Belakangan ini, aku seperti sedang diajak melihat kehidupan dari banyak sisi sekaligus.
Dalam waktu yang berdekatan, aku mendengar begitu banyak kabar kehilangan. Ada yang kehilangan ibu, ada yang kehilangan ayah, ada pula yang harus kehilangan anaknya sendiri. Berbagai usia, berbagai cerita, berbagai keadaan, tetapi berujung pada satu hal yang sama: seseorang harus belajar menjalani hari-hari tanpa kehadiran orang yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.
Pagi ini, aku datang ke tiga tempat duka. Tiga keluarga dengan kehilangan yang berbeda. Setelah itu, aku juga menghadiri sebuah acara pernikahan.
Aneh, ya, kehidupan ini.
Di satu tempat, ada keluarga yang sedang berusaha menerima kenyataan bahwa seseorang yang mereka cintai telah pergi. Di tempat lain, ada dua orang yang sedang merayakan awal perjalanan bersama. Ada tangis, ada doa, ada pelukan, ada senyum dan tawa. Semuanya terjadi dalam kehidupan yang sama, bahkan pada hari yang sama.
Rasanya penuh sekali.
Aku pulang dengan kepala yang sesak oleh banyak pikiran. Tentang kehidupan, tentang kematian, tentang waktu yang terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun, dan tentang hal-hal yang sering kali baru terasa berharga setelah kita melihat betapa mudahnya semuanya berubah.
Namun, ada satu kehilangan yang belakangan ini terus tinggal di pikiranku.
Seorang anak perempuan berusia empat tahun.
Usia yang seharusnya masih dipenuhi permainan, cerita-cerita kecil, dan tingkah lucu yang kadang membuat orang tuanya kewalahan. Usia ketika dunia masih begitu sederhana, ketika kebahagiaan mungkin hanya tentang mainan kesayangan, makanan favorit, atau bermain bersama saudara sendiri.
Namun, hidupnya berakhir setelah perjuangan panjang yang tidak pernah seharusnya mudah bagi anak sekecil itu maupun keluarganya.
Aku mendengar cerita tentang bagaimana kondisinya terus menurun, tentang berbagai pengobatan yang dijalani, tentang operasi dan harapan yang masih diusahakan keluarganya. Sampai akhirnya, mereka harus menghadapi kenyataan yang paling menyakitkan.
Aku melihat ayahnya yang terus berbicara, sementara ibunya berkali-kali kehilangan kesadaran dan meracau. Aku tidak tahu persis apa yang sedang berkecamuk di dalam hati mereka. Aku hanya tahu bahwa tidak ada kalimat yang rasanya cukup untuk mewakili kehilangan sebesar itu.
Dan di tengah suasana duka tersebut, ada saudara kembarnya yang masih bermain seperti biasa.
Anak sekecil itu belum tentu memahami apa yang sedang terjadi. Ia belum tentu mengerti mengapa orang-orang dewasa menangis, mengapa rumah dipenuhi pelayat, atau mengapa seseorang yang biasanya ada bersamanya kini tak lagi bisa ditemui.
Pemandangan itu membuatku menangis.
Bukan karena aku mengenal seluruh cerita hidup mereka, melainkan karena ada kesedihan yang tidak membutuhkan banyak penjelasan untuk bisa dirasakan.
Hari itu, aku kembali diingatkan bahwa kehidupan tidak pernah menjanjikan kepada kita berapa lama waktu yang akan kita miliki bersama seseorang.
Kita sering menjalani hari seolah-olah semuanya akan selalu ada. Orang tua akan selalu bisa kita temui. Anak-anak akan selalu tumbuh di depan mata. Pasangan akan selalu pulang. Teman-teman akan selalu bisa diajak berbicara. Dan kesempatan untuk memperbaiki sesuatu akan selalu menunggu sampai kita siap.
Kita terbiasa mengatakan nanti.
Nanti kalau sudah tidak sibuk. Nanti kalau suasana hati sudah lebih baik. Nanti kalau keadaan sudah lebih tenang. Nanti kalau ada waktu luang.
Nanti kita menelepon orang tua. Nanti kita mengunjungi seseorang. Nanti kita meminta maaf. Nanti kita mengungkapkan rasa sayang. Nanti kita memperbaiki sikap yang selama ini mungkin menyakiti orang lain.
Seolah-olah waktu adalah sesuatu yang bisa kita simpan dan gunakan kapan saja kita mau.
Padahal, waktu hanya berjalan. Ia tidak berhenti ketika kita belum siap, tidak kembali ketika kita menyesal, dan tidak selalu memberi kesempatan kedua untuk hal-hal yang kita abaikan hari ini.
Mungkin itulah yang paling menakutkan dari penyesalan.
Bukan sekadar mengingat sesuatu yang pernah salah kita lakukan, melainkan menyadari bahwa ada hal-hal yang sebenarnya bisa kita lakukan dengan lebih baik ketika kesempatan itu masih terbuka.
Ada kata-kata yang seharusnya bisa disampaikan dengan lebih lembut. Ada kemarahan yang seharusnya bisa diredam. Ada orang yang seharusnya bisa kita dengarkan sedikit lebih lama. Ada kebersamaan yang seharusnya tidak kita lewatkan hanya karena merasa masih ada banyak hari untuk mengulanginya.
Lalu, ketika keadaan berubah, kita mulai mengulang semuanya di dalam kepala.
Seandainya dulu aku lebih sabar.
Seandainya waktu itu aku lebih peka.
Seandainya aku tidak mengatakan hal itu.
Seandainya aku punya kesempatan sekali lagi.
Kata seandainya bisa menjadi tempat yang melelahkan untuk ditinggali. Kita terus kembali ke masa lalu, mencoba mengubah sesuatu yang sudah selesai, sementara kehidupan di depan mata tetap berjalan.
Aku tahu, tidak semua penyesalan bisa dihindari. Kita manusia biasa yang tidak selalu tahu keputusan mana yang kelak akan kita sesali. Kita juga tidak selalu memahami keadaan seseorang, tidak selalu menyadari bahwa suatu pertemuan mungkin menjadi salah satu kesempatan terakhir untuk berbagi cerita.
Namun, mungkin kita masih bisa belajar untuk tidak terlalu sering menunda kebaikan yang sebenarnya mampu kita lakukan hari ini.
Bukan berarti kita harus selalu sempurna. Bukan pula berarti kita harus memenuhi semua keinginan orang lain atau terus mengalah sampai kehilangan diri sendiri.
Melainkan belajar membedakan mana yang memang perlu diperjuangkan, mana yang perlu diperbaiki, dan mana yang sebaiknya tidak lagi kita tunda hanya karena gengsi, ego, atau merasa masih punya banyak waktu.
Sebab hidup bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Hidup juga tentang keberanian untuk menyadari kesalahan, meminta maaf ketika perlu, mengubah sikap, dan mencoba melakukan sesuatu dengan lebih baik daripada sebelumnya.
Aku pun sedang belajar tentang itu.
Tentang menjadi seseorang yang lebih sabar. Tentang mengendalikan emosi. Tentang tidak membiarkan kesibukan membuatku lupa memperhatikan orang-orang terdekat. Tentang memahami bahwa niat menyayangi saja tidak selalu cukup jika tidak disertai cara memperlakukan yang baik.
Ada kalanya kita begitu sibuk menjalani kehidupan sampai lupa bahwa orang-orang yang kita cintai bukan hanya membutuhkan kehadiran kita secara fisik. Mereka juga membutuhkan perhatian, rasa aman, dan kesempatan untuk didengarkan.
Terutama anak-anak.
Mereka tumbuh setiap hari, bahkan ketika kita tidak sempat menyadarinya. Suara mereka berubah, cara berpikir mereka berkembang, dan hal-hal kecil yang hari ini mereka lakukan suatu saat akan menjadi bagian dari kenangan masa kecil mereka.
Mereka mungkin tidak akan mengingat setiap hal yang kita berikan. Tidak semua mainan, pakaian, atau hadiah akan tinggal lama di ingatan mereka. Namun, aku berharap mereka kelak juga mengingat bagaimana rasanya berada di dekat orang-orang yang menyayangi mereka.
Bagaimana rasanya didengarkan ketika bercerita. Bagaimana rasanya dipeluk setelah menangis. Bagaimana rasanya tetap diterima ketika melakukan kesalahan, sambil perlahan belajar memperbaikinya.
Aku ingin terus belajar memberikan hal-hal itu kepada anak-anakku.
Bukan karena aku takut suatu hari nanti kehilangan mereka, melainkan karena aku menyadari bahwa masa kecil mereka sedang berlangsung sekarang. Aku tidak ingin terlalu sibuk mencemaskan hari esok sampai lupa menikmati hari ini.
Aku ingin mereka sehat dan bahagia. Aku ingin melakukan yang terbaik untuk mereka. Aku ingin belajar mengenali kebutuhan mereka, menjaga mereka sebisaku, dan memperbaiki diriku ketika aku menyadari ada sesuatu yang perlu diubah.
Namun, aku juga harus belajar menerima bahwa aku tidak bisa mengendalikan segala sesuatu.
Aku bisa berusaha menjaga, tetapi aku tidak bisa menjanjikan bahwa kehidupan akan selalu berjalan sesuai keinginanku. Aku bisa berhati-hati, tetapi aku tidak bisa mengetahui seluruh hal yang akan terjadi. Aku bisa mencintai seseorang dengan sepenuh hati, tetapi aku tidak bisa menentukan berapa lama kebersamaan itu akan berlangsung.
Menyadari hal tersebut bukan berarti menyerah pada ketakutan. Justru aku ingin belajar meletakkan ketakutan pada tempatnya.
Sebab aku tidak ingin menghabiskan waktu yang masih kumiliki dengan terus-menerus membayangkan kehilangan yang belum tentu terjadi. Aku tidak ingin rasa takut membuatku lupa bersyukur atas hal-hal yang masih bisa kunikmati.
Aku ingin bisa memeluk anak-anakku tanpa dihantui pikiran buruk. Aku ingin bisa tertawa bersama mereka tanpa merasa harus selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Aku ingin menyayangi mereka dengan sepenuh hati, sambil tetap memberi diriku sendiri ruang untuk bernapas dan menikmati kehidupan.
Bukankah bersyukur juga berarti menyadari bahwa hari ini masih ada hal-hal yang bisa kita nikmati?
Masih ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan. Masih ada waktu untuk belajar menjadi lebih baik. Masih ada orang-orang yang bisa kita temui, makanan yang bisa kita nikmati bersama, percakapan sederhana yang bisa membuat kita tertawa, dan rumah yang mungkin terasa berisik tetapi menyimpan begitu banyak kehidupan di dalamnya.
Hal-hal yang terlihat biasa itu ternyata tidak selalu sesederhana yang kita kira.
Kadang, kita terlalu sibuk menginginkan kehidupan yang lebih baik sampai lupa menghargai kehidupan yang sedang kita jalani. Kita mengejar banyak hal, memikirkan begitu banyak kemungkinan, dan menunggu keadaan menjadi sempurna sebelum mengizinkan diri sendiri merasa bahagia.
Padahal, mungkin kebahagiaan tidak selalu menunggu sesuatu yang besar.
Mungkin ia ada pada kesempatan untuk pulang, duduk bersama keluarga, mendengar cerita yang sama untuk kesekian kalinya, atau menemani anak-anak melakukan sesuatu yang menurut kita sepele tetapi begitu berarti bagi mereka.
Dan mungkin, suatu hari nanti, hal-hal sederhana itulah yang paling ingin kita ulangi.
Sayangnya, kita tidak selalu menyadari nilai sebuah momen ketika sedang menjalaninya.
Kita baru merindukan suara seseorang ketika rumah terasa terlalu sepi. Kita baru merindukan kebiasaan-kebiasaan kecil ketika tidak lagi bisa menemukannya. Kita baru memahami betapa berharganya kebersamaan ketika keadaan memaksa kita menerima bahwa tidak semua orang bisa tinggal selamanya.
Karena itulah aku ingin belajar menghargai keberadaan sebelum dihadapkan pada ketiadaan.
Mengucapkan terima kasih sebelum semuanya terasa terlambat. Meminta maaf sebelum jarak semakin jauh. Menunjukkan kasih sayang sebelum orang lain harus menebak-nebak apakah mereka berarti bagi kita.
Dan jika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang baik, semoga aku tidak selalu menundanya.
Aku tahu, tidak semua hal akan berjalan sesuai harapan. Akan ada hari-hari ketika aku kembali gagal, kembali marah, kembali melakukan kesalahan, dan kembali berharap bisa mengulang waktu.
Aku tidak ingin menjadikan tulisan ini sebagai janji bahwa setelah hari ini aku akan menjadi seseorang yang sepenuhnya berbeda.
Aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa aku masih punya kesempatan untuk belajar.
Bahwa kesalahan kemarin tidak harus terus menentukan siapa diriku hari ini. Bahwa penyesalan seharusnya bisa membawaku pada perubahan, bukan membuatku selamanya terjebak dalam hukuman terhadap diri sendiri.
Aku bisa mengakui bahwa ada hal-hal yang dahulu seharusnya kulakukan dengan lebih baik, tanpa harus membenci diriku yang dulu. Saat itu, aku juga manusia yang sedang belajar dengan pemahaman, keadaan, dan kemampuan yang kumiliki.
Yang bisa kulakukan sekarang adalah mengambil pelajarannya, memperbaiki apa yang masih mungkin diperbaiki, dan berusaha agar hari esok tidak hanya menjadi pengulangan dari kesalahan yang sama.
Sebab waktu yang sudah lewat memang tidak bisa kembali, tetapi waktu yang masih ada tetap bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih baik.
Mungkin kita memang tidak pernah benar-benar siap menghadapi kehilangan. Mungkin kita juga tidak akan pernah memiliki cukup waktu untuk melakukan semua hal yang ingin kita lakukan.
Namun, selama hari ini masih menjadi bagian dari kehidupan kita, masih ada kesempatan untuk memilih.
Memilih bersikap lebih lembut. Memilih mendengarkan. Memilih memperbaiki diri. Memilih bersyukur. Memilih berhenti sejenak dari kesibukan untuk menyadari siapa saja yang masih berjalan bersama kita.
Dan memilih untuk tidak membiarkan ketakutan akan hari esok merampas kebahagiaan yang masih bisa kita rasakan hari ini.
Belakangan ini, aku memang lebih sering memikirkan kehilangan. Tentang orang-orang yang pergi, keluarga yang ditinggalkan, dan kehidupan yang bisa berubah dalam waktu yang tidak pernah kita ketahui.
Tetapi aku tidak ingin semua itu hanya meninggalkan rasa takut di dalam diriku.
Aku ingin belajar menjadi lebih sadar bahwa hidup adalah kesempatan yang sedang berlangsung. Bahwa setiap hari yang kita miliki bukan jaminan bahwa kita akan mendapatkan hari yang sama lagi, melainkan kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yang berarti.
Untuk mereka yang masih bisa kita peluk, semoga kita tidak terlalu sibuk hingga lupa menunjukkan rasa sayang.
Untuk mereka yang pernah kita sakiti, semoga kita diberi keberanian untuk meminta maaf dan memperbaiki diri.
Untuk kesempatan yang masih terbuka, semoga kita tidak terus-menerus menunggu waktu yang terasa sempurna.
Dan untuk hal-hal yang tidak lagi bisa kita ubah, semoga kita belajar menerima tanpa harus selamanya menyalahkan diri sendiri.
Pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar tahu kapan sebuah pertemuan akan menjadi kenangan, kapan sebuah kesempatan akan menjadi yang terakhir, atau kapan sesuatu yang kita anggap biasa akan menjadi hal yang paling kita rindukan.
Kita hanya menjalani hari demi hari, dengan segala rencana, harapan, kesalahan, dan ketidaktahuan tentang apa yang menanti di depan.
Maka, sebelum semuanya menjadi penyesalan, semoga kita belajar lebih menghargai.
Bukan dengan hidup dalam ketakutan bahwa segala sesuatu bisa hilang kapan saja, melainkan dengan kesadaran bahwa apa yang masih ada hari ini layak mendapatkan perhatian dan kasih sayang kita.
Sebab kita tidak bisa meminta waktu untuk kembali. Kita tidak selalu bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk kedua kalinya. Dan kita tidak bisa menjamin bahwa semua orang yang kita cintai akan selalu berada di sisi kita.
Tetapi hari ini, selama masih ada waktu, kita masih bisa melakukan sesuatu.
Kita masih bisa memperbaiki. Kita masih bisa menyayangi. Kita masih bisa bersyukur.
Dan semoga, ketika suatu hari nanti kita menoleh ke belakang, kita tidak hanya menemukan sederet hal yang kita sesali, tetapi juga kenangan tentang bagaimana kita pernah berusaha mencintai, memperbaiki diri, dan menghargai kehidupan sebaik yang kita mampu.
Sebab pada akhirnya, bukan hanya kehilangan yang perlu kita persiapkan untuk diterima. Kehidupan yang masih kita miliki pun perlu kita pelajari cara menghargainya.
Reviewed by okta's pages
on
8:56:00 pm
Rating:

No comments:
Post a Comment