KNOCK KNOCK


Tok. Tok. Tok.

Gue lupa persis tahun berapa kejadian ini terjadi. Yang jelas, waktu itu gue masih sekolah.

Rumah gue baru dibangun. Lingkungan sekitar juga masih sepi banget. Jauh dari suasana sekarang yang sudah banyak bangunan, apalagi di depan rumah gue sekarang sudah berdiri sekolah.

Dulu, di depan rumah masih ada kebun jagung dan singkong. Di belakang dan kanan-kiri rumah juga masih kebun orang. Ada banyak pohon mahoni dan pohon-pohon besar lainnya yang bikin suasana terasa seperti hutan.

Jalannya? Jangan bayangin jalan beraspal mulus seperti sekarang. Dulu cuma jalan setapak berbatu, lebarnya bahkan nggak cukup untuk dua orang berjalan berdampingan.

Rumah tetangga sebenarnya nggak terlalu jauh. Cuma, karena terhalang kebun orang, mau main ke sana saja rasanya malas. Bukan malas biasa, tapi lebih karena takut.

Apalagi kalau sudah lewat Asar.

Gue nggak berani keluar rumah sendirian. Suasananya terlalu sepi, dan bayangan pepohonan yang menjulang tinggi bikin tempat itu terasa berbeda ketika matahari mulai tenggelam.

Pokoknya, buat gue yang masih sekolah waktu itu, lingkungan rumah sendiri saja sudah cukup bikin merinding.

Tapi gue nggak pernah menyangka kalau suatu malam, rumah yang selama ini gue anggap tempat paling aman justru menjadi tempat yang paling menakutkan..

Sampai suatu hari, gue mendengar kabar bahwa tetangga gue itu meninggal dunia. Gue ga tau beliau sakit apa atau kronologi nya kek mana,

Yang bikin kaget, beliau baru diketahui meninggal setelah kondisinya sudah membusuk. Nggak ada yang tahu pasti kapan beliau meninggal.

Padahal, beliau dengan anak dan suaminya.

Waktu itu gue masih sekolah, dan jujur saja, gue takut banget. Bahkan untuk melayat pun gue nggak berani. Ga sopan memang.

Mungkin buat sebagian orang, kejadian itu sudah cukup mengagetkan. Tapi buat gue, yang tinggal di lingkungan sesepi itu, kabar tersebut meninggalkan perasaan yang sulit dijelaskan.

Rumah-rumah masih jarang. Kebun terbentang di mana-mana. Kalau malam, suasana begitu sunyi sampai suara kecil saja bisa terdengar jelas.

Dan malam setelah kejadian itu, gue mengalami sesuatu yang sampai sekarang masih gue ingat.


Malam itu gue berada di rumah bersama mamah, adik, dan keponakan gue yang masih kecil.

Awalnya biasa saja.

Sampai tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar.

Tok. Tok. Tok.

Gue menoleh ke arah jendela.

Mamah juga mendengarnya.

Kami saling pandang, mencoba memastikan apakah suara itu benar-benar berasal dari luar rumah.

Belum sempat ada yang bicara, suara itu terdengar lagi.

Krek ... krek ... krek ...

Kali ini bukan ketukan.

Kedengarannya seperti kuku yang sedang menggaruk-garuk jendela.

Gue langsung merinding.

"Mah, itu suara apa?"

Mamah nggak langsung menjawab.

Kami diam, mendengarkan.

Lalu tiba-tiba ...

DUG! DUG! DUG!

Jendela digedor keras.

Gue kaget. Adik dan keponakan gue juga mulai ketakutan.

Belum selesai kami mencerna apa yang terjadi, suara itu berpindah.

Dari belakang rumah.

Lalu ke bagian samping.

Kemudian terdengar lagi dari depan.

Gue nggak habis pikir.

Jendela rumah kami tinggi. Dan suara itu terdengar jelas, seperti ada seseorang yang sengaja mengetuk, menggaruk, lalu menggedor dari luar.

Bukan cuma sekali.

Bukan cuma di satu jendela.

Suara itu seperti berpindah dari satu sisi rumah ke sisi lainnya.

Seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengelilingi rumah kami.

Gue mulai panik. Mamah berusaha menenangkan kami, tapi suasananya sudah telanjur mencekam.

Kami nggak tahu siapa yang ada di luar.

Kami juga nggak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Lalu, di tengah suara ketukan dan cakaran itu, terdengar suara lain.

Suara yang sampai sekarang masih gue ingat.


Kriiiieeet ... kriiiieeet ... kriiiieeet ...

Suara roda berdecit.

Dari arah depan rumah.

Kedengarannya seperti keranda beroda yang sedang didorong melewati jalan berbatu.

Suara itu terdengar dari depan, bergerak sampai sekitar setengah bagian rumah, lalu seperti berbalik dan melewati jalur yang sama lagi.

Bolak-balik.

Gue dan keluarga gue hanya bisa diam.

Lalu terdengar suara langkah kaki yang ramai.

Seperti banyak orang sedang berjalan bersama-sama.

Gue nggak bisa menjelaskan bagaimana rasanya mendengar suara seperti itu di tengah malam, di lingkungan yang begitu sepi.

Di luar sana hanya ada kebun, pepohonan, dan jalan setapak berbatu.

Nggak ada rumah yang cukup dekat untuk membuat kami merasa aman kalau harus meminta pertolongan.

Mamah sempat bilang bahwa suara itu mirip suara keranda yang didorong.

Dan memang, kami mengingat bahwa keranda yang digunakan waktu itu bukan keranda yang digotong, melainkan keranda beroda yang didorong.

Tapi malam itu, kami sama sekali nggak tahu apa yang sedang terjadi di luar.

Suara roda itu terus terdengar bolak-balik.

Lalu ...

Tiba-tiba semuanya berhenti.

Sunyi.

Gue sempat berpikir mungkin orang-orang itu sudah pergi.

Mungkin semuanya sudah selesai.

Tapi ternyata belum.

DUG! DUG! DUG!

Sekarang suara itu terdengar di pintu depan.

Disusul gedoran di kaca.

Lalu suara cakaran lagi.

Bahkan lemari pun terdengar seperti sedang dicakar.

Gue benar-benar nggak tahan.

Gue marah, nangis, dan ketakutan sekaligus.

Gue nggak tahu harus melakukan apa. Mau keluar, gue takut. Mau diam saja, suara itu terus mengganggu.

Yang bikin gue paling frustrasi, gue nggak tahu siapa yang harus gue lawan.

Akhirnya gue berteriak.

"BERISIK LU!"

Gue teriak sambil menangis.

"LU NGGANGGU! BIKIN ORANG TAKUT! PERGI!! PERGI KALIAN"

Gue nggak peduli lagi.

Gue cuma ingin suara itu berhenti.

Tapi setelah gue berteriak, tetap nggak ada yang menjawab.

Nggak ada suara orang bicara.

Nggak ada yang meminta maaf.

Nggak ada yang menjelaskan siapa mereka.

Hanya suara gedoran dan cakaran yang membuat kami semakin ketakutan.

Sampai akhirnya, entah kenapa, gue melihat ke luar jendela.

Dan saat itulah gue melihatnya.


Di depan rumah, ada seorang perempuan.

Rambutnya panjang sekali, gimbal dan berantakan. Dia mengenakan pakaian putih bersih.

Gue nggak tahu bagaimana menjelaskan apa yang gue lihat malam itu.

Yang gue ingat, sosok itu berada di depan rumah gue.

Dan dia ...

Melayang ke atas.

Gue terpaku.

Rasanya seperti seluruh suara di sekitar gue mendadak menjauh, sementara tubuh gue sendiri nggak bisa bergerak.

Gue cuma melihat sosok itu.

Perempuan berambut panjang gimbal, berbaju putih, yang melayang ke atas di depan rumah gue sendiri.

Gue nggak tahu apa yang sedang gue lihat.

Gue juga nggak tahu apa yang harus gue lakukan.

Yang jelas, saat itu gue ketakutan setengah mati.

Dan ada satu hal yang sampai sekarang masih gue ingat.

Untungnya, dia nggak menoleh.

Iya.

Dia nggak menoleh ke arah jendela tempat gue melihatnya.

Gue langsung menjauh.

Gue nggak ingat lagi bagaimana persisnya gue bergerak setelah itu. Yang gue tahu, gue nggak ingin melihat ke luar jendela lagi.

Malam itu, gue, mamah, adik, dan keponakan gue hanya bisa saling berpelukan.

Kami berkeringat karena ketakutan.

Kami nggak tahu siapa atau apa yang berada di luar rumah.

Kami juga nggak tahu bagaimana menjelaskan suara-suara yang baru saja kami dengar.

Dan gue nggak pernah lupa perasaan malam itu.

Perasaan ketika lo berada di rumah sendiri, tetapi nggak merasa aman.

Ketika lo mendengar sesuatu di luar, tetapi nggak berani mencari tahu.

Ketika lo ingin melawan, tetapi bahkan nggak tahu siapa yang sedang lo hadapi.


Sampai sekarang, gue nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Gue nggak tahu dari mana suara ketukan, cakaran, gedoran, dan roda berdecit itu berasal.

Gue juga nggak bisa memastikan apa yang sebenarnya gue lihat di depan rumah.

Mungkin ada hal-hal yang memang nggak pernah bisa gue jelaskan.

Tapi satu hal yang pasti, pengalaman itu meninggalkan ketakutan yang masih gue ingat sampai sekarang.

Lingkungan rumah gue sekarang sudah berubah.

Kebun-kebun yang dulu mengelilingi rumah sudah banyak berganti menjadi bangunan. Jalanan juga nggak lagi seperti dulu. Di depan rumah sudah ada sekolah, dan suasananya jauh lebih ramai.

Kalau dibandingkan dengan masa kecil gue, tempat itu terasa seperti dunia yang berbeda.

Tapi kadang, ketika gue mengingat rumah lama, jalan setapak berbatu, dan pepohonan mahoni yang berdiri dalam gelap, ingatan tentang malam itu muncul lagi.

Suara roda yang berdecit.

Suara kuku yang menggaruk jendela.

Gedoran keras di pintu.

Dan sosok perempuan berbaju putih yang melayang di depan rumah gue.

Gue nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Gue cuma tahu, malam itu benar-benar membuat gue takut.

Dan sampai sekarang, setiap kali mengingatnya, ada satu hal yang masih terlintas di kepala gue.

Kalau malam itu gue nggak melihat ke luar jendela, apakah gue akan tetap mengingatnya seperti ini?

Entahlah.

Mungkin gue akan tetap mengingat suara-suara itu.

Mungkin gue akan tetap takut.

Tapi setidaknya, gue nggak akan punya bayangan tentang sosok yang gue lihat malam itu.

Sosok yang sampai sekarang masih gue ingat.

Sosok yang nggak pernah gue tahu siapa.

Dan malam itu dimulai dengan suara sederhana.

Tok. Tok. Tok.

Knock knock.

Sampai sekarang, gue masih nggak tahu siapa yang mengetuk.


KNOCK KNOCK KNOCK KNOCK Reviewed by okta's pages on 9:26:00 pm Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.