Aku pernah bertanya-tanya, kenapa ada orang yang gampang sekali luluh hanya karena diberi sedikit perhatian.
Dikasih kabar, senang.
Dicari, sumringah.
Dibalas cepat, langsung merasa hari itu berjalan baik-baik saja.
Kadang bahkan cuma ditanya, “Udah makan?” sudah cukup membuatnya merasa ada yang peduli.
Dulu aku pikir, kok bisa sih?
Bukannya kita harusnya bisa membedakan mana perhatian biasa dan mana yang benar-benar berarti?
Bukannya kita juga punya harga diri?
Tapi makin dipikir-pikir, mungkin persoalannya memang bukan soal harga diri.
Mungkin orang itu cuma...
haus.
Seperti orang yang seharian kepanasan lalu menemukan segelas air dingin.
Dia nggak akan sibuk bertanya air itu berasal dari mana.
Nggak akan mengecek gelasnya bagus atau tidak.
Yang penting ada air.
Teguk dulu.
Nanti urusan lainnya belakangan.
Begitu juga dengan kasih sayang.
Kalau seseorang sudah terlalu lama hidup tanpa merasa benar-benar diperhatikan, sedikit perhatian bisa terasa seperti sesuatu yang besar.
Ada yang mendengarkan ceritanya, dia merasa berharga.
Ada yang mencarinya, dia merasa dibutuhkan.
Ada yang membuatnya tertawa, dia mulai merasa nyaman.
Lalu tanpa sadar, perhatian yang tadinya cuma seteguk mulai dianggap sebagai sumber air satu-satunya.
Dia mulai menunggu.
Mulai berharap.
Mulai memaklumi.
Mulai memberikan lebih banyak.
Padahal yang diberikan kepadanya belum tentu sebanyak yang ia berikan.
Lucunya, dari luar keadaan seperti itu sering terlihat memalukan.
“Kok mau sih diperlakukan begitu?”
“Kok gampang banget?”
“Kok kayak nggak punya harga diri?”
Mungkin memang terlihat begitu.
Tapi kita sering lupa bahwa kita hanya melihat orang yang sedang meneguk air.
Kita tidak melihat sudah berapa lama dia berjalan dalam keadaan haus.
Dan mungkin itu juga yang membuat seseorang kadang salah memilih tempat untuk meletakkan perasaannya.
Bukan karena dia tidak tahu mana yang baik.
Dia cuma terlalu lega ketika akhirnya ada seseorang yang memberinya sesuatu yang selama ini dia cari.
Sayangnya, tidak semua orang yang memberikan air benar-benar ingin membuat kita tidak kehausan.
Ada yang cuma ingin melihat kita tetap haus.
Supaya kita terus kembali.
Terus mencari.
Terus menunggu.
Terus merasa bahwa hanya dia yang punya air.
Sampai suatu hari kita sadar...
ternyata yang kita butuhkan bukan orang itu.
Kita hanya sedang membutuhkan perasaan yang muncul ketika bersama dia.
Perasaan bahwa kita dilihat.
Didengar.
Dianggap penting.
Dicintai.
Dan mungkin, itu bagian yang paling sulit.
Karena ketika kita sudah sadar, kita tetap harus belajar melepaskan.
Bukan karena kita tidak ingin disayangi.
Justru karena kita akhirnya mengerti bahwa ingin disayangi bukan alasan untuk menerima apa saja.
Aku boleh senang ketika dicari.
Boleh bahagia ketika diperhatikan.
Boleh ingin dipeluk.
Boleh ingin menjadi seseorang yang penting bagi orang lain.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Aku hanya perlu belajar satu hal:
kalau sedang haus, jangan asal minum.
Sebab tidak semua yang terlihat seperti air akan benar-benar menghilangkan dahaga.
Dan tidak semua tangan yang menawarkan minum harus kugenggam.
Karena sekarang aku tahu...
aku boleh haus kasih sayang.
Tapi aku tidak harus minum dari sembarang tangan.
No comments:
Post a Comment