Permisi, Pak???


Sampai sekarang gue masih suka bertanya-tanya, kenapa dulu gue bisa setenang itu?

Padahal malam itu, gue melihat terlalu banyak hal yang seharusnya bikin gue lari sejak awal.

Waktu itu gue masih SMA. Kelas satu atau dua, gue lupa. Yang jelas gue sedang ikut pelantikan kenaikan tingkat Pramuka di sebuah bumi perkemahan.

Namanya juga anak SMA.

Di marahin mulu, Gemblengan mental ceritanya ya manut.

Disuruh jalan jauh, ya jalan.

Disuruh ke tenda, ya masuk tenda.

Di bangunin tengah malem, bangun..

Dulu mah seru.

Sekarang kalau dipikir-pikir, beberapa kegiatannya malah bikin gue bertanya,

“Dulu kenapa gue mau, sih?” 😂

Malam itu, setelah seharian penuh aktivitas, panitia menyuruh kami istirahat.

Teman-teman gue langsung tidur.

Gue juga sebenarnya ngantuk banget.

Badan gue capek.

Tapi mata gue nggak bisa terpejam.

Entah kenapa, malam itu gue mendadak waspada.

Lalu gue melihatnya.

Di luar tenda ada ular.

Besar.

Bukan ular yang sekadar lewat di rumput.

Tubuhnya seperti piton raksasa, melilit tenda kami. Bergerak mengelilinginya. Naik ke bagian atas, turun lagi, lalu bergerak lagi.

Dan yang paling gue ingat adalah suaranya.

Srek...

Diam sebentar.

Srek... srek...

Suara tubuhnya bergesekan dengan kain tenda.

Gue diam.

Nggak teriak.

Nggak membangunkan siapa-siapa.

Cuma memegang selimut dan menatap.

Anehnya, gue malah berpikir:

Ini ular beneran?

Karena kalau memang ular sebesar itu ada di luar tenda, mana mungkin panitia nggak lihat?

Di luar banyak orang.

Masa nggak ada satu pun yang heboh?

Gue sampai pada kesimpulan sendiri:

Kayaknya ini bukan ular beneran.

Tapi meskipun otak gue mencoba masuk akal, tubuh gue tetap nggak mau tidur.

Gue bisa merasakan dinginnya.

Melihat liukannya.

Mendengar gesekannya.

Jadi gue cuma bisa berdoa.

Sampai perlahan-lahan, ular itu seperti menghilang.

Gue masih terdiam ketika seorang panitia datang ke tenda.

Dia melihat gue masih terjaga.

Selimut gue pegang erat.

Muka gue pucat.

“Dek, Kenapa belum tidur?”

Gue bingung.

Masa gue jawab,

“Ada ular piton segede gaban ngelilingin tenda, Kak.”

Dikira gila gue.

Gue cuma senyum doang, senyum yang bodoh.

Akhirnya dia ngajak gue keluar.

Begitu sudah di luar, dia malah bertanya,

“Kamu bisa lihat, ya?”

Gue jawab polos,

“Bisa lah, Kak.”

Dia diam sebentar.

Lalu bertanya lagi.

“Kamu lihat ular tadi?”

Gue langsung diam.

Buset to the point amat.

dan gue,

Cuma melirik.

Nggak nunggu gue jawab panjang.

Dia langsung paham.

Dia manggil temannya.

Mereka ngobrol.

Lalu entah bagaimana ceritanya, gue malah ditandai.

Katanya, hati-hati.

Ada satu anak yang bisa melihat begituan.

Gue.

Sejak saat itu gue seperti dititipkan.

Mata mereka udah ga sama waktu liat gue, waspada dan kebanyakan ketika liat gue mereka manggut-manggut.

Padahal gue sendiri nggak merasa punya kemampuan apa-apa.

Gue cuma melihat apa yang gue lihat.

Dan ternyata malam itu belum selesai.

Kegiatan terus berlangsung.

Kami kemudian menjalani perjalanan malam.

Jalurnya jauh.

Awalnya masih pemukiman penduduk, namun semakin dalam semakin jauh jadi hutan.

dan ada kuburan.

Kami berjalan berkelompok dan berhenti di beberapa pos. Setiap pos punya tantangan yang berbeda.

Di awal, kami masih ramai.

Masih ngobrol.

Masih merasa ini bagian dari serunya jurit.

Sampai gue melihat sesuatu di dekat pohon.

Putih, terikat, gemoy.

Bentuknya seperti pocong.

Gue pikir panitia.

Oh, paling panitia iseng.

Tapi kok banyak?

Gue kemudian memastikan kepada panitia yang ada di pos.

“Kak, di sani dengan siapa?”

Dia bilang dia sendirian.

Nggak ada panitia lain.

gue tanya juga dong, apakah ada yang cosplay hantu atau nempel boneka bentuk hantu?

Sembari tertawa dia jawab Nggak ada cosplay hantu ataupun properti hantu, ga zaman katanya.

Oke.

Gue mulai diam.

dan paham, gue juga berdoa supaya kakak panitia itu selamat sentosa.

Kami lanjut berjalan.

Sampai gue melihat seorang bapak-bapak sedang jongkok di pinggir jalan, sendirian.

Refleks gue sebagai manusia Indonesia yang masih punya sopan santun:

“Permisi, Pa.”

Teman gue langsung histeris.

“LU NGOMONG SAMA SIAPA, IH NJIR?!”

Gue malah bingung.

“ITU ADA BAPAK-BAPAK!”

Mereka nggak melihat apa-apa.

Gue masih sempat ngomel,

“Bego, nggak sopan lu. Orang gede begitu masa nggak lihat.”

Gue ngomong gitu sambil refleks nunjuk orang itu, dan dia menoleh dengan muka rata.

Syalan.

Ngeliat respon gue, otomatis Teman-teman gue malah lari.

Ya gue ikut lari lah.

Takut.

😂

Nggak lama kemudian gue melihat lagi sosok putih.

Kali ini pocong yang nyender di tumpukan bambu.

Dan karena sebelumnya gue memang mengira sosok-sosok seperti itu adalah manusia atau panitia padahal udah di kasih tau ga ada properti atau cosplay...

Gue tetap refleks bilang..,

“Permisi.”

dan itu terjadi berkali-kali sepanjang perjalanan, dengan penampakan yang berbeda-beda.

Kalau dipikir sekarang, gue heran sendiri.

Kenapa di tengah situasi begitu gue masih sempat permisi?

Mungkin karena waktu itu gue memang belum terlalu memahami apa yang sebenarnya gue lihat.

Buat gue, hantu versi film itu kan mukanya rusak, berdarah-darah, serem.

Sedangkan yang gue lihat?

Ya seperti manusia.

Cuma pucat dan bonus rata.

Jadi gue sering mengira mereka manusia biasa.

Sampai kami tiba di pos terakhir.

Kuburan.

Jalannya berupa tangga kecil yang menanjak.

Kiri-kanan penuh makam.

Pohon-pohon besar berdiri di antaranya.

Kami masih berada di bawah.

Kemudian dari atas...

kebetulan yang luar biasa

kami melihat sesuatu.

Baju putih.

Rambut panjang menutupi wajah.

Dan dia sedang bergerak turun.

Tapi caranya bergerak...

nggak masuk akal.

Tubuhnya seperti terbalik.

Seperti kayang.

Tangan berada di bawah dan menjadi tumpuan seperti kaki.

Setiap maju, tangan itu bergerak duluan, berputar ke depan, lalu tubuhnya mengikuti.

Cepet.

Cepet banget.

Tangannya juga terlihat panjang.

Kami semua melihat.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, nggak ada yang sempat berpikir panjang.

“AAAAAAAAAAAAAA!”

Kami teriak berjamaah.

Belum selesai.

BRUG!

Sesuatu yang hitam besar jatuh dengan tali masih menggantung.

Hitam semuanya.

Baju hitam.

Tubuhnya hitam.

semuanya hitam.

Kami tambah histeris.

Dan ternyata...

Ada satu kakak panitia sedang duduk di salah kuburan.

Nontonin kami.

Gue kira dia bakal ketawa.

Ternyata panitianya malah ikut teriak.

“AAAAAAA!”

Akhirnya kami lari bareng.

😂

Pos terakhir?

Nggak selesai.

Kami menyerah secara berjamaah.

Yang tadinya aturan jurit adalah satu orang satu orang, tanpa pendamping, cuma dibekali satu lilin...

Kelompok gue akhirnya malah ditemani banyak orang.

Kami dibawa ke tempat yang terang.

Tempat yang nyaman.

Tempat yang banyak orang.

Dan di sana kami cuma duduk.

Diam.

Loading.

Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

Teman-teman gue mulai memperhatikan gue.

Mereka baru sadar kalau dari awal perjalanan gue berkali-kali bilang permisi kepada sesuatu yang ternyata mereka nggak lihat.

Mereka bertanya gue tadi melihat apa saja.

Gue jawab seadanya.

Nggak panjang.

Nggak dramatis.

Karena buat gue saat itu pun semuanya masih membingungkan.

Tapi ada satu hal yang akhirnya jelas malam itu:

ternyata bukan cuma gue yang melihat sesuatu.

Dan teman-teman gue akhirnya mengerti kenapa dari tadi gue selalu bilang,

“Permisi.”

Malam itu kami akhirnya cuma menunggu peserta lain.

Kelompok gue dispesialkan.

Nggak ada lagi sok berani.

Nggak ada lagi satu-satu.

Pokoknya malam itu kami harus tetap bareng-bareng.

Dan lucunya...

kami masih harus menunggu sampai sekitar jam empat pagi.

Karena itu baru malam pertama.

Juritnya belum selesai.

Malamnya masih panjang.

Dan waktu itu gue belum tahu...

bahwa semua yang terjadi malam pertama itu nantinya cuma akan menjadi satu bagian kecil dari cerita gue selama berada di sana.


Permisi, Pak??? Permisi, Pak??? Reviewed by okta's pages on 10:16:00 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.