Hari ini gue lewat sana lagi.
Nggak ada rencana.
Nggak ada niat nostalgia. Nggak ada keinginan buat mengingat apa pun.
Gue cuma mengambil jalan yang jarang gue lewati karena entah kenapa gue memilih jalan pintas yang bahkan hampir nggak pernah gue pakai.
Sampai kemudian gue melihat sebuah bangunan.
Dan gue langsung tahu.
Bukan karena ada tulisan nama tempatnya.
Bukan karena bentuknya berubah atau nggak berubah.
Tapi karena ada sesuatu di dalam diri gue yang seperti berhenti sebentar.
Oh.
Ini tempatnya.
Tempat yang sudah lebih dari sepuluh tahun gue tinggalkan.
Tempat yang gue kira sudah selesai.
Ternyata nggak.
Ada tempat-tempat yang memang cuma berupa bangunan.
Dan ada tempat yang menyimpan sesuatu.
Buat gue, tempat itu bukan cuma rumah singgah waktu KKN.
Tempat itu adalah salah satu bagian paling melelahkan dalam hidup gue.
Lucunya, waktu pertama kali datang ke sana, gue nggak tahu apa-apa.
Gue cuma anak kuliahan yang lagi KKN. Udah.
Capek.
Sibuk.
Ke sana kemari.
Ngurus kegiatan.
Ketemu masyarakat.
Kerja kalau ada acara.
Ngerjain laporan.
Tidur seadanya.
Ya gitu gitu lah senormalnya KKN.
Dan di posko itu gue tinggal bareng beberapa orang, termasuk seorang perempuan yang waktu itu gue anggap seperti adik gue sendiri.
Gue sayang sama dia.
Gue ajak ke mana-mana.
Kalau ada acara yang gue bawain, dia ikut.
Kalau gue pergi, dia ikut.
Kalau gue sibuk, dia ada.
Kalau gue capek, dia ada.
Setiap diri gue dia tahu, bahagia, sedih, hancur, kesalnya gue dia tahu.
Ya gimana,
Pokoknya dia selalu ada.
Dan mungkin justru karena itulah gue nggak pernah curiga.
Karena kalau seseorang selalu berada di sebelah lo, rasanya nggak mungkin orang itu sedang menjadi bagian dari sesuatu yang buruk di belakang lo.
Ternyata gue salah.
Tapi waktu itu gue belum tahu.
Waktu itu gue bahkan belum tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumah tersebut.
Yang gue tahu cuma satu:
gue ketakutan.
Stress.
Bukan takut biasa.
Gue mulai mengalami hal-hal yang sampai sekarang kalau gue ceritain pun rasanya masih absurd.
Gue sering melihat sesuatu.
Gue sering merasa ada yang memperhatikan.
Ada kejadian-kejadian yang nggak bisa gue jelaskan dengan cara biasa.
Dan yang paling bikin gue kacau adalah tubuh gue sendiri.
Gue sering tiba-tiba pingsan ketika sedang shalat atau membaca Al-Qur'an.
Aneh banget.
Dan itu terjadi setiap hari selama KKN, setiap sholat maghrib dan isya. Sampai sampai saat sholat maka gue akan dikelilingi banyak bantal dan selalu ada orang yang berjaga sampai gue bisa menyelesaikan shalat gue.
Setiap kali ada seseorang yang akan menyampaikan sesuatu hal penting kepada gue, telinga gue tiba-tiba terasa seperti tertutup. Budek.
Suara nya hilang. Menjauh. Tidak terdengar. Kabur.
Seolah gue berada di dalam ruangan kedap suara.
Lalu...
gelap.
Gue jatuh.
Pingsan.
Ktika sadar, bangun, orangnya sudah nggak ngomong lagi. Topiknya berganti.
Gue nggak tahu apa yang sebenarnya mau mereka sampaikan.
Awalnya gue kira gue cuma terlalu capek.
Tapi lama-lama kejadian-kejadian itu semakin banyak.
Gue melihat penampakan.
Setiap hari.
Setiap saat.
Awalnya sekilas, sekelibat dan berakhir sangat jelas
Gue takut sama mata boneka.
Bagi gue mereka hidup , bukan boneka.
Benda-benda tertentu bikin gue nggak nyaman tanpa tahu kenapa.
Hingga akhirnya Teman-teman gue juga mengalami hal-hal aneh. Bahkan sampai ada di waktu mereka kesurupan masal.
Gue sendiri nggak sampai kaya gitu, cuma pingsan dan bego.
Tapi gue melihat cukup banyak hal untuk membuat gue berpikir:
Ini rumah kenapa, sih?
Sampai suatu waktu gue melihat sesuatu yang sampai sekarang masih gue ingat.
Banaspati.
Bukan sekali.
Berkali kali dan nabrak gue mulu,
Berkali kali gue kepental.
Lalu akhirnya tidak sadarkan diri.
Gue juga ngeliat ada ular besar banget, ada harimau, pocong, sosok besar, kuntilanak dan banyak lagi yang gue ga tau identitasnya. Dan yang paling menyebalkan adalah sosok yang menyerupai orang lain. Membuat bingung dan salah, karena temen gue jadi ada lebih dari satu, kadang jadi dua kadang jadi tiga.
Banyak banget hal ga masuk nalar
Gue nggak tahu bagaimana gue harus menjelaskan apa yang gue lihat.
Gue cuma tahu, gue ngelihat mereka.
Dan anehnya, sesuatu itu nggak bisa masuk ke tubuh gue.
Mental.
Waktu itu gue juga belum mengerti kenapa.
Gue cuma merasa...
gue ditunjukkan banyak hal.
Banyak banget
Seolah ada sesuatu yang sengaja membuat gue melihat dan merasakan hal hal yang tidak semua orang bisa kek gitu
Tapi ,Belum selesai sampai situ.
Suatu hari gue menemukan paku-paku tua berkarat.
Dan batu-batu kecil bulat berwarna hitam.
Banyak.
Tepat di bawah tempat tidur gue.
Masalahnya, gue yakin benda-benda itu sebelumnya nggak ada di sana.
Gue nggak tahu siapa yang meletakkan.
Gue nggak tahu sejak kapan dan apa maksudnya jikapun memang itu sengaja perbuatan seseorang
Yang gue tahu cuma:
gue mulai benar-benar takut berada di rumah itu.
Akhirnya gue minta bantuan orang yang dianggap paham soal hal-hal seperti itu.
Bukan satu orang, tapi beberapa orang di tempat yang berbeda.
Sampai yang terakhir, gue minta tolong ke kyai setempat.
Dan kyai tersebut bersedia membantu.
Hari itu juga gue bersama lima orang lainnya berjalan cukup jauh menuju sebuah makam keramat di desa itu.
Masih siang.
Kami berjalan kaki.
Menyusuri jalan setapak.
Kami bertujuh.
Gue, lima orang lainnya, dan kyai.
Tempatnya cukup jauh dan dalam, butuh waktu yang lumayan untuk sampai di sana.
Hingga akhirnya kami sampai di tempat itu, lalu pa kyai meminta kami berdiri membentuk lingkaran berjarak.
Ya lingkaran , kami mengelilingi beberapa makam. Jarak kami lumayan jauh satu sama lain.
Gue nggak tahu kyai itu melakukan apa, mengucapkan apa.
Gue cuma mengikuti dan mengamati.
Hingga kemudian sesuatu terjadi.
Di tengah keheningan, tiba tiba saja whuuuuuush
Angin kencang datang.
Anjing-anjing menggonggong keras.
Entah mereka ada dimana.
Hanya suaranya yang saling bersahutan dan mendadak ramai sekali.
Di tengah kencangnya angin, kabut tebal turun dan hujan deras. Tanpa permisi, langsung deras sederasnya.
Aneh.
Karena hujan itu seperti hanya terjadi di tempat kami berdiri.
Seolah ada sesuatu yang sedang bereaksi.
Gue cuma berdiri di sana dengan kepala penuh pertanyaan.
Dan di antara orang-orang yang ikut bersama gue...
dia juga ada.
Perempuan yang gue anggap adik sendiri itu.
Dia ikut.
Dia selalu ikut.
Ke mana pun gue pergi, dia ada.
Bahkan ke temppat seperti itu pun dia ada di samping gue.
Suasana sangat mencekam, kejadian yang gue cuma liat di film, malah gue alamin sendiri.
Karena takut, gue sampai ga tau harus bereaksi kaya gimana, gue hanya fokus liatin kyai dan baca apapun yang gue bisa. Gue cuma bisa ngandelin diri sendiri, jangan sampai gue tumbang dan kalah oleh keadaan saat itu
Kemudian keadaan berangsur angsur membaik, berbarengan dengan kyai mengusapkan tangan ke wajahnya pertanda doa dan apalah itu selesai.
Kyai menatap kami satu persatu satu.
Dan mengatakan, tidak apa apa jangan takut, saya jamin semua akan kembali membaik.
Nanti jika sesuatu terbuka, Terima.
Aku tidak paham apa maksudnya. Mungkin yang lain pun sama.
Setelahnya kami pun pulang ke posko, namun keadaan bukannya membaik.
Malah semakin mencekam.
Malam tiba lampu rumah mulai berkedip-kedip.
Mati.
Nyala.
Mati.
Nyala.
Padahal keadaan di luar terang benderang, tidak ada pemadaman listrik.
Kami ganti lampu.
Dicek.
Diperbaiki.
Tetap saja.
Lampunya berkedip.
Dan mati total.
Lampu baru, mati.
Tidak ada cahaya.
Sampai kemudian, di rumah ini muncul cahaya hijau
Ya hijau, serumah itu di keliling cahaya hijau entah dari apa dan dari mana.
Sialnya di tengah suasana itu, penampakan justru semakin jelas dan mereka semakin banyak.
Pintu pintu terbuka dan tertutup sendiri bergantian, padahal tidak ada angin.
Mesin cuci menyala sendiri, sedangkan kabelnya terputus dan jelas listrik saja mati.
Keadaan tidak terkendali.
Chaos.
Kacau.
Beberapa temen gue menelpon kerabat mereka meminta bantuan, dan bantuan ghaib datang dari berbagai penjuru.
Kami ketakutan.
Keadaan sangat mencekam.
Bukan nya membaik malah semakin memburuk.
Udara sangat panas, mungkin karena benturan energi dan entahlah gue jga ga paham.
Kami akhirnya menyepakati untuk menemui kyai lagi guna meminta bantuan.
Kyai datang bersama rombongannya. Mereka melakukan yang bisa dilakukan, ajaibnya tidak butuh waktu lama keadaan berangsur membaik. Lampu kembali menyala , pintu berhenti membuka tutup dan mesin pun mati.
Kami semua diam, lelah. Tidak tau harus apa. Tidak saling berbicara, kami bergelut dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya semua tertidur karena kelelahan.
Dan saat gue tidur...
gue mulai bermimpi tentang dia.
Bukan dia seperti biasanya.
Dalam mimpi itu, dia muncul seperti kuntilanak.
Wujudnya sangat menyeramkan.
Tapi wajahnya...
wajah dia.
Waktu itu gue nggak ngerti.
Gue bangun dengan takut, tapi nggak pernah berpikir lebih jauh.
Karena di kepala gue cuma ada satu kesimpulan sederhana:
Rumah ini memang gila.
Gue kira gue yang sedang apes.
Gue kira gue yang sedang jadi sasaran.
Gue kira semua ini tentang rumah.
Ternyata bukan sesederhana itu.
Setelah KKN selesai, hidup gue nggak langsung kembali normal.
Beberapa kejadian tidak masuk akal masih menghantui gue, sampai tiba masa Gue masuk PKL.
Dan justru di sana semuanya semakin kacau.
Entah kenapa gue mulai sadar jika selama ini gue dijauhi.
Gue bahkan mengalami hal yang sampai sekarang kalau gue ingat masih terasa absurd.
Teman-teman sekelas gue hampir semuanya tinggal di satu tempat atau berdekatan.
Gue mencoba mencari teman untuk tinggal bersama.
Nggak ada.
Satu per satu nggak mau.
Bukan cuma satu orang.
Hampir semuanya.
Gue akhirnya menyewa tempat lain sendirian.
Dan gue nggak ngerti.
Gue cuma berpikir:
Gue salah apa?
Kenapa semua orang seperti punya masalah dengan gue?
Kenapa orang-orang melihat gue seperti gue ini orang yang aneh?
Gue sudah cukup sering sakit tiba-tiba
Pusing.
Bingung.
Pingsan.
Kadang tubuh gue seperti nggak bisa diajak kerja sama.
Sampai pernah gue merasa seperti nggak bisa berjalan.
Gue lumpuh di waktu waktu tertentu, terlalu banyak kebetulan memang
Tapi ketika diperiksa, kata mereka keadaan gue baik-baik saja.
Dan di saat yang sama gue masih mengalami hal-hal yang menurut gue nyata.
Gue melihat sesuatu.
Gue merasa diteror.
Gue merasa seperti ada yang terus mengejar.
Tapi orang-orang melihatnya berbeda.
Buat sebagian orang, gue mungkin cuma anak yang ketakutan.
Drama.
Paranoid.
Lebay.
Ada juga yang menganggap gue lemah.
Gue bahkan ngerasa reputasi gue jadi buruk karena semua kejadian itu.
Dan gue...
gue nggak bisa membela diri.
Karena gue sendiri nggak ngerti apa yang sedang terjadi.
Gue cuma tahu gue sedang menjalani sesuatu yang gue nggak mengerti.
Sementara orang yang paling sering ada di samping gue?
Masih dia.
Tetap dia.
Orang yang gue percaya.
Orang yang gue anggap keluarga.
Orang yang gue ajak ke mana-mana.
Dan saat itu gue masih belum tahu apa-apa.
Sampai akhirnya suatu hari salah seorang teman ngajak gue makan tanpa dia.
Waktu itu kami sedang berada di sela-sela kegiatan.
Dia bilang ke temen perempuan ada salah satu tugas yang perlu diselesaikan mendesak, dan kebetulan kita beda kelompok.
Gue ikut.
Kami pergi berdua.
Dan di situlah semuanya berubah.
Temen gue mulai cerita.
Tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Tentang bagaimana selama ini teman perempuan gue itu ternyata banyak melakukan hal-hal buruk di belakang gue.
Tentang bagaimana dia memainkan keadaan.
Tentang cerita-cerita yang dibuat.
Tentang bagaimana orang-orang akhirnya melihat gue berdasarkan cerita yang dia bangun.
Gue cuma diam.
Duduk.
Dengerin.
Satu per satu.
Dan semakin lama gue dengar, semakin banyak kejadian yang tiba-tiba seperti menemukan tempatnya.
Oh.
Pantes.
Oh...
Jadi selama ini begitu.
Tapi bagian paling mengerikan bukan cuma soal apa yang dia lakukan.
Gue kemudian tahu bahwa sejak muda dia memang pernah belajar hal-hal yang berkaitan dengan ilmu hitam.
Dan menurut pemahaman yang gue dapat waktu itu, gue memang menjadi targetnya.
Alasannya?
Cemburu.
Karena ada seorang laki-laki yang dia suka.
Laki-laki yang justru hanya sebagai teman buat gue, kita nggak pacaran.
Nggak ada hubungan romantis.
Benar benar hanya teman.
Tapi entah kenapa, setiap kali ada laki-laki yang dekat dengan gue, dia seperti selalu berhasil mengambilnya.
Dulu gue nggak pernah berpikir macam-macam.
Gue pikir kebetulan.
Sekarang kalau gue tarik semuanya ke belakang...
kok banyak banget kebetulannya.
Dan tiba-tiba gue teringat semua peringatan yang pernah gue dapat.
Ada beberapa teman laki-laki yang pernah bilang kepada gue:
“Jangan deket-deket sama teman lu.”
Ada yang bahkan bilang:
“Kalau lu butuh gue, gue bantu.”
"Ada yang mau gue omongin,... " Dan menggantung tidak pernah usai.
Gue nggak ngerti.
Gue nggak nangkep maksudnya.
Karena dia selalu ada di sebelah gue.
Mereka mau ngomong apa?
Mau ngomong kapan?
Gue juga nggak tahu.
Bahkan ketika gue pergi ke beberapa orang yang gue mintai bantuan, gue pernah melihat sendiri bagaimana orang yang hendak bicara justru berkali-kali melihat ke arah dia.
Waktu itu gue tetap nggak ngerti.
Sekarang baru terasa seperti potongan puzzle yang terlambat gue temukan.
Sesak , sangat sesak.
Gue ga bisa menahan nya lagi, gue harus buktiin.
Dan kemudian...
dia mengakui.
Ya, setelah percakapan super singkat tanpa ada keraguan sedikitpun Dia mengakui apa yang dia lakukan ke gue selama ini.
Gue kira setelah semua yang gue dengar, setelah semua yang gue alami, setidaknya akan ada rasa bersalah.
Penyesalan.
Entah apa.
Tapi jawabannya justru:
“Yaudah sih, lu emang udah tahu kan dan semuanya bener, karena lu nyebelin,lebay lu ngambil sesuatu yang bukan buat lu, ga usah lebay deh lu ga usah drama.”
Gue masih ingat rasanya.
Bukan marah dulu.
Bukan langsung benci.
Tapi seperti...
hancur.
Karena yang gue dengar bukan cuma pengakuan bahwa seseorang sudah menyakiti gue.
Gue mendengar pengakuan dari orang yang selama ini gue lindungi.
Orang yang gue ajak ke mana-mana.
Orang yang gue perlakukan seperti adik.
Orang yang gue percaya.
Dan tiba-tiba gue harus menerima kenyataan bahwa mungkin selama ini gue sedang menggandeng tangan orang yang justru sedang menjatuhkan gue.
Sakitnya beda.
Kalau pacar yang mengkhianati, mungkin orang bisa bilang:
“Ya, namanya hubungan.”
Tapi ini bukan pacar.
Bukan orang yang gue cintai secara romantis.
Ini orang yang gue sayangi seperti keluarga.
Makanya sakitnya nggak punya nama yang gampang dijelaskan.
Besoknya gue sebenarnya punya pekerjaan buat bawain acara penting dikampus
Tapi gue nggak sanggup.
Gue kasih pekerjaan itu ke orang lain.
gue nangis.
Nangis yang benar-benar nangis.
Karena selama ini gue sudah terlalu capek.
Capek takut.
Capek sakit.
Capek dianggap aneh.
Capek dijauhi.
Capek nggak ngerti kenapa orang-orang membenci gue.
Capek mencoba bertahan di tengah sesuatu yang bahkan gue sendiri nggak bisa jelaskan.
Dan ketika akhirnya gue tahu...
jawabannya ternyata justru datang dari orang yang selama ini paling dekat.
Di masa itu, dengan bantuan seorang teman laki-laki, gue juga akhirnya mendapatkan bantuan untuk menghadapi semua hal yang menurut gue dikirimkan kepada gue.
Apa pun yang terjadi di belakang layar, satu hal yang jelas bagi gue:
gue akhirnya punya seseorang yang memberi tahu gue apa yang sebenarnya sedang berlangsung.
Dan perlahan keadaan berubah.
Teman-teman gue datang.
Bahkan ada yang datang berkelompok.
Mereka minta maaf.
Mereka bilang mereka sendiri nggak ngerti kenapa selama ini bisa begitu membenci gue.
Mereka bilang mereka cuma tahu mereka merasa sangat nggak suka sama gue.
Belakangan gue tahu mereka mendapat cerita-cerita tentang gue.
Cerita yang nggak sesuai dengan kenyataan yang gue alami.
Bahkan beberapa merasa takut, takut jika akan mengalami seperti apa yang gue alami saat itu.
Dan gue?
Gue cuma bisa diam.
Mau jawab apa?
Gue bahkan baru tahu semuanya.
Gue terlalu sibuk bertahan hidup di tengah kekacauan yang gue sendiri nggak pahami.
Setelah itu gue memutuskan satu hal.
Gue selesai.
Bukan dengan drama.
Bukan dengan perang.
Bukan dengan membalas.
Gue cuma pergi.
Hubungan itu gue putus.
Sampai sekarang.
Lucunya, kami masih sering bertemu.
Nomor masih ada.
Kontak masih ada.
Dunia tetap berjalan.
Nggak ada perang.
Nggak ada saling teriak.
Nggak ada adegan saling menjambak seperti sinetron.
Gue cuma...
nggak mau berurusan lagi.
Selesai.
Ada pintu yang memang nggak perlu dibanting.
Cukup ditutup.
Dan jangan pernah dibuka lagi.
Hari ini, setelah bertahun-tahun, gue tiba-tiba melewati tempat itu.
Tempat yang menjadi awal dari begitu banyak hal.
Gue melihat bangunannya.
Dan mendadak semua ingatan itu seperti tumpah begitu saja.
Rumah itu.
Lampu yang berkedip.
Makam.
Angin.
Hujan.
Paku berkarat.
Batu-batu hitam di bawah tempat tidur.
Penampakan.
Mimpi.
Pingsan.
Orang-orang yang menjauh.
Teman-teman yang memperingatkan.
Seorang teman laki-laki yang akhirnya membawa gue keluar dari kebingungan itu.
Dan dia.
Perempuan yang dulu gue anggep adik.
Tiba-tiba gue merasa capek.
Bukan capek hari ini.
Capek yang sudah berumur sepuluh tahun.
Gue jadi ingat bagaimana bodohnya gue waktu itu.
Hah Heh Hoh nya
Ke mana-mana nggak ngerti apa-apa.
Ada orang kasih kode, gue nggak paham.
Ada orang memperingatkan, gue abaikan.
Ada sesuatu yang terjadi, gue pikir gue cuma apes.
Gue kira semua yang gue alami adalah tentang tempat itu.
Tentang rumah itu.
Tentang hal-hal yang nggak bisa gue mengerti.
Padahal di antara semua kengerian itu, ada satu hal yang ternyata jauh lebih sederhana dan jauh lebih manusiawi:
gue mempercayai orang yang salah.
Dan mungkin itu yang paling menyakitkan.
Karena kalau hantu menakut-nakuti lo, lo tahu harus takut kepada apa.
Kalau rumah gelap dan ada sesuatu muncul di ujung lorong, lo bisa lari.
Kalau lampu berkedip tengah malam, lo bisa menyalakan lampu lain.
Tapi kalau orang yang selama ini lo gandeng tangannya ternyata menyimpan sesuatu di belakang lo...
lo nggak akan lari.
Karena lo bahkan nggak tahu bahwa lo sedang berdiri di sebelah bahaya.
Dan gue baru tahu bertahun-tahun kemudian.
Setelah semuanya terlanjur terjadi.
Setelah gue terlanjur sakit.
Setelah gue terlanjur kehilangan banyak hal.
Setelah gue terlanjur mempertanyakan diri sendiri berkali-kali:
Apa gue memang separah itu?
Apa gue memang menyebalkan?
Apa gue memang drama?
Apa gue memang gila?
Ternyata tidak sesederhana itu.
Gue waktu itu cuma nggak tahu.
Gue masih muda.
Gue percaya.
Gue sayang.
Dan gue nggak pernah menyangka bahwa orang yang selalu berada di samping gue ternyata punya alasan sendiri untuk selalu berada di sana.
Hari ini gue cuma bisa melihat tempat itu dari jauh.
Nggak masuk.
Nggak mendekat.
Cuma lewat.
Dan gue sadar satu hal:
ternyata ada beberapa tempat yang bisa kita tinggalkan, tapi ceritanya nggak pernah benar-benar meninggalkan kita.
Gue masih ingat.
Masih bisa merinding.
Masih bisa kesal.
Masih bisa sedih.
Masih bisa bertanya-tanya kenapa dulu gue harus melewati semua itu dengan cara seperti itu.
Tapi setidaknya sekarang gue sudah tahu sesuatu yang dulu nggak gue tahu:
Gue bukan bodoh karena percaya.
Gue cuma belum tahu siapa yang pantas dipercaya.
Dan mungkin...
itu adalah pelajaran paling mahal dari seluruh cerita ini.
Bukan tentang hantu.
Bukan tentang rumah tua.
Bukan tentang makam keramat.
Bukan tentang apa yang pernah mengejar gue di malam hari.
Tapi tentang manusia.
Tentang kepercayaan.
Tentang bagaimana seseorang bisa berdiri begitu dekat dengan lo sampai lo nggak pernah berpikir untuk mencurigainya.
Dan tentang satu keputusan yang sampai hari ini masih gue pegang:
gue nggak perlu membenci lo seumur hidup.
Gue cuma nggak akan pernah membuka pintu itu lagi.
Karena gue sudah terlalu capek menjadi gue yang dulu.
Yang ketakutan.
Yang bingung.
Yang terus bertanya-tanya kenapa semua orang membenci gue
Yang nggak ngerti kenapa tubuh gue terus jatuh.
Yang nggak ngerti kenapa rumah itu seperti nggak pernah ngebiarin gue tenang.
Yang nggak ngerti kenapa orang-orang terus ngasih peringatan
Sampai akhirnya semuanya terbuka.
Dan hari ini, ketika gue kembali melihat tempat itu setelah sepuluh tahun...
gue cuma bisa ketawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tapi karena kalau gue ingat semuanya...
gila juga gue masih hidup.
Masih di sini.
Masih bisa lewat.
Masih bisa mengingat.
Masih bisa cerita.
Walaupun jujur...
kadang gue sendiri masih mikir,
“Gue waktu itu sebenarnya kuat banget, ya?”
Padahal waktu itu gue cuma menjalani semuanya sambil hah-hoh.
Nggak ngerti apa-apa.
Nggak tahu siapa yang harus dipercaya.
Nggak tahu apa yang sedang terjadi.
Dan tetap jalan.
Entah bagaimana caranya.
Tapi gue tetap jalan.
Dan mungkin memang begitu cara gue bertahan hidup sejak dulu:
ngomel boleh, takut boleh, nangis boleh, bingung boleh.
Tetap jalanin.
Biar Allah yang tahu seluruh ceritanya.
No comments:
Post a Comment