Gue punya seorang teman yang dulu manggil gue Teteh.
Lama-lama berubah jadi Emak.
Padahal umur kami cuma beda beberapa tahun. Nggak tahu siapa yang pertama kali mencetuskan panggilan itu, tahu-tahu jabatan gue sudah naik jadi orang tua tunggal dalam sebuah geng pertemanan. Tanpa SK, tanpa gaji, tanpa tunjangan hari tua.
Kami berlima. Temenan dari zaman masih ingusan, zaman hidup belum serumit sekarang, ketika masalah terbesar mungkin cuma perkara gebetan nggak balas pesan atau uang jajan habis sebelum waktunya.
Kami tumbuh bareng. Melewati berbagai fase kehidupan, dari belalang sembah sampai berubah jadi gajah. Setidaknya begitu menurut gue.
Dan selama perjalanan itu, ada satu orang yang lumayan sering bikin kepala gue berasap.
Dia.
Kalau punya masalah, cerita ke gue.
Kalau bingung, tanya gue.
Kalau sedang jatuh cinta sampai kehilangan akal sehat, gue juga yang kena imbasnya.
Pokoknya, kalau hidupnya sedang berantakan, gue ikut pusing. Dia punya masalah, gue ikut emosi. Kadang malah gue yang lebih berapi-api daripada orang yang sedang mengalami masalahnya sendiri.
Kenapa?
Ya karena gue sayang, anjir.
Gue peduli.
Sesederhana itu.
Sampai suatu ketika, dia pernah cerita tentang seorang laki-laki yang hubungannya dengan dia nggak mendapat restu. Ada banyak hal yang bikin gue keberatan. Salah satunya, gue merasa hidup dia sendiri belum tentu mudah, kenapa malah mau ikut menanggung beban hidup orang lain?
Gue marah-marah, tentu saja.
Bukan karena gue paling tahu soal cinta. Gue cuma berpikir, kenapa dia harus bersusah payah mengurus orang lain, sementara gue juga ingin melihat dia diurus dengan baik?
Gue pengin dia bahagia.
Pengin ada orang yang memikirkan dia, menjaganya, dan membuat hidupnya terasa lebih ringan.
Tapi ya, namanya juga orang jatuh cinta.
Kadang nasihat orang cuma numpang lewat di telinga. Apalagi nasihat dari Emak yang kalau ngomel bisa panjangnya mengalahkan ceramah tujuh menit sebelum azan.
Setelah itu, hidup berjalan seperti biasa.
Atau setidaknya, begitu yang gue kira.
Entah sejak kapan, dia mulai menjauh.
Awalnya gue nggak terlalu memikirkannya. Orang punya kesibukan masing-masing. Kami juga bukan anak kecil lagi yang harus selalu bersama ke mana-mana.
Sampai suatu hari, kami bertemu di pasar.
Gue melihat dia. Dia juga melihat gue, atau setidaknya gue merasa begitu.
Tapi bukannya menyapa, dia malah mempercepat motornya.
Lah?
Gue bengong sebentar.
Mungkin buru-buru, pikir gue.
Beberapa waktu kemudian, kami bertemu lagi. Kejadiannya kurang lebih sama.
Kali ini gue yang mendekat, menyapa, menanyakan kabarnya, sedang apa, dan basa-basi sewajarnya seperti orang yang sudah lama kenal.
Nggak ada yang gue tanyakan macam-macam. Nggak ada interogasi. Nggak ada pertanyaan jebakan.
Cuma menyapa teman lama.
Tapi setelah itu, hubungan kami tetap seperti ada tembok yang nggak kelihatan.
Gue mulai bertanya-tanya.
Gue salah apa?
Pernah ngomong sesuatu yang menyakitkan?
Pernah bikin dia tersinggung?
Atau jangan-jangan, selama ini dia memang sudah muak sama gue dan gue saja yang nggak sadar?
Entahlah.
Yang jelas, gue bahkan nggak tahu cerita lengkap hidupnya belakangan itu.
Sampai suatu hari, gue mendapat kabar dari orang lain bahwa dia sudah menikah.
Diam-diam.
Tanpa kabar.
Tanpa cerita.
Dan sekarang dia sudah punya anak perempuan.
Gue membaca kabar itu dengan perasaan yang campur aduk. Kaget, tentu saja. Tapi bukan karena dia menikah. Bukan pula karena dia sudah menjadi seorang ibu.
Gue justru senang.
Sungguh.
Gue senang mendengar bahwa hidupnya ternyata menemukan jalan yang lebih baik. Bahwa laki-laki yang dulu sempat gue ragukan ternyata bisa mendampinginya. Bahwa keluarganya menerima dia dengan baik. Bahwa sekarang ada keluarga kecil yang menjadi tempatnya pulang.
Alhamdulillah.
Gue ikut bersyukur.
Karena bukankah itu yang dulu gue inginkan buat dia?
Gue ingin dia bahagia. Gue ingin dia disayang. Gue ingin hidupnya nggak selalu terasa seperti perjuangan yang harus dia tanggung sendirian.
Dan sekarang, ketika mendengar kabar bahwa dia sudah memiliki semua itu, gue nggak merasa kalah, nggak merasa iri, apalagi berharap hidupnya berantakan.
Gue justru lega.
Cuma satu hal yang bikin gue ingin menjitak jidatnya.
KENAPA GUE DI-CUT OFF, SETAN?!
HAHAHAHAHA!
Serius, gue bingung.
Dulu, segala macam urusan dia ceritakan ke gue. Bahkan ketika dia punya masalah dengan keluarganya, gue ikut pasang badan. Gue ikut mikir, ikut pusing, ikut emosi. Gue ini sudah seperti tim advokasi pribadi yang bekerja tanpa honor.
Sekarang, ada cerita sebesar itu dalam hidupnya, gue malah jadi orang yang paling nggak tahu apa-apa.
Gue nggak tahu bagaimana kisah cintanya berkembang. Nggak tahu bagaimana mereka akhirnya menikah. Nggak tahu bagaimana perasaannya saat menjadi seorang ibu.
Gue cuma tahu kabarnya dari orang lain.
Padahal gue juga nggak akan menghakimi dia.
Hidupnya ya hidupnya. Pilihannya ya pilihannya. Gue bukan dia. Gue nggak menjalani apa yang dia jalani. Gue nggak tahu semua hal yang terjadi di balik keputusan-keputusannya.
Kalaupun ada hal yang dulu nggak gue setujui, itu bukan berarti gue berhenti menyayanginya.
Lha, wong gue bisa marah-marah sambil tetap peduli.
Memangnya cinta seorang teman harus selalu berbentuk persetujuan?
Kadang gue bisa ngomel karena takut dia salah jalan. Kadang gue bisa kesal karena merasa dia terlalu keras pada dirinya sendiri.
Tapi semua itu nggak pernah berarti gue ingin dia gagal.
Justru gue ingin dia berhasil menemukan kebahagiaannya.
Dan sekarang, ketika dia sudah menemukannya, gue ikut senang.
Cuma, ya itu tadi.
Kenapa gue malah dijauhi?
Ada kalanya gue berpikir mungkin dia malu. Mungkin dia takut gue kecewa. Mungkin dia mengingat omelan gue yang dulu dan merasa gue nggak akan bisa menerima keputusannya.
Atau mungkin ada alasan lain yang bahkan nggak pernah terlintas dalam pikiran gue.
Gue nggak tahu.
Gue nggak mau sok tahu tentang isi kepala orang lain.
Tapi seandainya dia memang takut gue akan menghakimi, rasanya gue ingin bilang bahwa dia salah satu orang terakhir yang ingin gue hakimi.
Gue mungkin akan ngomel.
Pasti malah.
Gue mungkin akan bilang, “TUH KAN, BETINA! DULU GUE BILANG APA?!”
Tapi setelah itu, ya sudah.
Gue juga mungkin akan bertanya apakah dia sehat, apakah anaknya baik-baik saja, apakah dia bahagia.
Sebab buat gue, dia bukan sekadar seseorang yang pernah membuat keputusan yang nggak gue setujui.
Dia teman yang sudah gue kenal sejak masih ingusan.
Teman yang dulu memanggil gue Teteh, lalu menggantinya dengan Emak.
Teman yang pernah membuat gue ikut pusing memikirkan masalah-masalahnya, seolah-olah gue punya kewajiban tidak tertulis untuk memastikan hidupnya baik-baik saja.
Dan mungkin, tanpa gue sadari, gue pernah menganggap diri gue punya tempat yang cukup istimewa dalam hidupnya.
Ternyata, tempat itu bisa berubah.
Atau mungkin memang nggak pernah sama besarnya seperti yang gue kira.
Agak menyebalkan kalau dipikir-pikir.
Tapi ya mau bagaimana lagi?
Orang bisa tumbuh ke arah yang berbeda. Ada yang tetap berjalan berdampingan, ada yang makin lama makin jauh, bahkan tanpa pernah benar-benar bertengkar.
Dan nggak semua orang akan memberi kita penjelasan sebelum pergi.
Sekarang, gue nggak lagi mencari tahu.
Gue nggak menghubunginya. Nggak menanyakan kabarnya lewat orang lain. Nggak berusaha memaksa masuk ke kehidupan yang sepertinya sudah dia atur tanpa gue di dalamnya.
Bukan karena gue membencinya.
Gue cuma nggak tahu harus berbuat apa lagi.
Kalau dia bahagia, gue ikut bahagia.
Kalau keluarganya menyayanginya, gue ikut bersyukur.
Kalau anak perempuannya tumbuh sehat dan baik-baik saja, semoga begitu seterusnya.
Gue sungguh berharap begitu.
Dan kalau suatu hari nanti kami bertemu lagi, ya mungkin gue akan menyapanya seperti biasa.
Atau mungkin gue akan langsung ngomel.
“HEH, BETINA! KAMANA WEH?!”
Setelah itu, entahlah.
Mungkin kami akan tertawa seperti dulu. Mungkin akan terasa canggung. Mungkin juga kami sudah menjadi dua orang yang terlalu berbeda untuk kembali sedekat sebelumnya.
Gue nggak tahu.
Gue juga nggak mau sibuk menebak-nebak.
Biar waktu yang mengurus sisanya.
Toh, gue nggak pernah menganggap dia musuh.
Gue cuma kecewa karena seseorang yang dulu begitu dekat bisa menjauh tanpa memberi gue kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Dan meskipun gue masih suka ngomel kalau mengingatnya, gue nggak pernah berharap kebahagiaannya berkurang sedikit pun.
Aneh, ya?
Bisa kesal sama orangnya, tapi tetap senang melihat hidupnya baik-baik saja.
Bisa merasa kehilangan, tapi nggak ingin menariknya kembali secara paksa.
Bisa merindukan kedekatan yang dulu, sambil menerima bahwa sekarang kami mungkin memang sudah nggak seperti dulu.
Ya sudah.
Gue juga punya hidup yang harus dijalani.
Kalau suatu hari dia datang lagi, pintu pertemanan itu mungkin masih bisa diketuk.
Kapan?
Mana gue tahu.
Gue bukan dukun.
Yang jelas, kalau dia tiba-tiba muncul sambil memanggil, “Mak…”
Gue mungkin akan menjawab dengan muka datar:
“APE?!”
Padahal dalam hati, gue lega.
Dasar betina.
Dari belalang sembah sampai jadi gajah, masih aja bikin Emak emosi.
Tapi sudahlah.
Yang penting sekarang dia bahagia.
Sisanya, biar Allah yang tahu.
No comments:
Post a Comment