Ada masa dalam hidup gue ketika semuanya datang hampir bersamaan.
Hamil anak kedua di tengah pengobatan kista.
Mual hampir sembilan bulan.
Tiba-tiba harus operasi.
Setelah lahir, bayi gue harus dirawat.
Dan ketika satu anak sedang gue perjuangkan, anak yang lain ternyata juga membutuhkan gue.
Kalau dipikir-pikir sekarang, gue sendiri kadang heran, kok bisa waktu itu gue jalan terus.
Mungkin, karena gue memang nggak punya pilihan lain.
Kehamilan kedua gue sebenarnya bukan sesuatu yang gue rencanakan.
Waktu itu gue rutin kontrol karena ada kista. Hampir tiap bulan gue USG. Sampai suatu hari dokter bilang ada sesuatu yang berbeda.
Ada bayi.
Tiba-tiba saja sudah ada manusia kecil di sana.
Gue bahkan sempat mikir, lah, kok bisa?
Bukan karena gue nggak tahu caranya. Gue tahu. Tahu banget malah..
Tapi tetap saja rasanya absurd. Di tengah urusan kista, tiba-tiba ada bonus manusia.
Dan sejak awal, kehamilan ini juga nggak gampang.
Gue mual hampir sepanjang kehamilan cuy.
Tapi karena gue memang bukan tipe yang suka banyak cerita soal kondisi badan, orang-orang di sekitar gue juga banyak yang nggak tahu kalau gue hamil.
Gue tetap kerja. Tetap beraktivitas. Bahkan masih motoran kemana mana.
Bukan karena gue kuat-kuat amat.
Gue cuma menjalani hari seperti biasa.
Sampai usia kehamilan sekitar tujuh bulan, tubuh gue mulai kasih tanda yang bikin gue khawatir. Badan dan kaki terlihat kekuningan, ditambah beberapa kali kram.
Gue periksa.
Dokter bilang masih terlalu dini untuk melahirkan. Gue diberi obat dan diminta menjaga kondisi.
Gue pulang sambil berpikir, oke, berarti masih aman.
Ternyata hidup punya rencana lain.
Masuk delapan bulan, saat diperiksa lagi, pembukaan sudah dua. Tidak ada angin tidak ada hujan, pembukaan dua ahahahaaa
Dan kali ini dokter bilang gue harus melahirkan hari itu juga.
Nggak bisa ditunda.
Nggak bisa menunggu sampai cukup bulan.
Nggak bisa berharap semuanya berjalan normal.
Operasi.
Hari itu semuanya bergerak cepat.
Gedebag gedebug gubrag!!
Gue punya waktu sekitar satu jam untuk perjalanan menuju rumah sakit, lalu sekitar dua jam untuk persiapan.
Saking buru-burunya, gue ga yakin semua udah lengkap. .
Ya sudah, seadanya dan berangkat.
Ketololan memang kadang datang di saat genting.
Begitu sampai rumah sakit, semuanya seperti bergerak sendiri.
Gue masih sempat pegang HP.
Masih sempat ngobrol.
Sampai akhirnya ada yang bilang,
“Mari Bu, sudah waktunya.”
Wah ape nih? Secepat ini kah?
Di rumah sakit, Anak pertama gue yang waktu itu masih kecil ikut datang.
Dia juga sebenernya lagi nggak terlalu fit, tapi tetap ikut mendampingi dan berdiri di depan ruang operasi.
Sebelum gue masuk, dia bilang,
“Mama semangat!”
“Mama, Aa tunggu Mama.”
“Aa sayang Mama.”
“Mama sehat lagi, Ma.”
"Mama hebaaaaat!!. "
Gue cuma bisa melambaikan tangan.
Lalu pintu ruang operasi tertutup.
Gue masuk dan menunggu.
Di dalam sana ternyata ada beberapa kasus lain yang lebih urgent harus ditangani, jadi gue operasi yang terakhir.
Di dalam ruangan, gue sempat kepikiran suami.
Pengen dia ada di samping gue.
Tapi ya, aturan ruang operasi tetap aturan.
Di sebelah gue ada seorang ibu lain.
Dia sempat bertanya,
“Lahiran anak keberapa, Bu?”
“Anak kedua.”
Dia mengucapkan selamat.
Lalu dia cerita kalau dia justru sedang menunggu tindakan karena janinnya tidak berkembang.
Gue langsung diam.
Di tempat yang sama, kami sama-sama menunggu sesuatu.
Gue sedang menunggu seseorang lahir.
Dia sedang menghadapi kehilangan.
Entah kenapa, percakapan singkat itu terus menempel di kepala gue.
Sampai akhirnya beliau dibawa masuk.
Dokter pun datang meminta tanda tangan persetujuan operasi oleh suami.
Suami sempat menggenggam tangan gue sebelum gue benar-benar mulai menjalani operasi.
Dokter bilang,
“Bismillah ya, Bu. Kita mulai.”
Gue berusaha tenang.
Sampai anestesi bekerja.
Tubuh gue mulai mati rasa.
Gue tahu dokter sedang bekerja, tapi gue nggak merasakan sakit.
Lalu tiba-tiba kepala gue terasa ringan.
Mual.
Pusing.
Mengantuk.
Dan kemudian napas gue berubah.
Gue menarik napas.
Bisa.
Tapi ketika mau mengeluarkannya, rasanya seperti ada sesuatu yang menahan.
Gue coba lagi.
Tarik.
Nggak bisa keluar.
Tarik lagi.
Tetap begitu.
Dokter anestesi mulai memperhatikan kondisi gue.
Gue diberi suntikan.
Tapi rasa mual dan sesaknya belum juga hilang.
Pandangan gue mulai kabur.
Suara-suara di sekitar terasa menjauh.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue benar-benar berpikir:
Gue kayaknya mati.
Bukan sekadar takut.
Bukan pikiran lewat.
Tapi tubuh gue benar-benar terasa seperti sedang menyerah.
Gue nggak tahu apa yang sedang terjadi.
Gue cuma tahu gue kesulitan bernapas.
Dan di tengah keadaan itu, satu hal yang muncul di kepala gue bukan diri gue sendiri.
Anak-anak gue.
Kalau gue mati sekarang, siapa yang ngurus mereka?
Itu yang paling menakutkan.
Bukan kematian gue.
Tapi membayangkan dua anak gue kehilangan mamanya.
Lalu tiba-tiba—
Tangisan bayi.
Keras.
Nyata.
Hidup.
Dokter berkata,
“Alhamdulillah, bayinya perempuan bu sehat sempurna. Gemoy.”
Gue ingin menangis.
Tapi gue bahkan belum benar-benar bisa menikmati suara itu.
Gue masih berusaha bernapas.
Sampai akhirnya semuanya gelap.
Ketika sadar, gue sudah berada di ruang pemulihan.
Gue masih hidup.
Bayi gue juga hidup.
Belakangan gue diberi tahu kalau tubuh gue mengalami reaksi alergi yang cukup berat.
Entah bagaimana menjelaskannya, tapi sejak hari itu gue jadi lebih menghargai hal sesederhana bernapas.
Ternyata satu tarikan napas bisa terasa seperti sebuah perjuangan.
Setelah beberapa hari, gue akhirnya boleh pulang.
Tapi cuma beberapa hari karena kemudian gue kembali ke rumah sakit.
Bayi gue semakin kuning, lemas dan harus mendapat perawatan lebih lanjut.
Dan kali ini gue pulang tanpa bayi.
Suami yang menemani dan berjaga malam.
Gue pulang dengan tubuh yang baru saja dibelah, payudara penuh karena ASI, dan kepala yang rasanya sudah nggak tahu harus memikirkan apa dulu.
Karena gue memberikan ASI secara langsung, gue harus tetap mengeluarkan ASI.
Masalahnya, memompa nggak selalu mudah buat gue.
Payudara gue sakit.
Penuh.
Dan bayi gue maunya menyusu langsung.
Akhirnya gue bolak-balik ke rumah sakit.
Bahkan gue naik motor, bolak balik kesana kemari dan lari larian ngejar dokter ketika luka operasi gue sendiri masih belum benar-benar kering.
Kalau sekarang gue ingat-ingat:
Edan nggak tuh gue? Menyala sekali ya kan..
Tapi waktu itu gue nggak merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa.
Gue cuma merasa,
anak gue ada di sana.
Jadi gue datang.
Di rumah sakit, bayi gue diperiksa lebih lengkap.
Ternyata ada beberapa kondisi lain yang juga harus ditangani.
Perawatannya seharusnya berlangsung beberapa hari.
Tapi prosesnya sempat lebih lama karena bayi gue sangat ingin menyusu langsung.
Gue hampir seharian di rumah sakit.
Memompa hanya beberapa kali.
Selebihnya menyusui langsung.
Kadang dibantu perawat.
Bayi gue sudah kenal tangan ibunya.
Dan gue nggak tega.
Sembilan hari kemudian, akhirnya kami pulang bersama.
Selama bayi dirawat, gue dan suami bahkan sempat menyewa wisma dekat rumah sakit.
Seratus ribu semalam.
Karena kami hanya butuh tempat untuk tidur saja.
Sembilan malam.
Sembilan ratus ribu hanya untuk tempat tidur.
Belum makan.
Belum kebutuhan anak pertama.
Belum orang-orang yang membantu.
Belum transportasi.
Belum biaya-biaya lain yang bahkan waktu itu gue nggak sanggup menghitung satu per satu.
Gue nggak menghitung.
Gue cuma tahu satu hal:
Bayi gue harus pulang dalam keadaan lebih baik.
Dan akhirnya dia pulang.
Gue pikir setelah itu semuanya akan sedikit lebih tenang.
Ternyata belum.
Karena anak pertama gue masih belum benar-benar sehat.
Dan gue baru sadar, selama sembilan hari itu fokus gue habis di rumah sakit.
Ketika bayi gue harus diperiksa lagi, gue malah sempat berpikir,
kasih obat dulu saja.
Gue nggak segera membawa anak pertama gue untuk diperiksa.
Sampai akhirnya kondisinya memburuk dan dia juga harus mendapat penanganan.
Di titik itu gue benar-benar merasa bersalah.
Harusnya waktu itu gue lebih peka.
Harusnya gue sadar lebih cepat.
Harusnya gue bisa membagi perhatian dengan lebih baik.
Tapi kenyataannya, gue juga manusia.
Gue sedang kelelahan.
Gue baru pulang dari sembilan hari rumah sakit.
Gue mengurus bayi.
Gue mengurus anak pertama.
Gue mengurus rumah.
Gue mengurus keputusan-keputusan yang rasanya nggak ada habisnya.
Dan mungkin, di tengah semua itu, otak gue memang sudah terlalu penuh
Ada satu hal yang sampai sekarang paling gue ingat dari dokter.
Bukan diagnosisnya.
Bukan obatnya.
Tapi kalimat-kalimat sederhana yang justru gue butuhkan saat itu.
“Jangan nyalahin diri sendiri, Mama.”
“Mama hebat.”
“Mama kuat.”
“Mama nggak salah.”
“Gpp, Mama. Mama sedang dan sudah berusaha.”
Lalu satu kalimat yang paling menempel:
“Kita berusaha.”
Gue pikir, ternyata yang gue butuhkan memang bukan orang yang bilang,
“Harusnya lo begini.”
“Harusnya lo begitu.”
Gue sudah cukup sibuk menyalahkan diri sendiri.
Yang gue butuhkan cuma seseorang yang bilang,
“Mama, lo nggak salah. Lo kuat. Lo sudah berusaha. Kita berusaha sama-sama.”
Dan kalimat itu entah kenapa terasa seperti seseorang sedang mengambil sedikit beban dari pundak gue.
Karena saat itu gue memang sudah hampir habis.
Kalau sekarang gue melihat kembali semua kejadian itu, gue nggak tahu dari mana sebenarnya gue mendapatkan tenaga untuk terus jalan.
Gue pernah takut mati di meja operasi.
Gue pernah pulang tanpa bayi.
Gue pernah duduk di rumah sakit berhari-hari.
Gue pernah merasa bersalah karena terlambat menyadari anak pertama gue juga membutuhkan pertolongan.
Gue pernah merasa bodoh.
Pernah menangis.
Pernah bertanya dalam hati,
Gue ini ibu yang baik nggak, sih?
Tapi setiap kali gue merasa sudah nggak sanggup, ada dua anak yang membuat gue tetap berdiri.
Karena kalau gue nggak ada, kacau.
Nggak ada yang handle mereka seperti gue.
Jadi mungkin selama ini gue bukan benar-benar kuat.
Gue cuma terus berjalan karena ada dua anak yang masih membutuhkan mamanya.
Dan ternyata, menjadi ibu bukan berarti selalu tahu harus melakukan apa.
Bukan berarti selalu mengambil keputusan yang tepat.
Bukan berarti nggak pernah terlambat.
Bukan berarti nggak pernah salah.
Kadang kita cuma melakukan apa yang menurut kita paling benar dengan tenaga yang tersisa.
Kadang berhasil.
Kadang nggak.
Kadang kita baru sadar setelah semuanya lewat.
Dan itu bukan berarti kita nggak sayang.
Gue nggak bisa kembali ke hari-hari itu untuk memperbaiki apa yang menurut gue kurang.
Gue cuma punya hari ini.
Dua anak yang masih memanggil gue Mama.
Dan kesempatan untuk terus belajar menjadi ibu mereka.
Jadi kalau suatu hari gue kembali merasa nggak cukup baik, mungkin gue akan mengingat satu hal:
Gue pernah berada di titik paling takut dalam hidup gue.
Gue pernah mengira hidup gue akan berakhir di sebuah ruang operasi.
Tapi ternyata gue bangun.
Gue pulang.
Gue menangis.
Gue jatuh.
Lalu gue berdiri lagi.
Bukan karena gue selalu kuat.
Tapi karena dua anak itu masih membutuhkan gue.
Dan mungkin, untuk seorang manusia yang sedang melewati hari-hari paling beratnya, memang nggak selalu ada jawaban yang hebat.
Kadang jawabannya sesederhana:
Mama kuat.
Mama nggak salah.
Mama sudah berusaha.
Kita berusaha.
Lalu besok, kita coba lagi.
No comments:
Post a Comment