Ada orang yang datang sebentar, tetapi entah kenapa bisa meninggalkan cerita sepanjang itu di kepala.
Bukan karena hubungan kami pernah berlangsung lama. Bukan juga karena kami pernah punya status yang bisa dibanggakan. Justru sebaliknya, kami bahkan belum sempat menjadi apa-apa.
Tapi, ya ampun, kenapa rasanya bisa seramai itu?
Gue masih ingat pertama kali melihatnya.
Waktu itu ada pertandingan futsal di kampus. Gue tidak sedang mencari siapa-siapa. Tidak ada niat berburu gebetan, apalagi sengaja datang untuk melihat seorang laki-laki beraksi sambil berharap semesta mempertemukan pandangan kami.
Nggak. Gue cuma ada di sana.
Lalu, di antara keramaian itu, mata gue menangkap sosok laki-laki berkaus oranye dengan nomor punggung lima.
Tinggi. Putih. Ganteng.
Sudah, tiga kata itu dulu saja. Jangan paksa gue bersikap objektif. HAHAHAHA.
Tapi bukan cuma soal tampang. Ada sesuatu dari caranya membawa diri yang membuat gue memperhatikannya. Dia terlihat tenang, pintar, dan punya cara berpikir yang berbeda. Bukan tipe orang yang sekadar ikut arus. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat gue penasaran.
Dan begitulah awalnya.
Dari sebuah pertandingan futsal, dari kaus oranye bernomor lima, dari seorang laki-laki yang saat itu bahkan belum punya peran apa-apa dalam hidup gue.
Gue tidak tahu kalau suatu hari nanti, sosok itu bakal membuat gue mengalami salah satu perasaan paling gemas sekaligus paling menyebalkan dalam hidup: jatuh cinta, tetapi tidak pernah benar-benar sampai.
Entah siapa yang lebih dulu menyadari keberadaan siapa.
Yang gue tahu, ternyata bukan gue seorang yang saling memperhatikan.
Ada teman yang kemudian memperkenalkan kami. Dari situ, yang tadinya cuma sebatas tahu wajah, perlahan berubah menjadi saling mengenal. Mulai bertukar pesan. Mulai ngobrol. Mulai ada saja hal yang bisa dijadikan alasan untuk melanjutkan percakapan.
Awalnya biasa saja.
Setidaknya, gue berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya biasa saja.
Sampai akhirnya, kok, jadi sering ngobrol?
Kok, jadi menunggu pesan?
Kok, kalau dia muncul, ada saja yang berubah dari suasana hati?
Kok, kalau namanya muncul di layar, mata gue bisa lebih cepat bereaksi daripada logika?
EH, BENTAR. INI KENAPA, SIH?
Kedekatan kami memang singkat, tetapi padat. Tidak perlu waktu terlalu lama untuk membuat kehadirannya terasa berbeda. Kami makin dekat, makin nyaman, sampai orang-orang di fakultas pun tahu kalau kami saling menyukai.
Iya, saling menyukai.
Bagian ini penting, Saudara-Saudara. Karena ternyata, pada masa itu, perasaan gue bukan cuma bertepuk sebelah tangan. Setidaknya, dari apa yang gue tahu dan rasakan, ada sesuatu yang berbalas.
Dan justru di situlah masalahnya dimulai.
Sebab ternyata, mengetahui bahwa seseorang menyukai kita tidak otomatis membuat kita tahu harus berbuat apa.
Apalagi kalau orang itu adalah laki-laki yang bisa membuat kita senyum-senyum sendiri hanya karena percakapan sederhana, tetapi sekaligus membuat kita ingin menjauh setiap kali semuanya terasa terlalu nyata.
Dia itu tipe laki-laki yang kalau sudah punya kemauan, kelihatannya tidak suka berputar-putar terlalu lama.
Sementara gue?
Gue bisa memikirkan satu hal dari tujuh sudut pandang, membuat tiga kemungkinan buruk, lalu memikirkan kemungkinan keempat yang bahkan belum tentu terjadi.
Kami berbeda.
Dia terlihat mantap melangkah, sedangkan gue masih ingin mengenal lebih jauh. Gue ingin tahu bagaimana dirinya sebenarnya. Bagaimana cara dia menghadapi masalah, bagaimana dia memperlakukan orang lain, bagaimana rasanya mengenal seseorang bukan cuma ketika semuanya menyenangkan.
Buat gue, rasa suka itu boleh tumbuh cepat, tetapi keputusan tetap harus dipikirkan baik-baik.
Dan gue memang berpikir begitu.
Meski, ya, tentu saja, berpikir jernih itu jauh lebih mudah dilakukan kalau jantung tidak sedang berisik setiap kali berhadapan dengannya.
Ada satu hal tentang dia yang masih gue ingat: caranya menjemput gue pulang.
Kami punya arah pulang yang berbeda. Seharusnya, setelah kegiatan kampus selesai, masing-masing tinggal pulang ke rumah sendiri. Sederhana. Tidak perlu membuat urusan menjadi rumit.
Tapi laki-laki ini punya pemikiran lain.
Dia menunggu gue di halte.
Lalu mengajak pulang bareng.
Gue sempat menolak. Bukan dengan kasar, bukan juga karena tidak mau melihatnya. Gue menolak dengan halus, seperti orang yang masih berusaha menjaga batas dan tidak mau gegabah hanya karena sedang menyukai seseorang.
Tapi dia terus membujuk.
Dan akhirnya?
Gue mau juga.
Karena dipaksa, katanya.
HAH! KATANYA DIPAKSA, TAPI KOK MAU? HAHAHAHA.
Sudahlah. Tidak usah membongkar aib sendiri terlalu jauh.
Yang jelas, sepanjang perjalanan pulang, kami berbincang banyak hal. Obrolan mengalir begitu saja. Tidak terasa seperti dua orang yang sedang kehabisan bahan pembicaraan. Selalu ada yang bisa dibahas, selalu ada tanggapan, selalu ada celah untuk melanjutkan cerita.
Gue tidak ingat semua percakapan kami. Mungkin memang tidak semua hal perlu diingat kata demi kata. Kadang, yang menetap justru perasaan ketika menjalaninya.
Perasaan ditemani seseorang yang kehadirannya diam-diam sudah ditunggu.
Perasaan ingin terlihat biasa saja, padahal di dalam hati sedang ada konser besar-besaran.
Dan perasaan menyebalkan ketika kita tahu kita menyukai seseorang, tetapi masih ingin berpura-pura bahwa semuanya terkendali.
Sementara dia? Entahlah. Dia terlihat santai saja. Bisa ngobrol panjang, bisa bercanda, bisa meledek dirinya sendiri, seolah tidak ada yang istimewa dari perjalanan itu.
Padahal gue di situ berusaha mengatur isi kepala sendiri.
MAS, BISA NGGAK, SIH, JANGAN TERLALU NYAMAN? GUE JADI SUSAH BERSIKAP BIASA AJA, TAU! 😭
Tapi tentu saja, kalimat itu cuma berani gue ucapkan di dalam kepala.
Dan perjalanan pulang itu bukan akhir dari cerita.
Sebab setelahnya, kami malah ngebaso.
Iya. NGE-BASO.
Romansa dua manusia kere. Habis jalan bareng, ujung-ujungnya bakso. Tidak ada makan malam mahal, tidak ada restoran dengan lampu temaram, tidak ada adegan laki-laki menarik kursi untuk perempuan seperti di film-film.
Cuma kami, semangkuk bakso, dan obrolan yang entah bagaimana bisa membuat waktu berjalan lebih cepat.
Tapi justru itu yang membuatnya terasa nyata.
Kadang gue berpikir, mungkin cinta pertama atau rasa suka yang membekas memang tidak selalu membutuhkan sesuatu yang luar biasa. Tidak perlu hadiah mahal. Tidak harus ada kejutan besar. Tidak perlu kalimat puitis yang membuat orang terdiam.
Cukup seseorang yang bersedia menunggu di halte, mengajak pulang bersama meski arah rumah berbeda, menemani perjalanan dengan obrolan panjang, lalu berakhir makan bakso.
Sederhana sekali.
Tapi kalau orangnya tepat, hal sesederhana itu bisa membuat hati bertingkah seperti orang kehilangan akal.
Dan sialnya, waktu itu, gue menikmati semuanya.
Ada sisi lain darinya yang juga tidak bisa gue lupakan.
Dia pintar, punya pemikiran sendiri, dan bisa sangat menyenangkan ketika diajak berbicara. Dia juga suka meledek dirinya sendiri. Kadang celetukannya bikin gue ingin tertawa, kadang bikin gue ingin menggeleng-gelengkan kepala.
Tetapi mulutnya juga bisa tajam.
Ya, dia tidak sempurna. Gue pun tidak sedang membangun patung untuk mengenangnya. Dia manusia biasa, dengan segala sifat yang bisa membuat orang tertarik sekaligus jengkel.
Mungkin justru karena itu dia terasa nyata.
Bukan tokoh laki-laki sempurna yang diciptakan untuk menjadi pemeran utama dalam kisah cinta seorang perempuan. Dia punya sisi yang menyenangkan, sisi yang menyebalkan, dan sisi yang sampai sekarang mungkin masih tidak sepenuhnya gue pahami.
Namun, pada masa itu, gue suka.
Dan rasa suka itu tidak perlu gue bantah hanya karena akhirnya kami tidak bersama.
Sampai tibalah malam itu.
Malam ketika dia datang ke rumah gue saat hujan.
Kalau dipikir-pikir sekarang, keberaniannya itu memang sesuatu. Dia tidak sekadar melempar kode lewat pesan, tidak cuma membuat kalimat ambigu untuk menunggu gue menerjemahkan maksudnya. Dia datang dan memilih untuk berbicara langsung.
Ada perasaan yang ingin dia sampaikan.
Ada jawaban yang ingin dia dapatkan.
Dan gue tahu, malam itu, semuanya tidak bisa terus dibiarkan menggantung.
Dia menyatakan perasaannya.
Sementara gue berdiri di hadapan kenyataan yang selama ini mungkin sudah gue sadari, tetapi belum benar-benar siap gue putuskan.
Gue suka dia.
Itu tidak bohong.
Gue senang dekat dengannya. Gue menikmati percakapan kami. Gue bisa deg-degan karena hal-hal kecil yang dia lakukan. Gue juga tidak keberatan ketika dia mencari cara untuk menghabiskan waktu bersama gue.
Tapi apakah itu berarti gue harus langsung menerima perasaannya malam itu juga?
Bagi gue, tidak.
Gue ingin mengenalnya lebih lama. Gue ingin memastikan bahwa rasa suka ini bukan sekadar perasaan menyenangkan yang muncul karena kami sedang dekat. Gue ingin punya waktu untuk memahami siapa dia sebenarnya sebelum memutuskan sesuatu yang lebih serius.
Jadi gue menolaknya dengan halus.
Bukan karena gue tidak suka.
Bukan karena gue ingin mempermainkannya.
Dan bukan pula karena gue tidak menghargai keberaniannya datang untuk mengungkapkan perasaan.
Gue hanya belum bisa memberikan jawaban yang dia harapkan.
Buat gue, itu keputusan yang masuk akal. Gue mencoba berpikir jernih, menimbang semuanya dengan kepala dingin, dan menyampaikan apa yang benar-benar gue rasakan saat itu.
Walaupun, tentu saja, kepala dingin dan jantung yang berdebar-debar adalah dua hal yang bisa terjadi bersamaan.
Gue masih bisa berpikir dengan baik, tetapi bukan berarti gue tidak gugup.
Gue masih bisa menolak, tetapi bukan berarti gue tidak punya rasa.
Dan gue masih bisa memilih untuk tidak menerima seseorang, meskipun sebagian dari diri gue sebenarnya ingin terus berada di dekatnya.
Rumit? Banget.
Namanya juga manusia.
Sayangnya, sepertinya kami memandang kedekatan itu dengan cara yang berbeda.
Dia menginginkan kejelasan. Kalau memang iya, ya iya. Kalau tidak, ya tidak. Dia tidak ingin terus berada dalam hubungan yang tidak jelas arahnya.
Dan gue bisa memahami itu.
Dia berhak mendapatkan jawaban yang tegas. Gue pun berhak membutuhkan waktu sebelum memberikan jawaban.
Tidak ada yang sepenuhnya salah dalam hal itu.
Hanya saja, kadang dua orang bisa saling menyukai, tetapi tetap tidak berada di halaman yang sama.
Dan malam itu, tanpa kami sadari, mungkin menjadi awal dari jarak yang perlahan tumbuh di antara kami.
Setelah malam itu, dia tidak lagi hadir seperti sebelumnya.
Katanya, kami tetap bisa berteman seperti biasa.
Biasa.
Satu kata yang ternyata gampang sekali diucapkan, tetapi susah sekali dilakukan.
Karena bagaimana caranya bersikap biasa kepada seseorang yang sebelumnya membuat kita salah tingkah hanya karena dia ada di dekat kita?
Bagaimana caranya kembali santai setelah kita tahu dia pernah datang jauh-jauh untuk mengungkapkan perasaannya?
Bagaimana caranya menatap wajahnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa, padahal ada satu malam yang masih tersimpan rapi di ingatan?
Gue tidak bisa.
Setiap kali bertemu dengannya, wajah gue terasa panas. Jantung mendadak tidak tahu aturan. Mata gue memilih mencari arah lain, seolah-olah dengan tidak menatapnya, gue bisa menyembunyikan seluruh perasaan yang sedang berantakan.
Padahal, ya, orangnya juga belum tentu sedang memperhatikan gue.
MALU SENDIRI ITU MEMANG BAKAT, YA. 😭
Yang lebih menyebalkan, gue masih suka mencari tahu tentang dirinya dari jauh.
Melihat media sosialnya. Memperhatikan kabarnya. Sesekali mencari tahu apa yang sedang terjadi dalam hidupnya.
Gue tidak mendatanginya. Tidak meminta dia kembali dekat. Tidak mengatakan bahwa gue mungkin merindukan sesuatu yang justru gue biarkan pergi.
Gue cuma melihat dari kejauhan.
Dan ternyata, menjaga jarak secara fisik tidak selalu berarti kita sudah selesai secara perasaan.
Kadang kita bisa tidak berbicara dengan seseorang selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan lebih lama, tetapi tetap penasaran apakah dia baik-baik saja.
Kadang kita bisa terlihat biasa di depan orang lain, tetapi diam-diam masih mengingat percakapan yang sudah lama berlalu.
Dan kadang kita sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya kita tunggu.
Mungkin bukan dia datang kembali.
Mungkin cuma ingin tahu apakah sesuatu yang pernah terasa begitu dekat juga meninggalkan bekas di hatinya.
Gue tidak pernah benar-benar tahu.
Sampai sekarang pun tidak.
Lingkaran pertemanan kami masih bersinggungan. Ada masa ketika kami berada di lingkungan yang sama, bertemu di tempat yang sama, atau berada di sekitar orang-orang yang sama.
Tetapi setelah semuanya berubah, ada kecanggungan yang tidak mudah dijelaskan.
Kadang salah satu dari kami memilih pergi lebih dulu. Kadang pertemuan terasa terlalu canggung untuk diteruskan. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada adegan saling menyalahkan. Tidak ada drama yang membuat orang-orang harus memilih pihak.
Hanya dua orang yang pernah dekat, lalu perlahan kehilangan cara untuk bersikap seperti dahulu.
Sampai akhirnya, gue sendiri menjauh dari lingkaran itu.
Bukan karena gue membencinya.
Bukan karena gue ingin membuatnya merasa bersalah.
Mungkin gue hanya tidak tahu bagaimana caranya tetap berada di tempat yang sama ketika perasaan gue sendiri belum selesai dibereskan.
Ada masa ketika gue menangis karena merindukannya.
Iya, gue pernah merindukan laki-laki yang gue tolak sendiri.
Kalau dipikir sekarang, bagian ini memang agak bikin pengin menjitak diri sendiri.
LAH, KAN LO YANG NOLAK, TERUS KENAPA SEKARANG MALAH NANGIS? 😭
Tapi perasaan tidak selalu berjalan serapi logika.
Gue menolaknya karena gue merasa belum siap memberikan jawaban yang dia inginkan. Namun, setelah dia benar-benar menjauh, gue baru merasakan kehilangan atas sesuatu yang selama ini gue nikmati.
Gue merindukan obrolan kami.
Gue merindukan caranya hadir.
Gue merindukan kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin bagi dia tidak seistimewa itu, tetapi bagi gue pernah menjadi bagian menyenangkan dari hari-hari di kampus.
Dan yang paling menyebalkan, gue tidak punya keberanian untuk mengatakan semua itu kepadanya.
Gue hanya bisa menyimpannya sendiri.
Mungkin dia tidak tahu.
Mungkin dia pernah menduga.
Mungkin juga dia sudah selesai dengan semuanya ketika gue masih berusaha memahami perasaan sendiri.
Gue tidak tahu.
Karena setelah itu, kami tidak pernah benar-benar duduk bersama untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi di antara kami.
Tidak ada percakapan panjang untuk menjelaskan semuanya.
Tidak ada kesempatan untuk membandingkan apa yang dia rasakan dengan apa yang gue rasakan.
Yang tersisa hanya ingatan, dugaan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban.
Kadang gue bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dia rasakan waktu itu?
Apakah dia juga pernah memikirkan gue setelah semuanya berubah?
Apakah perjalanan pulang, obrolan panjang, dan semangkuk bakso itu pernah terlintas lagi di kepalanya?
Apakah dia pernah merasa kehilangan?
Atau jangan-jangan, buat dia, semuanya memang sudah selesai sejak gue memberikan jawaban malam itu?
Gue tidak akan pernah tahu pasti.
Dan sekarang, gue juga tidak merasa perlu memaksakan jawaban.
Karena hidup terus berjalan. Kami tumbuh, menjalani kehidupan masing-masing, mengenal orang-orang baru, dan melewati banyak hal yang tidak lagi saling kami ketahui secara langsung.
Waktu melakukan pekerjaannya dengan diam-diam.
Perasaan yang dulu terasa besar perlahan mengecil. Rasa penasaran yang dulu muncul sesekali akhirnya tidak lagi mendesak. Nama yang dulu bisa membuat hati bereaksi, pada akhirnya menjadi nama seseorang yang pernah gue kenal.
Kami masih terhubung di beberapa media sosial. Sesekali bisa saja melihat kabar masing-masing.
Tahu bahwa kami masih ada.
Tahu bahwa kehidupan terus berjalan.
Tetapi kami tidak lagi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan satu sama lain.
Bahkan ketika bertemu, kami bisa melewati satu sama lain tanpa percakapan, tanpa senyum, tanpa sapaan yang berarti.
Dua orang yang dahulu bisa berbincang panjang sepanjang perjalanan pulang, sekarang bahkan tidak tahu harus mengatakan apa ketika berpapasan.
Aneh, ya?
Dulu, ada banyak sekali hal yang bisa kami bicarakan.
Sekarang, bahkan kata hai pun tidak selalu sampai.
Yang menarik, setelah bertahun-tahun berlalu, gue menyadari satu hal.
Gue tidak merindukannya seperti dulu.
Gue tidak sedang menunggu dia kembali. Tidak berharap tiba-tiba ada pesan masuk yang mengubah semuanya. Tidak membayangkan kami akan mengulang kisah yang sama dengan akhir yang berbeda.
Kalau sekarang dia datang dan mengajak gue mengulang semuanya, gue bahkan tidak tahu apakah gue akan menginginkannya.
Mungkin tidak.
Karena kami bukan lagi dua orang yang sama seperti dulu. Banyak hal sudah berubah. Kami sudah menjalani hidup masing-masing, dan gue tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dahulu kami benar-benar bersama.
Mungkin akan menyenangkan.
Mungkin juga akan berakhir dengan cara yang sama sekali berbeda dari apa yang pernah gue bayangkan.
Gue tidak tahu, dan gue tidak perlu tahu.
Yang gue rindukan ternyata bukan orangnya.
Gue merindukan perasaan itu.
Perasaan ketika menyukai seseorang bisa membuat hal-hal sederhana terasa istimewa. Perasaan ketika sebuah perjalanan pulang menjadi sesuatu yang ingin diingat. Perasaan ketika makan bakso bersama seseorang bisa menjadi bagian dari cerita yang bertahan bertahun-tahun.
Gue merindukan versi diri gue yang dulu: yang bisa gugup hanya karena bertemu seseorang, yang berusaha terlihat biasa saja padahal hatinya berisik, yang bisa tertawa karena hal-hal kecil, dan yang diam-diam menyimpan begitu banyak rasa tanpa tahu harus meletakkannya di mana.
Bukan berarti gue ingin kembali ke masa itu.
Gue hanya sesekali ingin mengingatnya.
Sebab ternyata, ada kenangan yang tidak harus ingin kita ulang untuk bisa kita sayangi.
Mungkin memang begitulah kisah kami.
Kedekatan yang singkat, tetapi padat.
Seseorang yang datang, membuat gue jatuh cinta, lalu boom—menghilang dari keseharian gue sebelum semuanya sempat tumbuh menjadi sesuatu yang lebih jelas.
Tidak ada hubungan yang bisa kami kenang sebagai sepasang kekasih.
Tidak ada perpisahan resmi karena memang tidak pernah ada kata kita yang benar-benar disepakati.
Tidak ada akhir yang dramatis di depan mata orang banyak.
Hanya ada dua manusia yang pernah saling menyukai, tetapi tidak berhasil menemukan waktu dan cara yang tepat untuk melangkah bersama.
Dan mungkin, kisah ini memang selesai sebelum sempat bertumbuh.
Namun, bukan berarti ia tidak meninggalkan jejak.
Ada kaus futsal oranye bernomor lima dalam ingatan gue.
Ada halte tempat dia pernah menunggu.
Ada perjalanan pulang dengan obrolan yang tidak habis-habis.
Ada bakso yang menjadi penutup sederhana dari kebersamaan kami.
Ada satu malam ketika hujan turun dan dia datang untuk menyampaikan perasaannya.
Ada penolakan yang gue berikan dengan pikiran jernih, meskipun jantung gue berdebar seperti orang yang sedang menyembunyikan rahasia besar.
Ada kecanggungan setelahnya.
Ada rindu yang pernah gue tangisi diam-diam.
Dan ada dua orang yang, bertahun-tahun kemudian, bisa saja berpapasan tanpa tahu harus memulai percakapan dari mana.
Lucu, ya.
Dulu, kami pernah menjadi dua orang yang sama-sama ingin mengenal lebih jauh.
Sekarang, kami bahkan tidak lagi tahu banyak tentang satu sama lain.
Tetapi gue tidak menyesal pernah mengenalnya.
Tidak juga menyesal pernah menyukainya.
Sebab tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita harus berakhir menjadi pasangan. Ada yang datang hanya untuk memperkenalkan kita pada perasaan tertentu—perasaan yang mungkin baru pertama kali kita kenal, atau yang tidak pernah lagi kita rasakan dengan cara yang sama.
Dia pernah menjadi salah satu orang yang membuat masa muda gue terasa berbeda.
Dan itu cukup.
Bukan karena kisah kami sempurna.
Justru karena kisah itu penuh dengan hal-hal yang tidak selesai, jawaban yang tidak pernah gue dapatkan, dan kemungkinan yang tidak pernah kami coba.
Kadang, yang paling lama tinggal memang bukan hubungan yang pernah kita jalani.
Melainkan cerita yang bahkan belum sempat menjadi hubungan.
Dan kalau suatu hari gue mengingatnya lagi, mungkin gue akan tersenyum kecil sambil berkata dalam hati:
Gila, ya. Dulu gue pernah segugup itu cuma karena satu laki-laki.
Pulang bareng saja harus pakai drama.
Sudah dekat, saling suka, terus malah begini.
Padahal ujung-ujungnya cuma ngebaso.
HAHAHAHA.
Tapi mungkin justru di situlah manisnya.
Kami tidak pernah benar-benar menjadi apa-apa.
Namun, untuk beberapa waktu yang singkat itu, kami pernah menjadi sesuatu dalam hidup masing-masing.
Setidaknya, gue pernah merasa begitu.
Dan sekarang, biarlah kisah itu tinggal di sana.
Di masa ketika gue masih muda, ketika rasa suka bisa datang tanpa aba-aba, ketika hati bisa berisik karena hal-hal sederhana, dan ketika dua manusia yang sama-sama kere bisa membuat semangkuk bakso terasa seperti bagian penting dari sebuah romansa.
Sebuah kisah yang tidak pernah benar-benar dimulai.
Atau mungkin, justru sebuah kisah yang dimulai dengan indah, tetapi selesai sebelum kami sempat mengetahui akan dibawa ke mana.
Yang jelas, gue pernah ada di sana.
Gue pernah menyukainya.
Dan gue pernah menjadi bagian dari cerita yang, sampai sekarang, masih bisa membuat gue menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum sendiri.
Sebelum kami sempat menjadi apa-apa, ternyata kami sudah lebih dulu menjadi kenangan.
No comments:
Post a Comment