Untuk Anak Laki-Lakiku, yang Pertama Kali Mengajariku Menjadi Mama


Nak, kalau suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini ketika kamu sudah dewasa, mungkin kamu akan bertanya-tanya: sebenarnya seperti apa kamu ketika masih kecil?

Mungkin Mama tidak akan mampu menceritakan semuanya.

Sebab ada bagian dari masa kecilmu yang hanya tersimpan di kepala Mama.

Di suara tangisan pertamamu.

Di telapak tangan kecil yang dulu menggenggam jari Mama.

Di aroma kepalamu setelah mandi.

Di caramu memanggil, “Mama…”

Di pelukan yang tiba-tiba datang ketika Mama sedang lelah.

Dan di begitu banyak hal kecil yang mungkin tidak pernah kamu tahu bahwa semuanya diam-diam Mama simpan.

Sebab sebelum kamu mengenal dunia,

kamulah yang lebih dulu mengubah duniaku.

Sebelum kamu bisa memanggilku Mama,

kamulah yang membuatku menjadi seorang Mama.

Dan sejak hari itu, sebagian dari hatiku tidak pernah lagi tinggal sepenuhnya di dalam tubuhku.

Ia berjalan bersamamu.

Maka jangan heran kalau sejak kamu lahir, Mama punya satu ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang:

takut dunia menyakitimu.

Bukan karena Mama menganggapmu lemah.

Justru karena Mama tahu kamu punya hati yang begitu lembut.

Dan Mama tahu, dunia tidak selalu lembut kepada anak-anak yang berhati seperti itu.

---

Kalau orang lain mengenalmu, mungkin mereka akan tertawa ketika Mama bilang kamu anak yang lembut.

Sebab yang mereka lihat mungkin justru anak laki-laki yang tidak bisa diam.

Lari ke sana.

Lari ke sini.

Bermain.

Bercanda.

Tertawa.

Membuat suasana ramai.

Seolah-olah tubuh kecilmu selalu punya energi yang tidak pernah habis.

Kadang Mama bahkan tidak tahu harus menegurmu atau ikut tertawa melihat tingkahmu.

Kamu periang.

Mudah tertawa.

Mudah membuat orang lain tertawa.

Lucu.

Menggemaskan.

Tapi kamu juga cengeng.

Mudah marah.

Mudah kesal.

Dan anehnya, sisi itu sering sekali muncul ketika kamu bersama Mama.

Dulu Mama mungkin bertanya-tanya kenapa.

Sekarang Mama mengerti.

Karena mungkin Mama adalah tempatmu tidak perlu berpura-pura kuat.

Di luar sana kamu boleh menjadi anak yang berani.

Yang aktif.

Yang percaya diri.

Yang punya pendirian.

Tetapi ketika berada di dekat Mama, kamu boleh kembali menjadi anak kecil.

Boleh menangis.

Boleh marah.

Boleh manja.

Boleh mengeluh.

Boleh bilang tidak mau.

Boleh meminta pelukan berkali-kali.

Boleh menjadi dirimu sendiri.

Dan Mama berharap rumah ini akan selalu menjadi tempat seperti itu untukmu.

---

Mama juga mencintai caramu melihat dunia.

Kamu masih kecil, tetapi pertanyaanmu kadang membuat Mama terdiam.

Kamu suka bertanya.

Mengamati.

Mencari tahu.

Kadang melakukan sesuatu lebih dulu, lalu bertanya kemudian.

Kemarin mendengar seseorang mengucapkan sebuah kata.

Hari ini kamu ikut mengucapkannya.

Lalu dengan wajah polos bertanya,

“Ma, itu artinya apa?”

Mama kadang ingin tertawa.

Kadang ingin menghela napas.

Tapi Mama tahu,

kamu sedang belajar.

Kamu sedang mengumpulkan potongan-potongan dunia dan mencoba memahami bagaimana semuanya bekerja.

Dan Mama ingin menjadi salah satu orang yang membantumu memahami dunia tanpa membuatmu kehilangan rasa ingin tahu.

---

Kamu juga punya pendirian.

Kalau tidak, ya tidak.

Kalau mau, ya mau.

Kalau kamu merasa sesuatu benar, kamu akan mengatakannya.

Kadang membuat Mama bangga.

Kadang membuat Mama harus menarik napas panjang.

Tapi Mama tidak ingin mematikan itu.

Mama hanya ingin mengajarimu satu hal:

punya pendirian tidak berarti harus keras kepada semua orang.

Berani berkata tidak ketika sesuatu memang salah.

Berani berkata iya ketika sesuatu memang benar.

Berani berdiri sendiri ketika semua orang memilih jalan yang berbeda.

Tetapi juga cukup rendah hati untuk mengakui ketika ternyata kamu keliru.

Karena suatu hari nanti kamu akan tumbuh menjadi laki-laki.

Dan Mama ingin kamu menjadi laki-laki yang kuat tanpa menjadi kasar.

Tegas tanpa merendahkan.

Berani tanpa menyakiti.

Pintar tanpa merasa paling pintar.

Baik tanpa membiarkan dirimu diperlakukan semena-mena.

---

Ada satu hal lagi yang selalu membuat Mama gemas sekaligus khawatir:

kamu terlalu mudah memberi.

Makananmu dibagi.

Mainanmu dibagi.

Bahkan uangmu pun kadang ingin kamu belanjakan untuk orang lain seolah Mama mencetak uang setiap pagi. 😂

Kamu mudah berbagi.

Tidak terlalu memikirkan apakah itu milikmu atau bukan lagi setelah kamu memberikannya.

Dan Mama tahu, kamu masih kecil.

Tapi diam-diam Mama berdoa,

semoga sifat itu tumbuh bersamamu.

Semoga ketika besar nanti, kamu tetap menjadi laki-laki yang tidak pelit terhadap kebaikan.

Yang ringan tangan.

Yang senang membantu.

Yang tidak menghitung-hitung setiap kebaikan yang pernah diberikannya.

Tetapi Mama juga akan mengajarimu satu hal:

menjadi baik bukan berarti membiarkan dirimu dimanfaatkan.

Berbagilah.

Memberilah.

Tolonglah orang lain.

Tetapi jangan lupa menjaga dirimu sendiri.

Karena hati yang baik juga membutuhkan batas.

---

Dan kemudian datanglah masa ketika kamu menjadi seorang kakak.

Mama sempat takut.

Takut kamu merasa kehilangan Mama.

Takut perhatian Mama terbagi.

Takut kamu merasa adikmu mengambil tempatmu.

Ternyata Mama salah.

Kamu justru tumbuh menjadi kakak yang luar biasa.

Kamu bisa bermain dengannya.

Mengajaknya bercanda.

Mengobrol dengannya.

Membuatnya tertawa.

Membangun suasana rumah menjadi hidup.

Kamu menyayanginya.

Sangat.

Tetapi Mama tahu, terkadang kamu juga masih ingin menjadi anak kecil.

Dan tidak apa-apa.

Menjadi kakak tidak pernah berarti kamu berhenti menjadi anak Mama.

Adikmu boleh dipeluk.

Kamu juga.

Adikmu boleh dimanja.

Kamu juga.

Adikmu boleh menangis.

Kamu juga.

Tidak ada perlombaan di antara kalian.

Cinta Mama bukan kue yang kalau dibagi akan habis.

Cinta Mama justru bertambah setiap kali Mama melihat kalian tumbuh.

---

Nak,

Mama tahu perjalananmu tidak selalu mudah.

Kamu sejak kecil belajar beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru.

Sekolahmu bukan di lingkungan rumah.

Begitu pula tempat mengajimu.

Teman-temanmu bukan anak-anak yang setiap hari tumbuh bersamamu sejak kecil.

Kamu harus belajar masuk ke dunia yang sudah berjalan sebelum kamu datang.

Dan kamu melakukannya.

Walaupun Mama tahu,

mungkin tidak selalu mudah.

Kamu pernah dibully.

Pernah mengalami perlakuan yang membuatmu bingung.

Pernah berada dalam situasi ketika kamu dituduh melakukan sesuatu yang tidak kamu lakukan.

Dan sampai hari ini Mama masih ingat pertanyaanmu:

“Mama, kenapa aku dipaksa mengakui sesuatu yang tidak aku lakukan?”

Nak…

Kalimat itu mungkin sederhana bagi orang lain.

Tapi bagi Mama, kalimat itu pernah terasa seperti sesuatu yang menghantam dada.

Karena Mama tahu kamu hanya sedang berusaha memahami:

kenapa orang bisa memperlakukan seseorang dengan tidak adil?

Mama tidak ingin kamu tumbuh dengan kebencian.

Mama tidak ingin pengalaman buruk membuatmu percaya bahwa semua orang jahat.

Tetapi Mama ingin kamu belajar sesuatu:

Kalau kamu salah, akui.

Kalau kamu menyakiti seseorang, minta maaf.

Kalau kamu keliru, perbaiki.

Tetapi kalau kamu tidak melakukan sesuatu,

jangan mengaku hanya karena orang lain ingin kamu menjadi orang yang bersalah.

Kebenaran tidak selalu membutuhkan banyak suara.

Kadang ia hanya membutuhkan satu hati yang tetap teguh.

Dan Mama akan selalu mengingatkanmu:

Mama percaya kepadamu.

---

Kamu mungkin tidak menyadari betapa seringnya kamu menjaga Mama.

Ketika Mama sakit.

Ketika Mama marah.

Ketika Mama menangis.

Ketika Mama sedang tidak baik-baik saja.

Kamu datang.

Menghibur.

Menjaga.

Kadang mengucapkan kalimat yang begitu menenangkan sampai Mama lupa bahwa yang berbicara adalah anak kecil.

Tetapi Nak…

kamu tidak harus menjaga Mama sepanjang waktu.

Mama adalah orang dewasa.

Mama akan belajar menjaga dirinya sendiri.

Tugasmu adalah menjadi anak.

Belajar.

Bermain.

Tertawa.

Menangis.

Bermimpi.

Membuat kesalahan.

Dan tumbuh.

Kalau Mama menangis, kamu boleh memeluk Mama.

Tetapi kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab membuat Mama selalu bahagia.

Cukup tumbuh dengan baik.

Itu sudah menjadi hadiah yang luar biasa bagi Mama.

---

Dan hari ini, ketika Mama melihatmu mulai berani bermain sendiri dengan teman-temanmu…

entah kenapa hati Mama terasa aneh.

Mama bangga.

Sangat bangga.

Tapi ada sedikit rasa sakit.

Karena Mama sadar,

anak kecil yang dulu selalu mencari Mama, perlahan-lahan mulai menemukan dunianya sendiri.

Kamu mulai berani pergi tanpa Mama.

Mulai punya cerita yang tidak semuanya Mama tahu.

Mulai punya teman.

Mulai punya ruang yang hanya menjadi milikmu.

Dan Mama harus belajar melepaskan sedikit demi sedikit.

Padahal rasanya baru kemarin Mama menggendongmu.

Baru kemarin kamu memanggil,

“Mama…”

Baru kemarin kamu menungguku di luar ruang operasi.

Berteriak,

“Mama! Ini Aa! Mama nggak apa-apa? Mama sehat ya, Ma!”

Dan sekarang kamu sudah berani berdiri sendiri.

Cepat sekali kamu tumbuh, Nak.

Terlalu cepat.

Maka kalau hari ini kamu tiba-tiba berkali-kali berkata,

“Mama peluk.”

Mama akan peluk.

Tidak akan Mama tolak.

Karena mungkin suatu hari nanti kamu akan merasa terlalu besar untuk mengatakan kalimat itu.

Jadi selagi kamu masih mau,

sini, Nak.

Peluk Mama.

Lama-lama juga tidak apa-apa.

---

Ya Allah…

Anak laki-lakiku ini masih kecil.

Jalannya masih panjang.

Ada begitu banyak dunia yang belum ia kenal.

Ada begitu banyak manusia yang kelak akan ditemuinya.

Ada begitu banyak keputusan yang suatu hari harus dibuatnya sendiri.

Maka ketika tanganku tidak lagi bisa menggenggam tangannya setiap saat,

genggamlah ia dengan penjagaan-Mu.

Jagalah langkahnya ketika aku tidak tahu ia sedang berada di mana.

Jagalah hatinya ketika aku tidak tahu apa yang sedang ia rasakan.

Jagalah pikirannya ketika aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan.

Lindungi dia dari orang-orang yang berniat buruk.

Jauhkan dia dari lingkungan yang akan merusak dirinya.

Temukan dia dengan teman-teman yang baik.

Dengan guru-guru yang tulus.

Dengan orang-orang yang tidak hanya mengajarinya bagaimana menjadi pintar,

tetapi juga bagaimana menjadi manusia.

Ya Allah…

Jadikan anakku laki-laki yang baik.

Berikan kepadanya ilmu yang bermanfaat.

Rezeki yang halal dan luas.

Tubuh yang sehat.

Umur yang panjang dalam keberkahan.

Hati yang lembut.

Pikiran yang tajam.

Pendirian yang kuat.

Dan iman yang tidak mudah goyah.

Jika ia kelak berhasil,

jangan biarkan keberhasilan membuatnya sombong.

Jika ia gagal,

jangan biarkan kegagalan membuatnya merasa tidak berharga.

Jika ia kaya,

jadikan tangannya ringan memberi.

Jika ia memiliki sedikit,

jadikan hatinya tetap penuh rasa syukur.

Jika ia disakiti,

jangan biarkan luka membuatnya menjadi orang yang suka menyakiti.

Jika ia diperlakukan tidak adil,

berikan kepadanya kekuatan untuk tetap memilih kebenaran.

Jika ia mencintai seseorang kelak,

pertemukan ia dengan perempuan yang baik, yang menghargai dirinya, keluarganya, dan agamanya.

Jika suatu hari ia menjadi seorang ayah,

jadikan ia ayah yang lembut.

Ayah yang hadir.

Ayah yang tidak malu memeluk anaknya.

Ayah yang bisa berkata,

“Tidak apa-apa menangis.”

Ayah yang membuat anak-anaknya merasa aman.

Dan jika kelak ia menjadi pemimpin bagi siapa pun,

jadikan ia pemimpin yang adil.

Bukan yang paling ditakuti,

tetapi yang paling dipercaya.

---

Ya Allah…

Aku tidak meminta Engkau membuat hidupnya selalu mudah.

Karena aku tahu hidup tidak demikian.

Aku hanya meminta,

ketika hidup menjadi sulit, jangan biarkan anakku menghadapinya sendirian.

Ketika dia kehilangan arah, tuntun dia.

Ketika dia jatuh, bantu dia bangkit.

Ketika dia merasa tidak cukup, ingatkan dia bahwa dirinya berharga.

Ketika dia merasa tidak dicintai, kirimkan kepadanya orang-orang yang tulus.

Dan ketika dunia terasa terlalu keras untuk hatinya yang lembut,

jadilah tempat perlindungannya.

Ya Allah…

Jika suatu hari nanti aku tidak lagi bisa berjalan di sampingnya,

jadilah Engkau yang berjalan bersamanya.

Jika aku tidak bisa lagi memeluknya,

jadilah Engkau yang menjaganya.

Jika suara ku tidak lagi bisa mengingatkannya,

jadikan doa-doa yang pernah aku panjatkan untuknya tetap menjadi jalan yang mengantarkannya kepada kebaikan.

---
Nak,

Mama tidak tahu kamu akan menjadi siapa nanti.

Mungkin kamu akan menjadi sesuatu yang bahkan hari ini belum pernah kamu bayangkan.

Mungkin kamu akan pergi jauh.

Mungkin kamu akan tinggal dekat.

Mungkin suatu hari kamu akan punya rumah sendiri.

Keluarga sendiri.

Anak-anak sendiri.

Dan Mama akan melihatmu dari kejauhan sambil diam-diam berkata,

“Bukankah dulu dia kecil sekali?”

Tapi satu hal tidak akan berubah.

Sebelum kamu menjadi apa pun di dunia ini,

kamu adalah anak laki-laki yang pertama kali membuatku menjadi seorang ibu.

Anak yang membuatku tahu bahwa hati seorang ibu ternyata bisa berjalan di luar tubuhnya.

Anak yang dulu menungguku di luar ruang operasi.

Anak yang memanggil-manggil Mama.

Anak yang pernah menangis bersamaku.

Anak yang pernah menjaga Mama ketika Mama sakit.

Anak yang sekarang bisa membuat adiknya tertawa.

Anak yang berlari ke sana kemari.

Yang gampang marah.

Yang gampang menangis.

Yang mudah tertawa.

Yang suka memberi.

Yang keras kepala.

Yang punya pendirian.

Yang banyak bertanya.

Yang terkadang membuat Mama ingin marah sekaligus tertawa di waktu yang sama.

Kamu.

Dengan seluruh kelebihanmu.

Dengan seluruh kekuranganmu.

Dengan segala kekacauan kecilmu.

Dengan segala kelembutan hatimu.

Kamu adalah kamu.

Dan Mama tidak membutuhkanmu menjadi sempurna.

Mama hanya ingin kamu tumbuh menjadi manusia yang baik.

Maka tumbuhlah, Nak.

Tumbuhlah tanpa kehilangan dirimu.

Jadilah kuat tanpa menjadi keras.

Jadilah lembut tanpa menjadi lemah.

Jadilah pintar tanpa menjadi sombong.

Jadilah pemberani tanpa menjadi kejam.

Jadilah laki-laki yang ketika namamu disebut, orang-orang mengingat kebaikanmu.

Pergilah sejauh yang kamu mampu.

Raih setinggi yang kamu mau.

Kenali dunia.

Buat kesalahan.

Belajar.

Bangkit.

Tertawa.

Cintai hidupmu.

Tetapi kalau suatu hari kamu lelah…

pulanglah.

Kalau suatu hari kamu sedih…

pulanglah.

Kalau suatu hari kamu merasa dunia terlalu berat…

pulanglah.

Dan kalau suatu hari kamu hanya ingin menjadi anak kecil lagi,

pulanglah.

Selama Mama masih ada,

akan selalu ada pelukan untukmu.

---

Dan untuk siapa pun yang sampai membaca tulisan ini…

Aku ingin menitipkan satu doa.

Tidak perlu mengenal anak ini.

Tidak perlu tahu siapa namanya.

Cukup, jika berkenan, aamiinkanlah.

Semoga anak laki-laki ini tumbuh dalam penjagaan Allah.

Semoga langkahnya dimudahkan.

Semoga hatinya dijaga tetap lembut.

Semoga ia dikelilingi orang-orang baik.

Semoga ia dijauhkan dari manusia yang berniat buruk.

Semoga ia memiliki ilmu yang luas dan hati yang rendah.

Semoga rezekinya halal, luas, dan penuh keberkahan.

Semoga ia sehat.

Semoga panjang umur.

Semoga kelak menjadi laki-laki yang baik untuk keluarganya, baik untuk masyarakatnya, dan baik di hadapan Tuhannya.

Semoga kelak ia mendapatkan pasangan yang baik.

Keluarga yang hangat.

Anak-anak yang mencintainya.

Pekerjaan yang membuatnya bermanfaat.

Kehidupan yang membuatnya bersyukur.

Dan semoga setiap luka yang pernah menyentuh masa kecilnya,

Allah gantikan dengan begitu banyak kebahagiaan sampai ia lupa bahwa dulu pernah menangis karenanya.

Semoga Allah menjaga dia dari apa pun yang tidak mampu aku lihat.

Semoga Allah mengabulkan doa-doa yang belum mampu ia ucapkan.

Dan semoga ketika suatu hari nanti aku sudah tidak bisa lagi memeluknya,

ia tetap hidup dalam pelukan penjagaan Allah.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Dan jika doa seorang ibu memang memiliki jalan yang panjang menuju langit,

maka aku ingin mengisinya dengan satu kalimat yang akan selalu sama:

“Ya Allah, jangan hanya jadikan anakku orang yang berhasil di dunia. Jadikan ia manusia yang Engkau ridai.”

Nak…

Kalau suatu hari nanti kamu membaca semua ini,

jangan berpikir Mama menulis karena kamu selalu baik.

Tidak.

Mama menulis karena kamu adalah kamu.

Anak kecil yang pernah membuat Mama menangis.

Membuat Mama tertawa.

Membuat Mama marah.

Membuat Mama khawatir.

Membuat Mama bangga.

Membuat Mama belajar.

Dan tanpa pernah kamu minta,

membuat Mama mencintai dengan cara yang bahkan tidak pernah Mama tahu sebelumnya.

Jadi untuk malam ini…

Sini.

Mama peluk.

Kamu tidak perlu menjadi anak besar dulu.

Kamu masih boleh menjadi anak kecil Mama.

Besok kamu boleh kembali berlari.

Boleh berisik.

Boleh tertawa.

Boleh bermain.

Boleh menjadi kakak.

Boleh menjadi anak pemberani.

Tapi malam ini,

biarkan Mama menikmati satu hal kecil yang kelak mungkin akan menjadi kenangan paling mahal:

memeluk anak laki-laki pertamanya.

Anak yang dulu membuatnya menjadi Mama.

Anak yang sampai kapan pun,

tidak akan pernah berhenti menjadi bagian dari doanya.

Mama sayang Aa.

Hari ini.

Besok.

Dan selama Allah masih menitipkan napas di tubuh Mama.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Untuk Anak Laki-Lakiku, yang Pertama Kali Mengajariku Menjadi Mama Untuk Anak Laki-Lakiku, yang Pertama Kali Mengajariku Menjadi Mama Reviewed by okta's pages on 11:36:00 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.