseorang yang membuat dunia terasa sedikit lebih mudah.
Dan ternyata yang masih tertinggal bukanlah mereka.
Ada aku.
Aku yang dulu.
Aku yang pernah berada di usia itu, melewati begitu banyak hal, mencari pegangan ke mana-mana karena belum tahu bagaimana cara memegang diriku sendiri.
Aku yang terluka.
Aku yang marah.
Aku yang takut.
Aku yang berkali-kali merasa harus pergi tetapi tidak tahu harus ke mana.
Aku yang selama bertahun-tahun mungkin masih menunggu seseorang datang dan mengatakan:
“Sudah. Kamu aman.”
Hari ini aku menyadari sesuatu yang sederhana sekaligus membuatku merinding:
Mungkin selama ini bukan orang lain yang kutunggu.
Aku menunggu diriku sendiri.
Menunggu aku yang sekarang kembali kepadanya.
Dan akhirnya aku datang.
Aku membaca kembali banyak hal yang pernah kutulis.
Ternyata selama bertahun-tahun aku telah meninggalkan begitu banyak jejak.
Ada 327 catatan yang pernah kupublikasikan.
Belum termasuk draft.
Belum termasuk arsip.
Belum termasuk foto dan video.
Belum termasuk hal-hal yang hanya tersimpan di kepala.
Lucu sekali.
Dulu aku pikir aku hanya sedang curhat.
Ternyata aku sedang menyimpan hidupku.
Dan sekarang, ketika membaca tulisan-tulisan lama, rasanya sudah berbeda.
Aku bisa melihatnya dan berkata:
“Edaaan geuning aing kieu euy.”
😂
Dulu mungkin aku membaca tulisan itu dari dalam luka.
Sekarang aku membacanya dari luar.
Bukan karena semua yang terjadi menjadi tidak penting.
Bukan karena rasa sakitnya tidak nyata.
Tapi karena akhirnya aku bisa melihat perempuan yang dulu menulis semuanya sebagai seseorang yang sedang berusaha bertahan.
Bukan seseorang yang harus kubenci.
Bukan seseorang yang harus kupermalukan.
Bukan seseorang yang harus terus kubawa.
Dia hanya sedang menunggu untuk dipeluk oleh aku yang sekarang.
Mungkin itu juga sebabnya akhir-akhir ini aku merasa berubah.
Aku kembali menjadi diriku yang dulu.
Yang gila.
Yang konyol.
Yang banyak tertawa.
Yang bisa melihat sesuatu dari sisi yang berbeda.
Yang bisa menemukan kelucuan di tengah kekacauan.
Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi sempurna.
Tapi karena aku tidak lagi menghabiskan seluruh tenagaku untuk melawan apa yang sudah terjadi.
Aku menerima.
Aku memasrahkan.
Aku tetap berusaha.
Aku tidak diam.
Aku hanya berhenti berperang dengan hal-hal yang memang sudah tidak bisa kuubah.
Dan mungkin untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat panjang, aku merasa:
aku boleh hidup lagi.
Aku juga menyadari bahwa aku pernah kehilangan pondasiku.
Aku pernah begitu jauh dari Tuhanku sampai keinginan untuk kembali pun terasa sulit dilakukan.
Aku ingin pulang, tetapi seperti tidak tahu caranya.
Dan mungkin pulang memang tidak harus dimulai dengan langkah besar.
Mungkin cukup dengan mengakui:
“Tuhan, aku ingin kembali.”
Tanpa merasa harus menjadi sempurna terlebih dahulu.
Tanpa harus menyelesaikan seluruh hidupku sebelum datang.
Tanpa harus menjadi orang yang paling baik.
Datang saja.
Pelan-pelan.
Hari ini aku tidak merasa semua puzzle hidupku sudah lengkap.
Masih banyak keping yang belum kutemukan.
Masih ada cerita yang belum kubuka.
Masih ada hal-hal yang mungkin suatu hari akan kupahami dengan cara yang berbeda.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena hari ini aku menemukan satu keping.
Satu saja.
Tapi ternyata satu keping itu cukup untuk membuat gambar yang sebelumnya kacau mulai memiliki bentuk.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika aku membaca tulisan ini lagi, aku akan tersenyum dan berkata:
“Oh... ini hari ketika aku mulai mengerti.”
Hari ketika aku akhirnya melihat bahwa yang belum selesai bukan selalu orang lain.
Bukan selalu hubungan.
Bukan selalu masa lalu.
Kadang...
yang belum selesai adalah kita dengan diri kita sendiri di usia tertentu.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin meninggalkan diriku yang dulu.
Aku ingin membawanya pulang.
Aku ingin duduk di sampingnya.
Aku ingin menggenggam tangannya.
Lalu mengatakan:
“Aku tahu kamu capek.”
“Aku tahu kamu takut.”
“Aku tahu kamu cuma sedang berusaha bertahan.”
“Maaf aku baru menemukanmu sekarang.”
“Tapi aku sudah di sini.”
“Sudah...”
“Kamu boleh pulang.”
Dan mungkin...
aku juga boleh pulang. 🤍
9 Agustus 2026
Hari ketika satu keping puzzle akhirnya kutemukan.
Little stories I chose to keep.
Keping Puzzle yang Akhirnya Kutemukan
Reviewed by okta's pages
on
10:20:00 pm
Rating:
No comments:
Post a Comment