Kerajaan Kecil di Ujung Koridor


Di sebuah tempat yang tidak akan ditemukan di peta mana pun, berdirilah sebuah kerajaan kecil.

Tidak ada istana.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada singgasana berlapis emas.

Hanya beberapa ruangan, meja kerja, tumpukan kertas, papan pengumuman, dan sebuah koridor panjang yang setiap hari dilalui orang-orang dengan kesibukannya masing-masing.

Namun seperti kerajaan pada umumnya, tempat itu memiliki aturan.

Bukan aturan yang tertulis.

Aturan yang tumbuh dari kebiasaan.

Salah satunya berbunyi:

Kalau ada pekerjaan yang tidak jelas siapa pemiliknya, tunggu saja. Pada akhirnya akan sampai kepada Nara.

Bukan karena Nara paling hebat.

Bukan karena Nara paling punya waktu.

Hanya karena Nara punya satu kebiasaan buruk:

Ia tidak tega melihat sesuatu terbengkalai.

Maka ia membantu.

Awalnya sedikit.

Lalu lebih banyak.

Kemudian menjadi terlalu banyak.

Dan seperti semua kebaikan yang terlalu sering diberikan tanpa batas, lama-lama orang-orang berhenti melihatnya sebagai kebaikan.

Mereka mulai menganggapnya sebagai sistem.

“Nara saja.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi kalau diulang cukup sering, sebuah kalimat bisa berubah menjadi kebiasaan.

Dan kebiasaan, kalau dibiarkan, bisa berubah menjadi hak.


Di kerajaan kecil itu ada Rana.

Dulu, Rana adalah salah satu orang yang paling keras mengkritik penguasa lama.

“Jangan suka mengatur.”

“Kalau urusannya menyangkut banyak orang, ya dibicarakan.”

“Jangan mentang-mentang merasa paling tahu lalu menentukan semuanya.”

Nara masih ingat.

Semua orang juga mungkin masih ingat.

Lucunya, setelah penguasa lama pergi, Rana perlahan mendekati kursi yang dulu begitu ia benci.

Awalnya hanya duduk sebentar.

Lalu mulai memberi arahan.

Lalu mulai menentukan.

Lalu mulai terbiasa.

Sampai suatu hari, orang-orang menyadari:

kursinya masih sama. Hanya orang yang duduk yang berganti.

Nara pernah menceritakan itu kepada Mira.

Mira tertawa.

“Berarti dulu Rana bukan benci kerajaan.”

Nara mengangkat alis.

“Terus?”

“Dia cuma belum punya kursinya.”

Nara tertawa sampai menunduk.

Tetapi setelah itu, ia diam.

Karena ada kalanya sebuah lelucon terlalu dekat dengan kenyataan.


Kalau Rana adalah orang yang senang memegang kendali, kerajaan itu juga memiliki seorang perempuan bernama Vela.

Vela berbeda.

Ia tidak suka mengatur.

Setidaknya, tidak di awal.

Kalau ditanya pendapatnya, jawabannya hampir selalu sama.

“Tidak tahu.”

Kalau ditanya mau membantu atau tidak—

“Lihat nanti.”

Kalau ada sesuatu yang sedang direncanakan—

“Terserah.”

Ketika orang-orang sibuk memikirkan cara agar semuanya berjalan baik, Vela memilih diam.

Bukan diam karena sedang mengamati.

Diam karena tidak ingin ikut repot.

Dan orang-orang akhirnya belajar untuk tidak terlalu berharap kepadanya.

Menariknya, Vela memiliki kemampuan yang tidak semua orang punya.

Ia bisa berubah menjadi orang paling tahu setelah semuanya berjalan.

Begitu keadaan sudah bergerak, suaranya mulai terdengar.

“Kalau dulu tidak begini.”

“Harusnya dari awal seperti ini.”

“Dulu caranya lebih bagus.”

“Kalau saya sih tidak akan begitu.”

Nara pernah bertanya-tanya dalam hati:

Kalau memang tahu dari awal, kenapa waktu semua orang membutuhkan pendapatmu, kau memilih menjadi patung?

Tetapi pertanyaan itu tidak pernah ia ucapkan.

Sampai suatu hari Mira berkata,

“Vela itu bukan nggak tahu, Nar.”

Nara menoleh.

“Terus?”

“Dia cuma punya ilmu yang muncul setelah tanggung jawabnya selesai.”

Nara tertawa.

“Ilmu macam apa itu?”

“Ilmu komentator.”


Dan Vela memang hebat dalam satu hal:

mengoreksi sesuatu yang tidak ikut ia bangun.

Ia bisa melihat satu kesalahan kecil di antara seratus hal yang sudah dikerjakan orang lain.

Ia bisa menemukan satu bagian yang kurang sempurna dari pekerjaan yang sudah membuat banyak orang kelelahan.

Ia bisa mengatakan, “Harusnya begini,” dengan ketenangan orang yang sama sekali tidak mengalami proses panjang sebelum sesuatu itu sampai di hadapannya.

Namun yang paling ajaib adalah kebiasaannya mengambil alih ketika keadaan sedang berlangsung.

Bukan ketika direncanakan.

Bukan ketika dibutuhkan.

Justru ketika semuanya sudah berjalan cukup baik.

Tiba-tiba ia muncul.

Tiba-tiba sesuatu yang sudah disusun berubah.

Tiba-tiba keputusan yang sudah dibuat menjadi bahan revisi.

Tiba-tiba alur yang sudah disepakati harus mengikuti versinya.

Lalu setelah merasa cukup—

ia pergi.

Meninggalkan orang-orang yang sebelumnya sudah mengatur semuanya untuk memikirkan bagaimana mengembalikan keadaan ke jalurnya.

Nara pernah melihat kejadian seperti itu.

Ia tidak marah.

Belum.

Ia hanya menarik napas panjang dan berpikir:

Ada orang yang kalau tidak membantu, setidaknya tidak mengganggu.

Vela rupanya memilih level yang berbeda.


Sementara itu, pekerjaan terus berdatangan kepada Nara.

Ada yang meminta dengan sopan.

Ada yang menyelipkan permintaan di antara percakapan.

Ada yang mengatakan,

“Nara, kamu kan lebih ngerti.”

Ada yang menggunakan kalimat lebih halus.

“Kalau kamu nggak sempat juga nggak apa-apa sih…”

Kalimat semacam itu biasanya justru paling berbahaya.

Karena setelahnya akan muncul rasa bersalah.

Kalau Nara menolak, ia merasa seperti orang yang tidak mau membantu.

Kalau Nara menerima, waktunya habis.

Dan orang-orang perlahan belajar satu pola:

Nara mungkin mengeluh, tapi pada akhirnya Nara akan mengerjakan.

Maka keluhan Nara tidak lagi dianggap sebagai tanda kelelahan.

Hanya dianggap suara latar.

Seperti kipas angin.

Ada, terdengar, tetapi tidak perlu diperhatikan.


Sampai suatu hari Nara berhenti menghitung berapa kali ia menyelamatkan pekerjaan orang lain.

Ia mulai menghitung berapa kali orang lain membiarkan pekerjaan itu jatuh karena tahu Nara akan menangkapnya.

Hasilnya membuatnya diam.

Bukan karena marah.

Karena kecewa.

Ternyata selama ini ia bukan hanya terlalu baik.

Ia juga telah mengajari orang-orang bagaimana cara memperlakukannya.

Ia selalu berkata iya.

Ia selalu menyelesaikan.

Ia selalu menutupi.

Ia selalu berpikir,

“Sudahlah.”

Dan orang-orang akhirnya belajar bahwa “sudahlah” adalah tempat paling mudah untuk meletakkan tanggung jawab.


Puncaknya datang pada sebuah hari yang bahkan tidak terlihat istimewa.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada hujan badai.

Tidak ada musik dramatis seperti dalam film.

Hanya hari biasa dengan terlalu banyak pekerjaan.

Satu bagian belum selesai.

Bagian lain terlambat.

Ada yang lupa.

Ada yang tidak tahu.

Ada yang memilih tidak tahu.

Ada yang baru muncul ketika semuanya sudah berjalan.

Dan tentu saja—

Nara ada di sana.

Mira melihat wajahnya.

“Kamu capek?”

Nara mengangguk.

“Banget.”

“Ya sudah, jangan dikerjakan semua.”

Nara tertawa kecil.

“Kalau aku nggak kerjain?”

Mira menatapnya.

“Biar yang punya pekerjaan mengerjakan.”

Nara diam.

Mungkin selama ini sesederhana itu.


Tak lama kemudian, seseorang kembali berkata,

“Nara, kamu kan paling ngerti. Tolong sekalian—”

Kata “sekalian” itu membuat sesuatu di dalam diri Nara patah.

Bukan karena permintaan tersebut terlalu berat.

Tetapi karena itu adalah permintaan kesekian dari orang yang kesekian, setelah hari-hari panjang di mana ia terus diminta memahami orang lain tanpa ada yang benar-benar mencoba memahami dirinya.

Nara meletakkan apa yang sedang dipegangnya.

Pelan.

Tidak dibanting.

Tidak dilempar.

Justru terlalu tenang.

“Boleh saya ngomong?”

Orang-orang diam.

Nara menatap mereka satu per satu.

“Kenapa setiap kali ada sesuatu yang belum selesai, orang pertama yang dicari selalu saya?”

Tidak ada jawaban.

“Kenapa kalau saya bisa, berarti saya harus?”

Masih diam.

“Kenapa kalau saya menolak, saya yang dianggap berubah?”

Rana mulai membuka mulut.

Namun Nara mengangkat tangan.

“Biar saya selesai.”

Untuk pertama kalinya, Nara tidak meminta maaf karena mengambil ruang.

“Saya bisa kerja.”

“Saya bisa bantu.”

“Saya juga peduli.”

Ia menarik napas.

“Tapi jangan jadikan kemampuan saya sebagai alasan untuk tidak bertanggung jawab.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tidak keras.

Tapi cukup untuk membuat ruangan menjadi sunyi.

Nara melanjutkan.

“Saya nggak sedang mempersulit siapa-siapa.”

Matanya mulai panas, tetapi suaranya tetap stabil.

“Saya cuma berhenti mempermudah orang lain dengan cara menyusahkan diri sendiri.”

Tidak ada yang bergerak.

“Selama ini saya membantu karena saya peduli.”

Ia tersenyum tipis.

“Bukan karena saya tidak punya batas.”

Lalu kalimat terakhir keluar.

Pelan.

Tapi mungkin paling berat.

“Mulai sekarang, saya akan mengerjakan bagian saya.”

Nara berhenti sejenak.

“Bukan bagian semua orang.”


Setelah hari itu, tidak ada perubahan ajaib.

Kerajaan tidak langsung menjadi damai.

Rana tetap memiliki kebiasaan mengatur.

Vela tetap punya kemampuan luar biasa untuk menemukan kesalahan setelah semuanya selesai.

Dan orang-orang tetap kadang lupa bahwa mereka memiliki tanggung jawab masing-masing.

Hanya Nara yang berbeda.

Ketika diberi pekerjaan, ia bertanya,

“Siapa penanggung jawabnya?”

Ketika sesuatu dilempar kepadanya,

“Bagian saya yang mana?”

Ketika diminta mengambil pekerjaan tambahan,

“Kalau saya mengerjakan ini, pekerjaan saya yang tadi siapa yang pegang?”

Dan ketika seseorang berkata,

“Dulu kamu kan mau.”

Nara menjawab,

“Dulu iya.”

Selesai.

Tidak ada penjelasan panjang.

Tidak ada rasa bersalah.

Tidak ada pidato.

Karena Nara akhirnya mengerti:

orang yang terbiasa mendapatkan seluruh kebaikanmu akan menganggap batas sebagai keburukan.

Mereka akan bilang kamu berubah.

Kamu menjadi sulit.

Kamu tidak seperti dulu.

Mungkin benar.

Nara memang berubah.

Ia tidak lagi bersedia membuktikan bahwa dirinya baik dengan cara terus-menerus menyakiti dirinya sendiri.


Suatu sore, Nara berjalan melewati koridor panjang itu.

Ia melihat kursi yang selama ini menjadi pusat banyak hal.

Ia tersenyum.

Ternyata masalahnya bukan kursi.

Bukan pula siapa yang duduk di atasnya.

Masalah sebenarnya adalah ketika seseorang sudah terlalu nyaman berada di atas, lalu lupa bagaimana rasanya menjadi orang yang berdiri di bawah.

Dan Nara tidak ingin menjadi orang yang duduk di sana.

Ia hanya ingin semua orang belajar berdiri di tempat masing-masing.

Sebab sebuah kerajaan tidak akan pernah menjadi besar hanya karena satu orang bekerja sampai kehabisan tenaga.

Kerajaan menjadi sehat ketika setiap orang bersedia membawa bagian bebannya sendiri.

Mungkin setelah itu pekerjaan terasa lebih lambat.

Mungkin beberapa hal tidak lagi selesai secepat dulu.

Mungkin akan ada yang mengeluh.

Tidak apa-apa.

Setidaknya kali ini, Nara tidak sedang menyelamatkan semua orang dengan cara menenggelamkan dirinya sendiri.

Ia akhirnya belajar satu kalimat yang sederhana.

Kalimat yang seharusnya sejak awal ia miliki.

“Ini bagian saya.”

Lalu, tanpa marah, tanpa dendam, tanpa perlu meninggikan suara—

ia melanjutkan:

“Yang itu bagianmu.”

Kerajaan Kecil di Ujung Koridor Kerajaan Kecil di Ujung Koridor Reviewed by okta's pages on 10:54:00 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.