WOOY, BES ?!

Gue pernah lagi punya partner in crime, yang kalau dipikir-pikir, kami berdua ini antara pemberani, kurang piknik, atau memang otaknya loading  kalau lagi bareng. 

Namanya juga persahabatan. Kadang saling menguatkan, kadang saling menyelamatkan, kadang malah saling mengajak melakukan kebodohan yang kalau diulang sekarang, mungkin kami berdua bakal duduk diam sambil bertanya: 

Dulu kita waras nggak, sih? Tapi ya begitulah. 

Saat itu gue dan dia pernah punya masa ketika hampir semua hal dilakukan bersama. 
Mau jajan, hayuk. 
Mau pergi, hayuk. 
Mau nginep, hayuk. 
Ada masalah, cerita. 
Ada yang sakit, usahakan. 
Ada yang sedang hancur, temani. 

Uang boleh pas-pasan, hidup boleh berantakan, tapi kalau urusan menghabiskan waktu bersama, kami punya bakat luar biasa. Kami bisa jajan berdua dengan porsi yang sepertinya disiapkan untuk lima orang. Nggak tahu itu karena lapar, rakus, atau memang merasa hidup sudah terlalu berat untuk dijalani dengan porsi normal. Yang jelas, kalau sudah bersama dia, urusan makan bukan lagi soal kenyang. Itu bagian dari kegiatan sosial. 

Dan kalau ada orang bertanya kenapa kami bisa sedekat itu, jujur gue juga nggak tahu. Tahu-tahu dekat. Tahu-tahu saling sayang. Tahu-tahu sudah seperti saudara sendiri. Tahu-tahu juga sudah saling merepotkan. Begitulah persahabatan kami. Nggak ada formulir pendaftaran, nggak ada masa percobaan, tahu-tahu sudah terikat kontrak batin tanpa tanda tangan dan tanpa kemungkinan pengembalian dana. 
 --- 

Kami melewati banyak hal ketika usia kami masih muda. Usia ketika seharusnya kami punya orang yang lebih dewasa untuk membimbing, membantu kami memilah mana yang baik, mana yang nggak, dan mana yang sebaiknya dihindari sejauh mungkin. Sayangnya, perjalanan kami nggak selalu bertemu orang yang tepat. Kami pernah mengikuti bimbingan spiritual yang sekarang kalau diingat-ingat bikin gue ingin menepuk jidat sendiri. Bukan sekali dua kali. Kami bahkan pernah gonta-ganti pendamping spiritual, mencoba memahami banyak hal yang waktu itu terasa rumit dalam kehidupan kami. Sampai akhirnya, entah siapa yang lebih dulu sadar, kami seperti sepakat bahwa hidup normal sepertinya pilihan yang cukup menarik. Sebab, terus terang saja, kami ini punya daya tahan yang aneh. Diberi siraman rohani, mental kami malah waterproof. Dinasihati macam-macam, besoknya masih saja punya pertanyaan baru. Bukan berarti kami nggak pernah serius. Waktu itu kami sungguh-sungguh mencari pegangan. Hanya saja, kalau sekarang dikenang, banyak kejadian yang rasanya campur aduk antara kasihan kepada diri sendiri dan ingin tertawa sampai sakit perut. Salah satunya adalah ketika kami pergi ke sebuah pemandian di patilasan ********** 

 Entah bagaimana ceritanya, kami menurut saja. Berangkat dengan keyakinan yang waktu itu mungkin lebih besar daripada persiapan kami. 

 Ya, niat kami wisata sih dan karena niat yang salah juga kami mendapat hasil yang salah. Masalahnya, kami mandi tanpa membawa baju ganti. Iya. 

 BAJU GANTI. 

 Nggak bawa salinan, nggak bawa persiapan yang layak, pokoknya berangkat saja seperti orang yang yakin semua masalah hidup bisa selesai tanpa perlu memikirkan pakaian kering. 

 Setelah selesai, baru sadar bahwa rumah masih berjarak sekitar tiga jam perjalanan. 

 Tiga jam, Saudara-Saudara. 
 Naik motor. 
 Berdua. 
 Dalam keadaan basah kuyup. 
 Sore hari 

 Gue nggak tahu bagaimana menggambarkan kebodohan itu dengan bahasa yang cukup sopan untuk dibaca orang banyak. Bayangkan dua perempuan naik motor dalam keadaan basah, diterpa angin sepanjang jalan, melewati perjalanan panjang, sampai akhirnya baju mereka mengering sendiri sebelum tiba di rumah. Kalau ada yang bertanya apa pelajaran hidup yang kami dapat hari itu, jawabannya sederhana: Kalau mau pergi ke mana-mana, bawa baju ganti, anjir. Persiapan itu penting buset, luruskan niat. jangan bego. 

 Kadang hidup nggak butuh filsafat yang rumit. Kadang kita cuma butuh tas berisi pakaian kering.

 --- 

 Tapi, dari sekian banyak kejadian aneh, ada satu pengalaman yang sampai sekarang masih bisa gue ingat dengan jelas. Kejadian yang seharusnya membuat kami ketakutan. Seharusnya. Waktu itu kami bertiga. Gue duduk di sebelah kiri. Si betina, partner gue itu, di sebelah kanan. Teman kami yang satu lagi berada di tengah. Lalu teman kami yang di tengah mengalami kesurupan. Suasana berubah. Teman kami itu kesulitan, dan keadaan menjadi serius. Gue ingat tubuh gue terasa panas sekali. Bukan panas yang bisa gue jelaskan penyebabnya, tetapi sensasi yang waktu itu benar-benar gue rasakan. Sementara itu, menurut apa yang kami alami saat kejadian tersebut, sesuatu di tengah ini mencoba masuk ke salah satu di antara gue dan si betina, bergantian dan maksa. Tapi gue rasa nggak berhasil. Di sebelah kanan, si betina juga nggak mengalami hal yang sama seperti teman kami di tengah. Dia malah ketawa ketawa dan nantangin, kita bertiga pegangan tangan, dan fokus liat ke temen yang di tengah. Kami berdua jelas menolak. Kami nggak mau tubuh kami dijadikan tempat untuk sesuatu yang nggak kami pahami. Dan bagian paling absurd dari kejadian itu adalah... Kami malah ketawa. Ketawa ngakak. Ya ketawa, ya terus gimana kita ga tau mesti gimana, sedangkan temen kami udah kepayahan, ngomongnya ngaco suaranya beda rupanya mulai berubah energinya panas dan marah ,itu nyata sekali. 

 ANJIR. TEMAN DI TENGAH LAGI KESUSAHAN, KAMI BERDUA MALAH KETAWA. 

 Bukan karena kami nggak peduli sama dia. Bukan juga karena kami sengaja meremehkan keadaan. Tapi entah bagaimana, di tengah situasi yang tegang dan menakutkan itu, kami berdua malah seperti kehilangan kemampuan untuk bereaksi secara normal. Menurut kami saat itu, sesuatu tersebut seperti kesal karena kami nggak merespons sebagaimana yang mungkin kami bayangkan. Tentu saja, kami nggak bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi atau menjelaskan penyebabnya. Yang gue tahu, gue merasa sangat panas, teman kami di tengah mengalami kejadian yang berat, dan gue serta si betina tetap sadar bahwa kami nggak ingin mengalami hal serupa. Kalau dipikir sekarang, kejadian itu memang horor. Tapi kalau mengingat ekspresi kami berdua? Gue ingin bertanya kepada diri sendiri: 

 KENAPA JUGA KALIAN MALAH KETAWA, WOY?!

 Teman kami yang di tengah kasihan sekali. Dia yang repot, dia yang mengalami kesulitan, sementara dua orang di kiri dan kanan seperti petugas keamanan yang menolak tamu tanpa reservasi. Maaf, ya, best.. Waktu itu kami juga nggak tahu kenapa bisa begitu. Yang jelas, kami nggak mau tubuh kami diisi sesuatu yang nggak kami kehendaki. Kami menolak, dan pengalaman itu berlalu tanpa kejadian serupa pada kami. Horor, iya. Aneh, jelas. Tapi kalau sekarang gue ceritakan lagi kepada si betina, gue yakin salah satu dari kami akan tertawa duluan sebelum ceritanya selesai. Begitulah kami. Bahkan kenangan horor pun bisa berubah menjadi bahan tertawaan. 
 --- 

 Di balik semua kebodohan itu, ada hal-hal yang nggak lucu sama sekali. Dia pernah sakit keras. Dan gue berusaha membantu semampu gue. Ketika gue menghadapi masalah, dia juga pernah ada di sana. Kami saling membela, saling menguatkan, bahkan ketika kami sendiri belum tentu tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Kami pernah bertengkar hebat. Karena kesalahpahaman, kecemburuan, ketidakpastian, dan berbagai hal yang mungkin terasa begitu besar ketika kami masih muda. Pernah saling marah. Pernah saling mempertanyakan. Pernah ada masa ketika hubungan kami nggak baik-baik saja. Tapi kami juga pernah saling menyayangi dengan cara yang mungkin nggak bisa dipahami orang lain. Gue pernah mengurus banyak hal untuknya. Gue ikut ketika dia pindah kuliah, menemani dari urusan pendaftaran sampai berbagai keperluan lainnya. Bahkan ketika dia harus pindah ke kontrakan baru yang jauh, gue tetap ikut membantu. Padahal kami sama-sama kere. KERE, WOY. Bukan kere yang masih punya anggaran khusus untuk keadaan darurat. Kami ini tipe yang mungkin harus memikirkan pengeluaran, tetapi entah bagaimana masih bisa menemukan cara untuk melakukan banyak hal bersama. Kalau sekarang gue mengingatnya, rasanya ingin tertawa sekaligus terharu. Dulu, uang bukan satu-satunya hal yang kami pikirkan. Kami punya urusan masing-masing, masalah masing-masing, dan kehidupan yang sedang berusaha kami pahami. Tapi kami tetap berusaha hadir. Kami nggak selalu benar. Kami nggak selalu tahu apa yang harus dilakukan. Namun, setidaknya, saat itu kami mencoba. Dan buat gue, itu berarti. --- Lalu waktu berjalan. Kami tumbuh dewasa. Menikah. Punya anak. Dia sekarang punya dua anak, sama seperti gue. Sepasang juga. Lucu, ya? Dulu kami berdua bisa menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang kalau diceritakan sekarang terdengar seperti kumpulan episode sitkom horor beranggaran rendah. Sekarang kami punya keluarga masing-masing, tanggung jawab yang semakin banyak, dan kehidupan yang nggak bisa lagi dijalani dengan cara yang sama. Mungkin memang begitu. Mungkin setelah menikah, prioritas berubah. Waktu terbagi. Ada banyak hal yang harus dipikirkan sebelum memutuskan untuk pergi atau sekadar duduk lama bersama teman. Gue bisa memahami itu. Tapi memahami kenapa hidup berubah ternyata nggak otomatis membuat gue berhenti kangen. Karena suatu hari, tanpa ada pertengkaran besar yang gue ingat sebagai akhir dari semuanya, kami menjadi dua orang yang nggak lagi saling mengetahui kehidupan masing-masing. Dia masih punya teman-teman. Masih bisa pergi, tertawa, dan membuat kenangan baru. Gue melihatnya dari jauh. Dan gue bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Apa gue pernah melakukan kesalahan yang nggak gue sadari? Apa ada sesuatu yang menyakitinya, sesuatu yang membuatnya lelah, sesuatu yang membuat dia memilih menjauh? Gue nggak tahu. Dia juga nggak pernah menjelaskan. Jadi, pada akhirnya, gue hanya bisa menerima bahwa kedekatan kami berubah. Kalau kebetulan bertemu di jalan, kami masih bisa saling menyapa. "WOOOY!" "HEEEEY!" Lalu selesai. Nggak ada cerita panjang. Nggak ada sesi curhat sampai lupa waktu. Nggak ada lagi dua orang yang tiba-tiba memutuskan pergi entah ke mana dan pulang membawa cerita yang cuma mereka berdua yang mengerti. Sekarang, kami punya dunia sendiri-sendiri. Dan gue nggak tahu apakah suatu hari kami akan kembali menemukan jalan menuju dunia yang dulu pernah kami bagi bersama. --- Jujur, gue kangen. Kangen banget, malah. Gue kangen partner gue. Gue kangen perempuan yang pernah menemani gue melewati begitu banyak hal. Perempuan yang pernah gue bela, yang pernah membela gue, yang pernah gue omeli, yang pernah mengomeli gue, dan yang pernah menjadi garda terdepan ketika hidup sedang terasa berat. Gue kangen masa ketika kami bisa tertawa tanpa harus menjelaskan kenapa sesuatu itu lucu. Kangen masa ketika satu cerita bisa berkembang menjadi obrolan panjang, lalu berakhir dengan rencana melakukan hal lain yang mungkin sama nggak masuk akalnya. Gue kangen punya seseorang yang sudah memahami banyak bagian hidup gue tanpa perlu membaca penjelasan dari awal. Tapi gue nggak sedang menuntut dia kembali. Gue nggak berharap dia melakukan hal yang sama seperti yang pernah gue lakukan untuknya. Gue juga nggak sedang menghitung siapa yang lebih banyak hadir atau siapa yang lebih berjasa. Gue hanya kehilangan partner. Partner terbaik yang pernah gue punya. Dan kadang, kehilangan seperti itu nggak membutuhkan pertengkaran besar untuk terasa menyakitkan. Cukup dengan menyadari bahwa orang yang dulu tahu hampir semua cerita kita, sekarang bahkan nggak tahu apa yang sedang kita jalani. --- Kalau suatu hari gue bisa duduk berhadapan lagi dengannya, mungkin gue nggak akan memulai dengan pertanyaan kenapa dia menjauh. Mungkin gue cuma akan menatapnya, lalu berkata: "Heh, betina. Apa kabar lu? Sehat?" Terus gue akan mulai mengomel. "Kemane aje? Gue liat-liat hidup lu banyak tipunya. Kenape lu? Masih dalam drama yang sama? Kan udah gue bilangin. Ah elah, bandel lu, kaga denger." Mungkin dia akan tertawa. Mungkin gue juga akan tertawa. Mungkin kami akan kembali membicarakan masa lalu, tentang semua hal yang pernah kami lakukan, tentang perjalanan tiga jam dengan baju basah, tentang porsi jajan berlima yang dihabiskan berdua, tentang pengalaman horor yang sampai sekarang masih terasa absurd. Mungkin kami akan saling mengingatkan betapa bodohnya kami dahulu. Dan mungkin, di sela-sela tawa itu, akan ada sedikit kesedihan ketika kami menyadari bahwa waktu telah membawa kami begitu jauh dari masa itu. Tapi nggak apa-apa. Gue tetap ingin dia bahagia. Gue tahu dia perempuan yang kuat, hebat, dan mandiri. Gue tahu dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Gue senang melihat dia senang. Gue ingin dia sehat, ingin anak-anaknya tumbuh dengan baik, dan ingin kehidupannya berjalan dengan lebih ringan daripada masa-masa yang pernah kami lewati dahulu. Meskipun sekarang gue nggak lagi menjadi orang yang paling dekat dengannya, gue tetap bisa mendoakan hal-hal baik untuknya. Karena rasa sayang nggak selalu harus berakhir dengan memiliki tempat yang sama dalam kehidupan seseorang. Kadang, rasa sayang hanya berubah bentuk. Dari menemani langsung menjadi mendoakan dari jauh. Dari mengetahui setiap cerita menjadi cukup berharap bahwa dia baik-baik saja. Dari bertemu hampir setiap waktu menjadi saling menyapa ketika kebetulan berpapasan. Dan dari partner in crime menjadi bagian dari kenangan yang nggak ingin gue hapus. --- Jadi, untuk lu, betina... Apa kabar? Sehat-sehat, ya. Gue nggak tahu kapan kita akan ketemu lagi dan punya waktu untuk duduk lama seperti dahulu. Gue nggak tahu apakah suatu hari kita akan kembali dekat, atau memang kehidupan sudah menempatkan kita di jalan masing-masing. Tapi kalau suatu hari kita bertemu lagi, gue harap kita masih bisa tertawa. Masih bisa mengingat semua kegilaan itu tanpa harus merasa asing satu sama lain. Masih bisa bercerita, meskipun mungkin sudah banyak hal yang terlewatkan. Dan kalau ternyata kita nggak pernah kembali sedekat dulu, gue tetap bersyukur pernah punya lu. Kita pernah melewati banyak hal. Kita pernah sama-sama kere, sama-sama bingung, sama-sama salah jalan, sama-sama mencari pegangan, sama-sama menghadapi ketakutan, dan sama-sama bertahan ketika hidup sedang nggak mudah. Kita pernah menjadi tempat pulang satu sama lain, meskipun hanya untuk satu bagian dari perjalanan hidup kita. Gue nggak akan berpura-pura bahwa gue nggak kangen. Karena gue kangen. Gue kangen partner gue. Gue kangen semua cerita yang pernah kita punya. Tapi gue juga tahu, hidup nggak selalu memberikan kesempatan untuk mengulang semuanya. Jadi, untuk sekarang, gue cuma ingin bilang: Happy terus, ya, betina. Sehat-sehat lu. Gue seneng liat lu seneng. Dan kalau suatu hari kita duduk bareng lagi, jangan lupa bawa duit masing-masing. Gue nggak mau jajan berlima pakai anggaran berdua lagi. Satu lagi, kalau ada yang ngajak mandi di patilasan, pastikan baju gantinya masuk tas. Kita sudah cukup bodoh untuk satu kehidupan. HAHAHAHAHA. Sampai ketemu lagi, partner. Entah kapan. Entah di mana. Tapi kalau memang suatu hari kita dipertemukan lagi, semoga kita masih bisa saling mengenali. Karena dari sekian banyak orang yang pernah datang dan pergi dalam hidup gue, lu pernah menjadi salah satu orang yang paling seru untuk diajak menjalani semuanya. Dan itu akan selalu jadi bagian dari cerita gue.
— Okta’s Pages 
 Little stories I chose to keep.
WOOY, BES ?! WOOY, BES ?! Reviewed by okta's pages on 10:10:00 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.