Waktu itu gue masih kuliah.
Dan untuk pertama kalinya, orang rumah ngasih gue izin pergi ke Gunung.
Sebelum cerita ini dimulai, gue perlu meluruskan satu hal.
Kalau lo membayangkan gue waktu itu sebagai pendaki muda yang gagah, lengkap dengan carrier, jaket outdoor, celana trekking, sepatu gunung, lalu berjalan menaklukkan tanjakan demi tanjakan menuju puncak...
Tolong hapus bayangan itu.
Karena gue...
nggak naik.
Sama sekali.
Gue cuma mau nginep semalam di dasar Gunung.
Itu saja.
Tapi bahkan untuk sekadar camping di dasar gunung, persiapan gue sebenarnya sudah menunjukkan betapa polosnya gue soal dunia outdoor.
Gue nggak punya baju gunung.
Baju gue waktu itu ya baju apalah-apalah. Seadanya, sengena-enanya.
Jadi ketika mau berangkat, gue sempat bingung sendiri.
“Pakai apa, ya?”
Dan karena gue nggak punya jawaban yang lebih baik, akhirnya gue pakai apa yang gue punya.
Jeans hitam, tunik warna marun, jaket marun, hijab peach, dan sepatu olahraga warna pink.
Iya.
Pink.
Jangan tanya kenapa nggak minjem baju outdoor teman.
Ya kali harus minjem dulu.
Ogah.
Waktu itu gue memang belum paham kalau ternyata pergi ke gunung punya semacam seragam tidak resmi.
Gue cuma mikir, selama pakaian gue masih bisa dipakai, ya sudah.
Berangkat.
Kami pergi berdelapan.
Tiga perempuan, lima laki-laki.
Gue ikut karena percaya sama orang-orang yang ngajak. Gue juga nggak punya bayangan macam-macam soal apa yang bakal terjadi.
Yang gue tahu cuma satu:
akhirnya gue boleh pergi ke gunung.
Dan buat anak yang selama ini dilarang orang tua pergi ke tempat begitu, rasanya sudah seperti dapat izin melakukan petualangan besar.
Padahal...
gue cuma mau tidur semalam di bawah gunung.
Kami berangkat sore.
Jadi pikir gue, outfit yang salah ini nggak akan menjadi masalah.
Toh, sebentar lagi gelap.
Semakin perjalanan mendekati kawasan gunung suasananya mulai berubah. Cahaya matahari perlahan turun. Warna langit mulai bergeser.
Terlebih saat itu waktu hampir menjelang Magrib, segala sesuatu di sekitar kami mulai terlihat berbeda.
Dan justru di saat cahaya sedang tanggung-tanggungnya itu, gue melihat sesuatu.
Sesuatu yang mungkin seharusnya nggak gue lihat.
Sesuatu yang, kalau dipikir-pikir sekarang, memang nggak mungkin ada di sana.
Karena sepanjang perjalanan, pemandangannya terasa begitu template.
Lahan pertanian.
Itu saja.
Naik sedikit, lahan pertanian lagi.
Belok, lahan pertanian lagi.
Sampai kemudian, di atas lahan pertanian itu, di belokan pertama, gue melihat sebuah gerbang.
Besar.
Pilar-pilarnya putih.
Tapi bukan cuma putih.
Gerbang itu terlihat amat sangat terang.
Terang sekali sampai bagian atas dan bawahnya seperti kabur oleh cahaya.
Gue memperhatikan dari kejauhan.
Lalu gue melihat seseorang.
Dia berada di sekitar gerbang itu.
Penampilannya seperti seseorang dari zaman dulu.
Rambutnya panjang, lurus, dan berwarna hitam legam.
Memakai kemben hitam dengan renda keemasan.
Selendang berwarna kuning dan hijau.
Serta memakai kain jarik dengan benang emas.
Di kepalanya ada mahkota berwarna emas.
Di kedua lengannya juga ada aksesori yang berwarna emas.
Dan entah kenapa, pemandangan itu justru terasa...
indah.
Bukan seperti sesuatu yang pertama kali bikin gue ingin lari.
Malah seperti sedang melihat adegan film kolosal.
Kayak Angling Darma.
Gue sampai terpukau.
Gue liatin terus dalam diam.
Sampai kemudian gue sadar ada satu hal yang bikin pemandangan itu nggak mungkin gue anggap biasa.
Perempuan itu tidak berjalan.
Dia terbang.
Melayang.
Bergerak bolak-balik di sekitar gerbang itu.
Dan di situlah kekaguman gue perlahan berubah menjadi rasa takut.
Bukan karena gue langsung berpikir macam-macam.
Tapi karena tiba-tiba muncul satu pikiran sederhana:
“Jangan-jangan dia tahu gue lagi lihatin.”
Nah.
Itu yang bikin gue mulai nggak nyaman.
Gue takut kalau dia menoleh.
Takut kalau dia sadar ada gue yang memperhatikan.
Dan lebih takut lagi kalau setelah sadar...
dia datang ke arah gue.
Jadi gue memilih diam.
Nggak cerita ke siapa-siapa.
Nggak menunjuk.
Nggak teriak.
Gue cuma melihat sambil berharap seseorang itu tetap sibuk dengan dunianya sendiri.
Dalam hati mungkin gue cuma bisa bilang,
“Maaf, permisi... kita nggak kenal, ya. Lo di sana aja. Gue di sini.”
Dan anehnya, sampai sekarang bagian itu masih gue ingat jelas.
Bukan cuma karena apa yang gue lihat.
Tapi karena perasaan gue waktu itu benar-benar campur aduk.
Kagum.
Penasaran.
Takut.
Tapi tetap pengin melihat.
Gue bisa takut sekaligus terpukau dalam waktu yang sama.
Sampai akhirnya perjalanan membawa kami semakin dekat ke tempat tujuan.
Dan ketika kami sampai di tujuan...
gerbang itu ternyata udah nggak ada.
Sosok itu pun juga menghilang.
Begitu saja.
Dan setelah itu?
Nggak ada kejadian apa-apa lagi.
Serius.
Kami camping seperti biasa.
Ngobrol.
Ketawa.
Ribut.
Gue malah, dengan ketidaktahuan diri ini, bisa tidur nyenyak.
Nggak ada kejadian aneh lanjutan.
Nggak ada drama.
Nggak ada gue yang kemudian lari-larian sambil teriak.
Semuanya biasa saja.
Mungkin justru itu yang membuat pengalaman tersebut terasa aneh sampai sekarang.
Karena satu-satunya bagian yang berbeda hanya apa yang gue lihat sebelum sampai.
Setelahnya, hidup kembali normal.
Dan di perjalanan itu gue juga beruntung karena ada seseorang yang benar-benar jagain gue.
Super protektif.
Dia memastikan gue nyaman, nggak kerepotan, bisa istirahat, bisa tidur dengan tenang, dan menikmati perjalanan panjang itu.
Gue nggak akan cerita terlalu banyak tentang bagian ini.
Cerita bagian ini gue potong sedikit, demi menjaga ketenangan jiwa beberapa pihak. 😂
Tapi kalau dipikir-pikir sekarang...
gue malah kasihan sama dia.
Bayangin.
Udah ngajak gue pergi jauh.
Harus memastikan gue baik-baik saja.
Harus jagain gue sepanjang perjalanan.
Dan mungkin dalam hati juga harus berdamai dengan kenyataan bahwa orang yang dia bawa ke gunung datang dengan...
outfit yang salah, nyeleneh, dan sangat tidak sesuai.
Gue nggak tahu waktu itu dia sebenarnya malu atau nggak.
Tapi kalau ternyata iya...
maaf ya.
Gue memang belum mengenal konsep outdoor outfit.
Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin dia waktu itu bukan cuma menjaga gue dari dingin, capek, atau hal-hal lain selama perjalanan.
Dia juga sedang berusaha...
menyelamatkan martabat gue dari outfit gue sendiri.
Dan yang lebih lucu lagi...
besok paginya setelah kami turun dari gunung, dan langsung pergi ke pantai.
Masih dengan outfit yang sama.
😭
Sampai sekarang kalau melihat foto-foto lama perjalanan itu, gue kadang cuma bisa menatap diri sendiri dan bertanya:
“Kenapa gue dulu bisa pede banget?”
Tapi ya...
memang begitulah gue waktu itu.
Nggak ngerti harus pakai apa.
Nggak punya banyak pilihan.
Dan nggak merasa perlu meminjam punya orang.
Yang penting ikut.
Yang penting berangkat.
Yang penting senang.
Dan ternyata, perjalanan yang bahkan sebenarnya bukan pendakian itu justru meninggalkan satu kenangan yang masih gue bawa sampai sekarang.
Gue nggak pernah menaklukkan gunung itu.
Nggak pernah sampai puncak.
Nggak pernah melewati jalur panjang seperti pendaki pada umumnya.
Gue cuma sampai dasar awal doang.
Nginap semalam.
Melihat sebuah gerbang putih yang entah kenapa terlihat sangat terang.
Melihat seseorang dengan pakaian seperti dari zaman lain yang bergerak melayang di sekitarnya.
Sempat terpukau.
Lalu takut kalau dia sadar gue sedang melihat.
Setelah itu tidur nyenyak.
Besoknya turun.
Dan pergi ke pantai pakai sepatu pink.
Kalau sekarang gue mengingat semuanya, gue malah merasa lucu.
Dulu gue pikir gue sedang menjalani sebuah petualangan besar.
Sekarang gue sadar...
mungkin petualangan besarnya bukan soal gunungnya.
Tapi soal seorang anak kuliahan yang akhirnya berani pergi jauh dari rumah, dengan pakaian seadanya, tanpa tahu banyak hal, cuma bermodal percaya sama orang-orang yang pergi bersamanya.
Dan entah bagaimana, di tengah perjalanan sederhana itu, gue mendapat satu pemandangan yang sampai sekarang masih tersimpan di kepala gue.
Gue nggak tahu apa sebenarnya yang gue lihat malam itu.
Gue cuma tahu apa yang gue lihat.
Dan gue masih ingat bagaimana rasanya melihatnya.
Indah.
Aneh.
Bikin penasaran.
Lalu bikin takut.
Sementara di sisi lain...
ada seseorang yang sibuk memastikan gue baik-baik saja.
Mungkin kalau dia sekarang melihat foto lama gue dengan sepatu pink itu, dia juga akan mengingat perjalanan tersebut dengan cara yang berbeda.
Entah sebagai kenangan manis...
atau sebagai pengalaman hidup yang mengajarkan satu hal penting:
kalau mau ngajak gue ke gunung, jangan lupa kasih briefing outfit dulu. 😂
Karena gue memang nggak pernah naik gunung.
Gue cuma pernah nginep di dasarnya.
Tapi dari perjalanan sesederhana itu, gue pulang membawa satu cerita yang bertahun-tahun kemudian masih bisa bikin gue tersenyum.
Dan satu bukti sejarah yang nggak bisa gue bantah:
gue pernah datang ke kaki Gunung itu dengan sepatu olahraga pink.
Dan sampai sekarang, kalau mengingat perjalanan itu, gue masih suka ketawa sendiri.
Bukan karena gue pernah menaklukkan gunungnya
Gue bahkan nggak muncak.
Gue cuma pernah datang ke sana dengan outfit seadanya, melihat sesuatu yang sampai sekarang masih gue ingat, lalu besok paginya lanjut ke pantai dengan pakaian yang sama.
Ya sudah.
Maaf, gue norak. 😂
No comments:
Post a Comment