Seseorang Yang Pernah Ada


Ada seseorang yang pernah begitu dekat denganku.

Bukan kekasih. Bukan pula seseorang yang pernah benar-benar menjadi milikku. Ia hanya seseorang yang hadir pada usia ketika hidup masih terasa panjang, ketika pertemanan bisa berlangsung sampai larut malam hanya karena kami selalu punya bahan untuk dibicarakan.

Aku mengenalnya ketika usiaku masih dua puluhan.

Kami bertemu di sebuah masa yang penuh kegaduhan. Masa ketika aku sendiri belum benar-benar tahu ingin menjadi siapa, akan berjalan ke mana, dan kepada siapa seharusnya aku memberikan kepercayaan.

Ia datang sebagai teman.

Lalu menjadi seseorang yang kuanggap seperti keluarga.

Ia pintar. Menyenangkan. Bebas. Selalu punya cerita. Bersamanya, percakapan tentang hal-hal kecil bisa berlangsung begitu lama. Makan bersama, berjalan-jalan, berbicara melalui telepon, bertukar pesan tentang hal-hal yang bahkan sekarang mungkin sudah tidak kuingat lagi.

Dulu semuanya terasa biasa.

Sekarang, ketika melihatnya dari jarak yang begitu jauh, aku sadar bahwa ternyata ada banyak sekali bagian hidupku yang pernah ia isi.

Aku juga pernah membutuhkan pertolongannya.

Dan ia menolongku.

Berkali-kali.

Aku tidak akan menghapus bagian itu hanya karena akhirnya aku kecewa kepadanya. Aku tidak akan berpura-pura bahwa semua kebaikannya tidak pernah ada.

Ada orang-orang yang menolong kita dengan cara yang bahkan tidak pernah kita minta.

Ia salah satunya.

Untuk itu, aku tetap berterima kasih.

Bukan karena setelah semua yang terjadi aku ingin kembali kepadanya.

Tidak.

Aku hanya tidak ingin menjadi seseorang yang menghapus seluruh kebaikan masa lalu hanya karena menemukan keburukan di bagian lainnya.

Barangkali manusia memang serumit itu.

Seseorang bisa pernah menjadi tempat aman, sekaligus meninggalkan luka.

Bisa pernah membuat kita merasa sangat dipahami, lalu suatu hari membuat kita bertanya-tanya apakah selama ini kita benar-benar mengenalnya.

Dan mungkin bagian yang paling menyakitkan bukan ketika seseorang pergi.

Melainkan ketika seseorang tetap ada, tetapi kita tidak lagi bisa melihatnya dengan cara yang sama.

Aku pernah mempercayainya dengan sederhana.

Tanpa banyak perhitungan.

Tanpa curiga bahwa suatu hari kedekatan itu akan menjadi sesuatu yang ingin kulepaskan.

Aku pernah menganggapnya keluarga.

Dan mungkin karena itulah rasa kecewanya jauh lebih dalam.

Aku marah.

Ya, aku pernah sangat marah.

Ada banyak hal yang tidak bisa kuterima. Ada bagian-bagian yang membuatku merasa dikhianati, dimanfaatkan, dan dipaksa memahami sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kupilih.

Ada luka yang sampai sekarang kalau disentuh masih terasa.

Tetapi semakin dewasa, aku mulai memahami bahwa marah tidak selalu berarti membenci seluruh keberadaan seseorang.

Aku bisa kecewa kepadamu tanpa menyesal pernah mengenalmu.

Aku bisa memilih pergi tanpa menganggap seluruh perjalanan kita sia-sia.

Aku bisa berterima kasih atas kebaikanmu tanpa memberimu kembali akses kepada hidupku.

Dan mungkin, itulah bentuk penerimaan yang paling jujur yang mampu kuberikan.

Kau pernah ada.

Kau pernah menjadi bagian dari hidupku pada usia dua puluhan.

Kau pernah membuat hari-hariku lebih ramai.

Kau pernah menolongku ketika aku berada dalam keadaan yang sulit.

Dan kau juga pernah membuatku terluka dengan cara yang tidak pernah kubayangkan akan datang darimu.

Semua itu bisa benar dalam waktu yang sama.

Aku tidak perlu memilih hanya satu versi tentangmu.

Tidak perlu menjadikanmu sepenuhnya baik agar aku bisa berterima kasih.

Tidak perlu menjadikanmu sepenuhnya buruk agar aku punya alasan untuk pergi.

Aku hanya perlu menerima bahwa manusia yang pernah kukenal ternyata memiliki sisi yang tidak pernah kuketahui.

Dan aku pun memiliki sisi yang mungkin tidak pernah kau kenal.

Hari ini aku tidak lagi ingin mencari tahu apakah kau masih mengingatku.

Tidak ingin tahu apakah kau masih membaca tulisan-tulisanku.

Tidak ingin menebak-nebak apakah setiap kata yang kau tulis ditujukan kepadaku.

Kalau memang masih ada sesuatu yang ingin kau katakan, biarlah itu menjadi urusanmu.

Aku sudah terlalu lama membawa sesuatu yang sebenarnya bukan lagi milikku.

Aku tidak ingin membawanya lebih jauh.

Barangkali kita memang tidak akan pernah mendapatkan percakapan terakhir yang benar-benar menyelesaikan semuanya.

Barangkali tidak akan ada permintaan maaf.

Tidak ada penjelasan yang sempurna.

Tidak ada satu hari ketika semua potongan masa lalu tiba-tiba tersusun rapi dan membuat semuanya masuk akal.

Tidak apa-apa.

Tidak semua cerita mendapatkan akhir yang indah.

Sebagian hanya berhenti.

Bukan karena semua pertanyaannya sudah terjawab.

Tetapi karena salah satu dari kita akhirnya memilih untuk tidak bertanya lagi.

Jadi, untuk seseorang yang pernah begitu dekat denganku—

Terima kasih.

Untuk kebaikan yang pernah kau berikan, terima kasih.

Untuk tahun-tahun yang pernah kita lewati sebagai teman, terima kasih.

Untuk bagian hidup yang pernah kau isi, juga terima kasih.

Dan untuk luka yang pernah kau tinggalkan—

aku tidak akan berpura-pura bahwa luka itu tidak ada.

Tapi aku juga tidak ingin menjadikannya rumah.

Aku akan membawanya sebagai bagian dari perjalanan, lalu meninggalkannya di belakang.

Entah kau sudah selesai atau belum, aku tidak tahu.

Mungkin tidak akan pernah tahu.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak perlu tahu.

Karena setelah sekian lama, akhirnya ada satu hal yang benar-benar ingin kupilih:

aku.

Bukan kamu.

Bukan masa lalu.

Bukan pertanyaan yang tidak pernah terjawab.

Aku.

Dan mungkin, untuk sekarang, cerita ini cukup sampai di sini.

Tidak benar-benar selesai.

Hanya...

usai.

Seseorang Yang Pernah Ada Seseorang Yang Pernah Ada Reviewed by okta's pages on 8:39:00 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.