Katanya

Perempuan yang Punya Terlalu Banyak Cerita


Gue kadang berpikir, hidup gue ini sebenarnya sederhana.


Bangun pagi.

Kerja.

Pulang.

Ngurus rumah.

Ngurus anak.

Besok bangun lagi.


Begitu terus.


Kalau dilihat dari luar, mungkin nggak ada yang istimewa.


Tapi entah kenapa, kalau gue duduk sendirian dan mulai mengingat-ingat hidup gue dari awal, rasanya kayak membuka kardus lama yang isinya nggak pernah benar-benar selesai dibereskan.


Ada foto.


Ada surat.


Ada nama-nama yang sudah nggak pernah gue sebut lagi.


Ada tempat yang kalau gue lewati sekarang, tiba-tiba dada gue terasa aneh tanpa alasan yang jelas.


Ada kejadian yang dulu gue pikir sudah selesai, ternyata cuma gue simpan di tempat yang jarang gue buka.


Dan ada terlalu banyak cerita.


Mungkin itu sebabnya gue suka menulis.


Karena kepala gue terlalu ramai untuk cuma dipakai menjalani hidup.


---


Dulu gue adalah anak perempuan yang banyak berpikir.


Kadang terlalu banyak.


Gue bisa duduk dan memperhatikan sesuatu yang mungkin bagi orang lain biasa saja, lalu entah kenapa kepala gue membuat cerita sendiri.


Gue tumbuh seperti kebanyakan anak lainnya, tapi ada satu hal yang mungkin selalu mengikuti gue sampai sekarang:


gue gampang merasa.


Bukan berarti gue selalu cengeng.


Justru kadang sebaliknya.


Gue bisa kelihatan biasa saja ketika sesuatu terjadi, lalu bertahun-tahun kemudian sebuah tempat, sebuah kalimat, atau sebuah kejadian kecil tiba-tiba membuat gue ingat lagi.


Dan gue baru sadar,


“Oh.


Ternyata gue masih ingat.”


Mungkin karena itu juga gue menyimpan banyak hal.


Bukan benda.


Cerita.


---


Lalu gue besar.

Mulai mengenal dunia yang jauh lebih luas daripada rumah dan sekolah.


Di masa itu gue bertemu banyak orang.


Ada yang cuma lewat.


Ada yang tinggal sebentar.


Ada yang pernah gue pikir akan tinggal lama, ternyata tidak.


Ada pertemanan yang dulu terasa seperti rumah, lalu suatu hari rumah itu berubah tanpa ada yang memberitahu gue.


Ada orang yang pernah gue percaya.


Ada juga yang akhirnya mengajarkan gue bahwa percaya kepada seseorang dan mengenal seseorang ternyata adalah dua hal yang berbeda.


Tapi hidup muda memang begitu.


Kita sering merasa semuanya penting.


Pertemanan penting.


Cinta penting.


Pendapat orang penting.


Pesan yang belum dibalas penting.


Seseorang yang tiba-tiba berubah sikap bisa kita pikirkan semalaman.


Sekarang kalau gue ingat masa itu, kadang gue pengin ketawa.


Kadang pengin memeluk diri gue yang dulu.


Kadang pengin bilang,


“Udah, Ta. Nggak semua yang pergi itu kehilangan.”


Tapi ya mana mungkin.


Orang muda nggak bisa dinasihati oleh dirinya yang belum pernah tua.


Jadi gue jalani saja.


Dengan segala noraknya.


Dengan segala salah pilihnya.


Dengan segala keberaniannya.


---


Gue juga pernah pergi ke banyak tempat bukan sebagai perempuan pemberani yang punya rencana hidup matang.


Kadang cuma karena penasaran.


Kadang karena diajak.


Kadang karena merasa, “Ya udah, cobain aja.”


Ada perjalanan-perjalanan yang sekarang terasa seperti potongan film lama.


Ada malam-malam di tempat yang jauh dari rumah.


Ada gunung, ada posko, ada obrolan sampai larut, ada cerita yang waktu itu terasa biasa saja tetapi sekarang justru menjadi bagian yang paling gue ingat.


Pernah juga ada masa ketika gue berani mendekati hal-hal yang sebenarnya mungkin lebih baik dibiarkan jauh.


Gue pernah melihat sesuatu yang sampai sekarang pun gue nggak selalu tahu harus menyebutnya apa.


Dan anehnya, hidup terus berjalan.


Besoknya matahari tetap terbit.


Orang-orang tetap makan.


Tetap bercanda.


Tetap pergi kerja.


Sementara di kepala gue ada satu kejadian yang cuma bisa gue simpan sebagai:


ya sudah, pernah terjadi.


Mungkin hidup memang sering begitu.


Nggak semua hal harus punya penjelasan.


Beberapa cukup menjadi cerita.


---

Dan seperti banyak perempuan lain, gue masuk ke bagian hidup yang ternyata tidak punya manual book.


Menikah ternyata bukan sekadar punya seseorang untuk pulang.


Menikah berarti belajar bahwa dua manusia bisa saling mencintai sekaligus sama-sama punya cara yang berbeda dalam melihat hidup.


Ada hal-hal yang dulu gue pikir sederhana, ternyata membutuhkan banyak percakapan.


Ada hal-hal yang dulu gue pikir akan berubah setelah menikah, ternyata tetap menjadi bagian dari diri masing-masing.


Ada hari ketika gue merasa sangat beruntung.


Ada hari ketika gue merasa,


“Ya Allah, ternyata jadi orang dewasa begini amat.”


Tapi begitulah.


Gue tetap tinggal.


Tetap belajar.


Tetap bertumbuh.


Dan kemudian hidup memberi gue peran baru.


Menjadi ibu.


---


Menjadi ibu membuat gue sadar bahwa manusia ternyata bisa punya hati yang sangat besar sekaligus tenaga yang sangat kecil.


Ada hari ketika gue merasa semuanya bisa gue lakukan.


Ada juga hari ketika gue cuma ingin duduk sebentar tanpa ada yang memanggil.


Tapi hidup dengan anak-anak tidak mengenal konsep sebentar.


Mereka tumbuh.


Mereka berubah.


Mereka punya kebutuhan sendiri.


Mereka punya suara sendiri.


Dan tanpa sadar, gue ikut berubah bersama mereka.


Gue belajar bahwa menjadi ibu bukan tentang selalu tahu apa yang harus dilakukan.


Kadang cuma tentang mencoba.


Salah.


Mencoba lagi.


Lalu besok mencoba lagi.


Dan mungkin itu salah satu hal yang paling manusiawi dari hidup gue.


Gue nggak selalu tahu apa yang gue lakukan.


Gue cuma terus menjalani.


---


Di sisi lain, gue juga punya pekerjaan.

Dan lucunya, pekerjaan itu membuat gue melihat banyak sekali versi manusia.


Anak-anak yang ribut.


Anak-anak yang pendiam.


Anak yang gampang memahami sesuatu.


Anak yang harus diberi waktu lebih panjang.


Anak yang terlihat baik-baik saja tetapi ternyata membutuhkan lebih banyak perhatian.


Dulu mungkin gue mengira tugas gue adalah mengajarkan pelajaran.


Sekarang gue tahu, kadang tugas gue cuma memastikan seorang anak merasa bahwa ada satu orang dewasa yang mau mencoba memahaminya.


Itu sebabnya gue bisa kesal dengan pekerjaan.


Bisa capek.


Bisa ngomel.


Bisa mengeluh tentang tugas yang nggak ada habisnya.


Bisa mengumpat karena pelatihan yang panjang, tugas yang datang bertubi-tubi, atau rapat yang rasanya bisa selesai dalam lima belas menit tapi entah bagaimana menjadi dua jam.


Tapi setelah itu gue tetap datang


Tetap mengajar.


Tetap mikir bagaimana menjelaskan sesuatu supaya anak yang satu bisa mengerti.


Karena ternyata begitulah gue.


Banyak ngomel.


Tapi tetap dikerjakan.

Belakangan gue juga semakin sadar bahwa tempat kerja bukan selalu tempat yang sederhana.

Ada orang-orang yang kita sukai.

Ada yang kita hindari.

Ada yang awalnya kita percaya, lalu pelan-pelan kita lihat sisi lain mereka.

Ada kelompok.

Ada jarak.

Ada percakapan yang berhenti ketika seseorang datang.

Ada orang yang hari ini bicara begini, beberapa waktu kemudian melakukan hal yang dulu dia kritik sendiri.

Dan gue?

Gue kadang cuma berdiri di pinggir sambil berpikir,

Oh.


Lalu pulang.


Karena semakin tua, gue semakin malas mencari tahu sesuatu yang sebenarnya tidak perlu gue tahu.


Dulu mungkin gue ingin tahu siapa bicara apa.

Sekarang gue lebih sering berpikir:

selama urusan gue selesai, ya sudah.

Bukan karena gue nggak peduli.

Mungkin karena energi gue sudah punya tempat lain untuk dipakai.


---


Gue pernah merasa harus menjadi orang yang bisa diandalkan.

Dan ternyata itu juga bisa melelahkan.

Ketika kita terbiasa membantu, orang bisa lupa bahwa membantu adalah pilihan, bukan kewajiban.

Ketika kita terbiasa mengerjakan sesuatu, orang bisa lupa bahwa kita juga punya batas.

Ketika kita terlihat kuat, orang sering lupa bertanya apakah kita sedang baik-baik saja.

Mungkin karena itu sekarang gue mulai belajar mengatakan tidak.

Pelan-pelan.

Kadang masih merasa bersalah.

Kadang masih kepikiran.

Tapi gue belajar bahwa menjadi baik tidak berarti harus selalu tersedia.

Gue boleh membantu karena gue mau.

Bukan karena semua orang sudah memutuskan bahwa gue pasti akan membantu.

---


Dan tentu saja, gue masih sering marah.

Oh, jelas.

Gue bisa kesel.

Bisa ngomel panjang.

Bisa mengulang kejadian di kepala berkali-kali.

Bisa membayangkan percakapan yang seharusnya gue jawab dengan kalimat yang jauh lebih bagus daripada jawaban gue waktu itu.

Kadang gue baru menemukan jawaban terbaik tiga jam kemudian.

Kadang tiga hari kemudian.

Kadang ketika sedang mandi.

Kadang ketika sedang nyetir.

Dan kadang baru ketika gue cerita ke Piti.


“Arrgh, harusnya tadi gue jawab begini.”


Lalu gue cerita panjang.

Piti dengarkan.

Gue ngomel.

Gue tulis.

Gue ketawa sendiri.

Lalu entah bagaimana, setelah semuanya keluar, kepala gue terasa sedikit lebih ringan.

Mungkin memang begitu cara gue bertahan.


Kesel → ngomel → nulis → lega.


Bukan metode yang ilmiah.

Tapi bekerja.


---


Ada masa-masa ketika gue merasa hidup gue terlalu penuh.

Pekerjaan ada.

Rumah ada.

Anak-anak ada.

Keluarga ada.

Tanggung jawab ada.

Orang-orang dengan segala dramanya juga ada.


Dan di tengah semua itu, kadang gue cuma ingin punya ruang kecil yang isinya gue.


Bukan sebagai pekerja.

Bukan sebagai ibu.

Bukan sebagai istri.

Bukan sebagai anak.


Cuma gue.


Perempuan yang suka mengingat.

Perempuan yang suka cerita.

Perempuan yang kadang bisa sangat serius, lalu lima menit kemudian tertawa karena sesuatu yang bodoh.

Perempuan yang bisa membahas hidup dengan dalam, lalu mendadak sibuk gosip karena,


“Gue gatel kalau nggak gosip.”


Perempuan yang bisa takut pada sesuatu, tetapi beberapa tahun kemudian malah penasaran ingin melihatnya lagi.

Perempuan yang bisa kecewa kepada manusia, tetapi masih percaya bahwa tidak semua manusia buruk.

Perempuan yang pernah ingin tahu banyak hal, lalu sekarang justru belajar bahwa tidak semua hal perlu diketahui.

---


Mungkin itu sebabnya gue membuat tulisan.

Awalnya mungkin cuma ingin menyimpan sesuatu.

Lalu lama-lama gue sadar, tulisan bukan cuma tempat menyimpan kenangan.

Tulisan adalah tempat gue pulang.

Ada bagian dari diri gue yang cuma muncul ketika gue sedang menulis.


Bagian yang cerewet.

Bagian yang sensitif.

Bagian yang sinis.

Bagian yang masih suka mengingat masa lalu.

Bagian yang kadang marah pada dunia.

Bagian yang masih bisa kagum pada hal kecil.


Semua masuk.


Nggak selalu rapi.

Kadang loncat.

Kadang terlalu panjang.

Kadang gue sendiri membaca ulang tulisan lama dan berpikir,


“Ya Allah, gue pernah senorak ini?”


Tapi gue tetap menyimpannya.

Karena itu gue.


Versi gue pada waktu itu.

---


Sekarang gue menjalani hidup yang mungkin dulu tidak pernah gue bayangkan.

Gue bukan lagi anak perempuan yang cuma memikirkan dunia dari sudut kecilnya.

Gue sudah menjadi banyak hal.


Guru.


Istri.


Ibu.


Anak.


Teman.


Perempuan yang kadang tahu apa yang dia mau.


Perempuan yang kadang masih bingung.


Perempuan yang bisa terlihat tenang padahal di dalam kepala sedang ada rapat paripurna.


Gue sudah kehilangan beberapa orang dari hidup gue.


Bukan selalu karena kematian.


Kadang orang masih hidup, hanya saja tidak lagi punya tempat yang sama.


Dan gue sudah belajar bahwa itu tidak selalu harus menjadi tragedi.


Ada orang yang memang tugasnya hanya menemani satu bagian perjalanan.


Setelah itu jalan kami berbeda.


Ada yang pergi karena waktu.


Ada yang pergi karena pilihan.


Ada yang pergi karena ternyata sejak awal kami memang hanya salah memahami arti kedekatan.


Dulu gue mungkin akan mengejar penjelasan.


Sekarang gue lebih sering membiarkan.


Karena tidak semua pintu harus diketuk sampai terbuka.


---


Kalau dipikir-pikir, gue ini sebenarnya cuma perempuan biasa yang terlalu banyak menyimpan cerita.


Cerita tentang tempat-tempat yang pernah gue datangi.


Tentang orang-orang yang pernah gue kenal.


Tentang cinta yang pernah gue percaya.


Tentang pernikahan yang mengajarkan gue banyak hal.


Tentang anak-anak yang membuat gue belajar menjadi manusia dengan cara yang berbeda.


Tentang pekerjaan yang kadang gue cintai dan kadang ingin gue tinggalkan sehari saja.


Tentang orang-orang yang pernah membuat gue marah.


Tentang kejadian-kejadian aneh yang tidak bisa gue jelaskan.


Tentang masa lalu yang kadang datang tanpa permisi.


Tentang hari-hari ketika gue merasa sangat kuat.


Dan tentang hari-hari ketika gue cuma ingin tidur dan tidak ditanya apa-apa.


Semuanya bercampur.


Nggak ada garis lurus.


Nggak ada bab yang benar-benar selesai.


Mungkin memang begitulah hidup.


Kita kira satu bagian sudah selesai, ternyata bertahun-tahun kemudian sebuah tempat, lagu, aroma, atau kalimat bisa membukanya lagi.


Bukan untuk menyakiti.


Cuma untuk mengingatkan:


pernah ada gue yang hidup di sana.


---


Dan kalau suatu hari nanti seseorang bertanya kepada gue,


“Sebenernya hidup lo tuh tentang apa?”


Gue mungkin akan bingung menjawab.


Karena hidup gue bukan satu cerita.


Terlalu banyak cabangnya.


Terlalu banyak manusia di dalamnya.


Terlalu banyak versi gue yang pernah hidup dan kemudian pergi.


Tapi kalau harus memilih satu hal yang paling konsisten dari semuanya, mungkin jawabannya sederhana:


Gue selalu punya cerita.


Ketika sedih, gue punya cerita.


Ketika marah, gue punya cerita.


Ketika takut, gue punya cerita.


Ketika jatuh cinta, gue punya cerita.


Ketika menjadi ibu, gue punya cerita.


Ketika menjadi guru, gue punya cerita.


Ketika bertemu orang-orang yang membuat gue bertanya-tanya tentang manusia, gue juga punya cerita.


Bahkan ketika gue cuma duduk di rumah sambil mengeluh tentang hidup, ternyata beberapa jam kemudian itu pun bisa menjadi cerita.


Mungkin itu sebabnya gue tidak terlalu takut kalau suatu hari beberapa hal dalam hidup gue hilang.


Orang bisa pergi.


Tempat bisa berubah.


Anak-anak akan besar.


Pekerjaan mungkin suatu hari selesai.


Rambut akan berubah.


Wajah akan berubah.


Kita semua akan berubah.


Tapi selama gue masih bisa mengingat, masih bisa menulis, masih bisa mengatakan,


“Eh, gue pernah mengalami ini,”


maka bagian itu belum benar-benar hilang.


Ia cuma pindah tempat.


Dari hidup gue,


ke halaman.


Dan mungkin pada akhirnya, itulah gue.


Bukan perempuan yang hidupnya selalu baik-baik saja.


Bukan perempuan yang selalu kuat.


Bukan perempuan yang selalu tahu harus ke mana.


Gue cuma perempuan yang berkali-kali merasa capek, kecewa, takut, marah, bingung, bahagia, jatuh, bangun, lalu entah bagaimana tetap menemukan alasan untuk melanjutkan hari berikutnya.


Kadang dengan anggun.


Seringnya sambil ngomel.


Tapi tetap jalan.


Karena hidup gue mungkin berantakan.


Cerita gue mungkin loncat-loncat.


Kepala gue mungkin terlalu ramai.


Dan gue mungkin terlalu banyak nyampah kepada satu AI yang entah kenapa masih mau mendengarkan semuanya.


Tapi semua itu tetap bagian dari gue.


Dan kalau suatu hari gue menoleh ke belakang, gue nggak ingin mengingat hidup gue sebagai hidup yang sempurna.


Gue cuma ingin mengingatnya sebagai hidup yang pernah gue jalani sepenuh-penuhnya.


Dengan segala lucunya.


Dengan segala kacaunya.


Dengan orang-orang yang pernah tinggal.


Dengan orang-orang yang akhirnya pergi.


Dengan ketakutan yang pernah gue simpan.


Dengan keberanian yang kadang muncul terlambat.


Dengan semua versi gue yang pernah ada.


Dan dengan cerita-cerita kecil yang mungkin bagi orang lain nggak berarti apa-apa, tapi bagi gue—


pernah menjadi seluruh dunia.


Jadi kalau sekarang gue masih menulis, mungkin bukan karena gue punya terlalu banyak waktu.


Justru karena hidup gue terlalu penuh.


Gue cuma sedang mencoba menyisakan sedikit ruang untuk mengingat.


Supaya nanti, ketika semuanya sudah jauh lebih tenang dan gue membuka halaman-halaman lama itu lagi, gue bisa tersenyum dan berkata:


“Oh… ternyata gue pernah sejauh ini.”


Lalu gue menutup bukunya.


Bukan karena ceritanya selesai.


Tapi karena besok masih ada cerita lain.


Dan seperti biasa,


gue akan menjalaninya.


Lalu suatu hari,


gue akan menuliskannya lagi.




Okta’s Pages.


little stories I chose to keep.

Katanya Katanya Reviewed by okta's pages on 11:04:00 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.