Rasa Yang Tak Lagi Memiliki Aku


Setelah obrolan panjang semalam, hari ini aku bertemu dengannya. 

Aneh.

Ada sesuatu yang berdebar, tetapi kali ini bisa kukendalikan. Ada gugup yang datang diam-diam, tetapi tidak lagi kuhiraukan. Aku membiarkannya ada tanpa membiarkannya mengambil alih.

Pandangan mata kami bertemu. Sesekali. Sedikit. Lalu entah bagaimana, tiba-tiba ia sudah berada di belakangku, kemudian di sampingku, lalu duduk di sebelahku.

Kami berbicara.

Mengobrol seperti dua orang yang sedang baik-baik saja.

Sesekali aku kembali melihatnya, lalu tersadar bahwa aku sedang melihat seseorang yang pernah menjadi bagian besar dari hidupku.

Aku sempat terlarut.

Kemudian tersadar kembali.

Mendekat, lalu berjarak.

Berjarak, lalu kembali berada dalam ruang yang sama.

Bukan aku merasa terlalu percaya diri. Bukan pula aku ingin mengarang sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak ada. Hanya saja, ada insting yang mengatakan bahwa mungkin bukan hanya aku yang merasakan keanehan itu.

Mungkin dia juga merasakan sesuatu.

Entahlah.

Dan mungkin aku tidak perlu tahu.

Bertahun-tahun bukan waktu yang sebentar. Ada terlalu banyak cerita yang pernah kami lewati bersama untuk kemudian hilang begitu saja hanya karena sebuah hubungan berakhir.

Ada kebiasaan. Ada percakapan. Ada cara memandang. Ada begitu banyak hal yang mungkin tidak lagi kita ingat dengan sengaja, tetapi tubuh dan ingatan seolah masih mengenalinya.

Dulu kami pernah begitu dekat.

Lalu semuanya berakhir dengan luka.

Luka yang cukup dalam hingga pernah membuatku berpikir bahwa mungkin kami tidak akan pernah bisa saling menatap lagi.

Ternyata aku salah.

Hari ini kami masih bisa saling menatap.

Masih bisa berbicara.

Masih bisa duduk berdekatan.

Hanya saja, konteksnya sudah berbeda.

Dan mungkin di situlah aku menyadari sesuatu.

Aku memang masih bisa berdebar ketika melihatnya.

Aku masih bisa gugup.

Aku masih bisa sesekali terlarut dalam memori yang sudah lama kusimpan.

Tetapi aku tidak lagi kalah olehnya.

Rasa itu datang, lalu pergi.

Memori itu muncul, lalu aku kembali ke hari ini.

Dan ternyata, aku baik-baik saja.

Mungkin aku tidak perlu membunuh semua rasa yang pernah ada hanya supaya bisa disebut sudah sembuh.

Mungkin aku hanya perlu belajar menaruhnya di tempat yang tepat.

Di masa lalu.

Sebagai sesuatu yang pernah sangat berarti.

Sebagai bagian dari hidup yang pernah kami jalani selama bertahun-tahun.

Sebagai luka yang pernah begitu sakit, tetapi akhirnya tidak lagi membuatku berdarah.

Dan hari ini, ketika mata kami kembali bertemu, aku tidak lagi bertanya apakah kami akan kembali menjadi kami yang dulu.

Tidak.

Kami sudah berubah.

Aku berubah.

Mungkin dia juga.

Kami adalah dua orang yang sama, tetapi membawa kehidupan yang berbeda.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, aku bisa melihatnya tanpa ingin kembali.

Hanya melihat.

Hanya menyadari bahwa seseorang yang pernah begitu berarti ternyata masih bisa berdiri di hadapanku tanpa membuat seluruh duniaku runtuh.

Dan entah kenapa, itu terasa seperti kemenangan kecil.

Bukan karena aku sudah tidak punya rasa.

Tetapi karena kali ini, rasa itu tidak lagi memiliki aku.


Rasa Yang Tak Lagi Memiliki Aku Rasa Yang Tak Lagi Memiliki Aku Reviewed by okta's pages on 5:41:00 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.